Herbert Spencer kerap disamakan dengan Auguste Comte dalam hal mengangkat popularitas sosiologi pada masa awal, khususnya di kawasan Eropa. Jika Comte menandai kelahiran sosiologi di Prancis maka Spencer melakukan hal yang sama di tempat kelahirannya, yaitu Inggris. Kedua tokoh itu memberi pengaruh yang akan dirasakan di seluruh dunia seiring perkembangan ilmu sosiologi itu sendiri.
Gagasan utama Spencer dapat dipahami dengan membandingkannya dengan teori Comte. Kedua tokoh ini sering disamakan dalam hal pengaruh mereka terhadap perkembangan sosiologi awal. Namun demikian, kedua tokoh ini juga memiliki perbedaan dalam hal pemikiran. Jika Comte menekankan reformasi sosial dan evolusi masyarakat sebagai sarana menuju masyarakat yang semakin baik, Spencer tidak sepakat dengan hal itu. la justru amat menganjurkan teori laissez-faire, yaitu sebuah konsep di mana negara tidak boleh mencampuri urusan pribadi, kecuali dalam hal yang agak pasif berupa perlindungan terhadap rakyat.
Dari pemikiran tersebut, tampak jelas bahwa Spencer tidak tertarik terhadap reformasi sosial. la ingin agar kehidupan sosial berkembang dengan sendirinya dan terbebas dari kontrol eksternal. Karena alasan. inilah Herbert Spencer kerap disebut sebagai penganut darwinisme sosial.
Di satu sisi, Spencer yakin dengan teori evolusi bahwa dunia akan berkembang semakin baik, sebagaimana pernyataan Comte. Akan tetapi, ia menolak campur tangan eksternal untuk membantu mempercepat proses evolusi sosial tersebut. Pemikiran itu berbanding terbalik dengan Comte yang mendorong semua upaya eksternal dilakukan demi perbaikan kehidupan sosial. Spencer lebih yakin bahwa masyarakat dan institusi sosial bisa berkembang dengan sendirinya sekaligus beradaptasi terhadap lingkungan.
Masyarakat dan institusi sosial di dalamnya tidak lebih dari organisme seperti binatang dan tumbuhan. Mereka akan selalu menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu, Spencer menganggap proses ini tidak bisa dicampuri oleh siapa pun. Ia menganjurkan untuk membiarkan masyarakat dan kehidupan di dalamnya memperbaiki diri sendiri. Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki masyarakat? Spencer menjawabnya dengan sederhana, yaitu memperbaiki setiap individu.
Profil Singkat
Herbert Spencer lahir di daerah Derbyshire, Midland, Inggris, pada 27 April 1820. Di usianya yang baru 17 tahun, Spencer telah diangkat sebagai insinyur pembangunan jalan kereta api di London. Selanjutnya pada tahun 1848, ia memasuki sebuah dunia baru, yakni menjadi penulis dan redaktur The Economist. Dari sinilah cikal bakal intelektualnya mulai mengental. Herbert Spencer juga pernah bekerja di bidang pemerintahan, salah satunya sebagai mediator. Herbert Spencer meninggal dunia pada usia 83 tahun, tepatnya pada 8 Desember 1903.
Selama hidupnya, Herbert Spencer melahirkan banyak karya ilmiah, di antaranya Social Statics (1850), Principles of Psychology (1855), Principles of Biology (1864 dan 1861), Principles of Sociology (1877), serta Principles of Ethics (1893). Karya pertamanya berjudul Social Statistics diselesaikannya pada usia 30 tahun. Di dalam buku itu, ia membahas filsafat politik serta menyinggung persoalan evolusi sosial. Konsep evolusi sosial diuraikan sebagai serangkaian perubahan sosial di masyarakat yang berlangsung lama, yakni berawal dari kelompok suku atau masyarakat yang masih sederhana dan homogen, lalu secara bertahap berkembang hingga pada akhirnya menjadi masyarakat modern yang kompleks dan heterogen.
Melalui buku itu pula Herbert Spencer memperkenalkan konsep survival of the fittest atau pihak yang kuat pasti akan menang. Spencer mengemukakan konsep itu sembilan tahun sebelum Charles Darwin menerbitkan buku revolusioner berjudul The Origin of Spesies (1859). Selama mengerjakan karyanya tersebut, Spencer menderita insomnia. Gangguan itu terus dirasakannya sampai meninggal dunia.
Adapun karya yang membuatnya diperhitungkan dalam ranah sosiologi klasik adalah Principles of Sociology yang terbit pada tahun 1877. Di dalam buku tersebut, ia menjelaskan materi sosiologi secara detail dan sistematis, khususnya objek kajian seperti keluarga, politik, agama, pengendalian sosial, serta industri. Selain itu, Spencer mendorong para sosiolog agar memperhatikan asosiasi, masyarakat setempat, pembagian kerja, lapisan sosial, ilmu pengetahuan, serta penelitian terhadap ke senian dan keindahan.
Pada tahun 1853, Herbert Spencer menerima sejumlah warisan dari orang tuanya. Kondisi tersebut ia manfaatkan untuk berhenti dari pekerjaannya guna menghabiskan sisa hidupnya sebagai ilmuwan terhormat, la memang tidak pernah memperoleh ijazah universitas atau menduduki posisi akademik. Namun, sejalan dengan kehidupannya yang semakin terisolasi dan terasing setelah melepas pekerjaannya, semangat intelektual Spencer semakin menjadi-jadi.
Salah satu ciri khas Spencer adalah keengganannya membaca buku atau hasil karya orang lain. la lebih banyak menghabiskan waktu dengan menuliskan pikirannya sendiri. Oleh karena itu, sangat wajar apabila Spencer dikritik karena kerap kurang teliti ketika membahas suatu persoalan. Selain malas membaca yang dianggap hanya akan merusak pemikirannya sendiri, la juga kerap tidak komprehensif dalam melakukan penelitian (Ritzer & Goodman, 2008: 36).
Pengabaian Spencer terhadap aturan keilmuan membawanya ke serangkaian gagasan yang sarat kebencian dan pernyataan yang tidak berdasar tentang evolusi dunia. Oleh karena itu, para sosiolog di abad ke 20 mulai bersikap kritis. Mereka tidak ragu mencampakkan karya Spencer dan menggantinya dengan ilmuwan lain yang mengkaji sosiologi dengan lebih saksama.
Teori Evolusi Sosial
Menurut Spencer, masyarakat adalah sebuah organisme. Dalam pandangan ini, Spencer meminjam istilah dari ilmu biologi. Ia memberikan perhatian pada keseluruhan struktur masyarakat, yakni hubungan saling keterkaitan antara bagian-bagian masyarakat. Ia menyoroti fungsi bagian bagian tersebut, baik terhadap satu sama lain maupun sistem secara keseluruhan. Dalam pandangannya, masyarakat tidak ubahnya seperti tubuh manusia, di mana satu bagian terhubung dengan organ yang lain.
Evolusi sendiri adalah rangkaian perubahan kecil, perlahan, serta bersifat kumulatif yang terjadi dengan sendirinya dan memerlukan waktu lama. Evolusi dalam masyarakat adalah serentetan perubahan yang terjadi karena usaha-usaha untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan, keadaan, serta kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Perubahan ini tidak harus sejalan dengan rentetan peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan (Soekanto, 1990: 485).
Spencer sependapat dengan pandangan Comte tentang teori evolusi. Baginya, evolusi adalah konsep dasar dari seluruh proses, baik fisik maupun sosial. Namun, ia juga mengkritik Comte mengenai hukum tiga tahapnya. Menurut Spencer, Comte terlalu cepat puas dengan hanya menggunakan evolusi dalam gagasan dan tahap intelektual. Comte dipandang Spencer belum menerapkan evolusi dalam ranah riil (kenyataan sosial).
Spencer membuat sendiri teori evolusi yang didasarkan pada materi yang riil. Spencer mengemukakan dua perspektif teori evolusi masyarakat. Pertama, konsep pertumbuhan masyarakat yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah penduduk. Kedua, evolusi dari masyarakat militan (sederhana) menuju masyarakat industri.
Perspektif pertama terutama berkaitan dengan peningkatan ukuran (size) masyarakat. Dalam konsep ini, masyarakat tumbuh melalui pertambahan jumlah individu dan penyatuan kelompok-kelompok Peningkatan ukuran menyebabkan struktur masyarakat semakin luas beragam. Hal ini sekaligus menyebabkan terjadinya peningkatan diferensiasi (keberagaman) fungsi yang dilakukan masyarakat. Selain pertumbuhan ukuran, masyarakat berubah melalui penggabungan, yakni penyatuan kelompok-kelompok yang berdampingan. Dengan demikian, Spencer berbicara tentang gerak evolusioner dari masyarakat sederhana ke penggabungan ganda dan triple.
Spencer juga menawarkan evolusi dari masyarakat militan menuju masyarakat industri. Sebelumnya, struktur militan dianggap hanya berorientasi pada peperangan dalam rangka bertahan dan menyerang. Kendati Spencer bersikap kritis terhadap perang, la merasa bahwa pada tahap awal perang sebenarnya berfungsi menyatukan masyarakat, misalnya melalui penaklukan militer. Selain itu, perang juga menyediakan lebih banyak orang yang diperlukan bagi perkembangan masyarakat industri.
Sejalan dengan kemunculan masyarakat industri, perang semakin tidak fungsional dan justru menghambat evolusi lebih lanjut. Hal ini disebabkan masyarakat industri didasarkan pada prinsip persahabatan, altruisme, spesialisasi kompleks, pengakuan atas prestasi daripada karakteristik yang dibawa sejak lahir, serta kerja sukarela dan disiplin antarindividu. Masyarakat industri dipersatukan oleh hubungan yang bersifat kontraktual, sukarela, dan yang lebih penting lagi kuatnya kesamaan moralitas. Peran pemerintah dibatasi dan difokuskan pada hal hal yang tidak boleh dilakukan orang biasa, misalnya penegakan hukum.
Jadi, masyarakat industri modern kurang menyukal perang bila dibandingkan dengan masyarakat militan para pendahulunya. Meskipun Spencer melihat adanya evolusi umum yang bergerak ke arah masyarakat industri, la mengakui bahwa mungkin akan terjadi regresi periodik yang mengarah pada peperangan dan masyarakat militan. Artinya, sekalipun masyarakat terus berevolusi menuju masyarakat industri, hal itu bukan Jaminan bahwa perang tidak akan terjadi.
Giddings (1890) merangkum inti sari pemikiran Spencer yang kompleks seperti dijelaskan berikut ini.
1. Masyarakat adalah organisme atau superorganis yang hidup secara berpencar.
2. Terdapat suatu kekuatan yang menyeimbangkan antara satu kelompok sosial dengan kelompok lain.
3. Keseimbangan itu adalah perjuangan untuk terbebas dari kesulitan dan keadaan yang buruk demi menjaga eksistensi mereka di antara warga masyarakat. Oleh karena itu, konflik di antara masyarakat dalam rangka mempertahankan eksistensi ini merupakan hal yang lazim.
4. Di dalam perjuangan ini kemudian timbul rasa takut dalam hidup bersama serta menghadapi kematian. Perasaan takut mati merupakan pangkal kontrol oleh agama.
5. Kebiasaan konflik kemudian diorganisasi dan dipimpin oleh kontrol politik dan kekuasaan menjadi militerisme. Pada umumnya, militerisme membentuk sifat dan tingkah laku serta membentuk organisasi sosial dalam peperangan.
6. Militerisme menggabungkan kelompok-kelompok sosial yang kecil menjadi lebih besar. Kelompok-kelompok tersebut memerlukan integrasi sosial. Proses semacam ini memperluas medan integrasi sosial yang biasanya ditandai semangat perdamaian antarsesama serta sikap gotong royong.
7. Kebiasaan berdamai dan rasa gotong royong membentuk sifat, tingkah laku, serta organisasi sosial yang suka pada hidup tenteram dan penuh rasa setia kawan.
8. Dalam masyarakat yang hidup damai, kekuatannya akan berkurang. tetapi rasa spontanitas serta inisiatif semakin bertambah. Organisasi sosial menjadi semacam bungkus sedangkan anggota masyarakat dapat secara leluasa berpindah tempat. Mereka mengubah hubungan sosial tanpa merusak kohesi yang ada.
9. Semangat kerja keras bergantung pada luasnya tenaga antara suatu kelompok masyarakat dengan komunitas tetangganya; antara ras dalam suatu masyarakat dengan ras lain; serta antara masyarakat pada umumnya dengan lingkungan. Akhirnya, semangat kerja keras yang disertai dengan penuh rasa perdamaian tidak dapat dicapai sampai keseimbangan bangsa-bangsa serta ras-ras yang ada tercapai terlebih dahulu.
9. Di dalam masyarakat, seperti pada kelompok masyarakat tertentu, luasnya perbedaan serta jumlah kompleksitas segenap proses evