Rabu, 06 Juli 2022

Teori Konflik Karl Marx

Teori konflik muncul sebagai reaksi atas teori fungsionalisme struktural yang kurang memperhatikan fenomena konflik di dalam masyarakat. Namun demikian, teori ini mempunyai akar dalam karya Karl Marx di dalam teori sosiologi klasik dan dikembangkan oleh beberapa pemikir sosial yang berasal dari masa-masa kemudian. Sebelum membahas tokoh-tokoh di balik teori konflik terlebih dahulu kita akan menguraikan tentang apa itu teori konflik.

Teori konflik adalah satu perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem sosial yang tediri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda di mana komponen yang satu berusaha untuk menaklukkan komponen yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh kepentingan sebesar-besarnya.

Pada dasarnya pandangan teori konflik tentang masyarakat sebetulnya tidak banyak berbeda dari pandangan teori fungsionalisme struktural karena keduanya sama-sama memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian. Perbedaan antara keduanya terletak dalam asumsi mereka yang berbeda-beda tentang elemen-elemen pembentuk masyarakat itu. Menurut teori fungsionalisme struktural, elemen-elemen itu fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa berjalan secara normal. Sedangkan bagi teori konflik, elemen-elemen itu mempunyai kepentingan yang berbeda-beda sehingga mereka berjuang untuk saling mengalahkan satu sama lain guna memperoleh kepentingan sebesar-besarnya.

Guna memahami itu secara lebih baik, kita melihat kembali contoh yang telah dipakai untuk menjelaskan teori fungsionalisme struktural yakni bisnis penerbangan di bandara udara. Seturut teori fungsionalisme struktural, elemen-elemen itu berfungsi dengan baik sehingga keseluruhan bisa berfungsi secara normal. Sebaliknya, teori konflik berminat untuk mencari tahu persaingan di atara elemen atau komponen yang berbeda beda itu seperti pihak manajemen dan karyawan supaya masing-masing memperoleh kepentingan yang besar. Bisa saja pilot mendesak manajemen untuk tidak menerima karyawan baru agar bayarannya tetap tinggi; atau petugas menara menuntut peralatan baru yang memudahkan pekerjaan mereka; atau petugas porter, kebersihan, atau mekanik dengan tuntutan mereka masing-masing. Semua mereka tentu menghendaki kenaikan upah sedangkan sebaliknya pihak pimpinan menghendaki agar mereka memperoleh keuntungan. Perbedaan kepentingan itu akan menimbulkan konflik.


TEORI KONFLIK KARL MARX

Hakekat Kenyataan Sosial

Menurut Karl Marx, hakekat kenyataan sosial adalah konflik. Konflik adalah satu kenyataan sosial yang bisa ditemukan di mana-mana. Bagi Marx, konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk memperebutkan aset-aset yang bernilai. Jenis dari konflik sosial ini bisa bermacam-macam yakni konflik antara individu, konflik antara kelompok, dan bahkan konflik antara bangsa. Tetapi bentuk konflik yang paling menonjol menurut Marx adalah konflik yang disebabkan oleh cara produksi barang-barang material.


Cara Produksi Barang-Barang Material

Bagaimana Marx menjelaskan bahwa cara produksi (mode of production) barang-barang material bisa menyebabkan konflik sosial? Menurut Marx, dalam proses produksi barang-barang material, ada dua kelompok yang terlibat. Pertama adalah kelompok kapitalis. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai modal (capital) dan menguasai sarana-sarana produksi. Kekhasan kelomppok ini ialah bahwa jumlah mereka sedikit dan mereka menjual hasil-hasil produksi dengan harga-harga yang jauh lebih besar dari pada biaya produksi sehingga mereka mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Kedua adalah kaum proletariat atau kelompok pekerja yang jumlahnya jauh lebih banyak dari kelompok pertama. Mereka ini menyerahkan tenaganya untuk menjalankan alat-alat produksi dan sebagai imbalannya mereka mendapatkan upah dan bukannya barang yang mereka hasilkan.


Konflik dan Alienasi 

Proses produksi yang demikian menyebabkan dua hal. Pertama, kaum proletariat mengalami alienasi dalam empat bidang, yakni alienasi dari pekerjaannya karena mereka diperlakukan sebagai bagian alat produksi yang bersifat mekanik, alienasi dari hasil pekerjaannya karena mereka tidak mendapatkan apa yang mereka hasilkan melainkan upah, alienasi dari pekerja lainnya karena mereka terasing dan bersaing dengan pekerja lain, dan alienasi dari kemampuan mereka karena terasing dari kemampuan yang manusiawi mereka dan tunduk kepada mesin. Kedua, kaum kapitalis dan kaum proletariat terlibat dalam konflik tak terelakkan. Alasannya ialah karena guna mendapat keuntungan sebesar-besarnya, para kapitalis berusaha menekan upah buruh serendah-rendahnya. Di pihak lain, guna mendapat keuntungan besar, para pekerja juga berusaha untuk mendapatkan upah setinggi-tingginya. Oleh karena keuntungan dan upah berasal dari sumber yang sama maka konflik menjadi tidak terhindarkan. Menurut Marx, konflik ini tidak akan berakhir kecuali kalau ada perubahan dalam sistem produksi yang sebetulnya bisa dibuat.


Materialisme Marx

Pandangan Marx ini sering kali disebut juga materialisme. Artinya, cara produksi barang-barang mempengaruhi masyarakat khususnya institusi-intisusi lain di dalam masyarakat yang menganggap ekonomi sebagai infrastruktur atau landasan bagi institusi-institusi lainnya seperti politik, hukum, pendidikan, media, dan lain-lain. Hubungan antara ekonomi sebagai infra-struktur dan institusi-institusi lain sebagai supra-struktur adalah sebagai berikut:

Pertama, institusi-institusi supra-struktur berdiri sendiri dalam arti sistem ekonomi tidak terlalu mendominasi institusi-institusi itu. Dalam hal ini, sama seperti dalam fungsionalisme, institusi-institusi itu merupakan komponen komponen yang secara bersama membentuk masyarakat. Setiap institusi berjalan sendiri-sendiri tanpa terlalu banyak dipengaruhi oleh institusi ekonomi. Agama, pendidikan, media, atau keluarga berkembang secara baik tanpa terlalu banyak dipengaruhi oleh ekonomi. Namun dalam analisa terakhir, bagaimanapun, institusi ekonomi tetap mempengaruhi kemajuan institusi-institusi itu. Misalnya, guru membutuhkan beberapa sarana minimal untuk terlaksananya pendidikan.

Kedua, institusi ekonomi sebagai infra-struktur sangat mempengaruhi institusi supra-struktur, seperti agama, hukum, atau politik. Dengan kata lain, sistem ekonomi sangat mempengaruhi bidang-bidang lainnya. Misalnya, undang-undang yang mengisinkan kepemilikan alat-alat produksi sangat dipengaruhi oleh institusi ekonomi untuk mempertahakankan sistem kelas. Dengan demikian institusi hukum atau politik tunduk kepada kepentingan ekonomi. Itulah sebabnya di dalam manifesto komunis Marx mengatakan: "Pemerintah negara modern benar-benar merupakan satu komite yang mengurus kepentingan kaum bourjuis" (Johnson, 1986, jilid 1:134).


Kesadaran Palsu

Menurut Marx, kebanyakan anggota masyarakat kapitalis tidak memandang sistem perundangan sebagai bagian dari sebab konflik yang sedang berlangsung. Hak-hak individu untuk memiliki barang-barang pribadi diterima begitu saja sebagai hal yang wajar (take for granted). Kenyataan ini dapat dilihat dari penilaian mereka yang cenderung mempersalahkan korban (blaming the victim) dalam masalah-masalah sosial. 

Sebagai ilustrasi, masyarakat modem misalnya berpikir bahwa orang-orang yang tinggal dalam di wilayah-wilayah kumuh disebabkan oleh ketidakmampuan mereka untuk membeli atau menyewa rumah yang lebih layak. Menurut mereka itu adalah salah mereka sendiri. Orang lain tidak mungkin membangun rumah untuk orang orang seperti itu, kecuali kalau hal itu akan mendatangkan keuntungan bagi mereka. Demikianpun orang-orang yang tidak punya kerja dianggap karena mereka tidak mempunyai keahlian sehingga ia tidak bisa dipekerjakan. Itu salah mereka sendiri. Menurut Marx, pola pikir seperti ini sangat dipengaruhi oleh paham kapitalisme. Pada hal menurut dia 'kebenaran' argumentasi seperti itu bisa dipertanyakan. Kehidupan di daerah kumuh atau tidak mempunyai pekerjaan tidak semata-mata disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri melainkan karena sistem ekonomi yang menguntungkan para pemilik modal.

Marx menyebut konsep atau pemikiran ini sebagai kesadaran palsu. Kesadaran palsu ini seolah-olah membenarkan anggapan bahwa problem-problem sosial disebabkan oleh kesalahan-kesalahan individual dan bukannya karena struktur ekonomi makro yang menguntungkan kaum pemilik modal. Kebanyakan masyarakat hidup dalam kesadaran palsu ini. Oleh karena itu mereka tidak bisa keluar dari problem-problem sosial yang mereka alami. Tertapi Marx tetap optimis bahwa orang menjadi sadar akan penyebab sebenarnya dari penderitaan mereka.


Revolusi Sebagai Jalan Keluar

Menurut Marx, satu-satunya cara yang ditempuh untuk keluar dari sitem kapitalis yang tidak adil itu ialah dengan melakukan revolusi. Tetapi revolusi itu bisa terjadi kalau ada dua hal. Pertama, kaum proletariat harus menyadari diri sebagai orang-orang yang tertindas. Kesadaran menjadi sangat penting untuk menciptakan perubahan (konsientisasi). Kedua, mereka harus mengelompokkan diri dalam suatu wadah yakni organisasi buruh (ia sendiri pernah bergabung dengan organisasi buruh). Secara individual, buruh sulit memperjuangkan perbaikan nasibnya. Tetapi lewat organisasi mereka bisa memperjuangkan tuntutannya. Marx menyadari betapa sulitnya memperoleh tingkat kesadaran yang diinginkannya. Tetapi pada suatu waktu, dengan penyebaran informasi yang terus-menerus (propaganda), mereka akan menyadari bahwa merekalah yang menentukan masa depan mereka sendiri.


Sumber : Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher. Hlmn : 71-77.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar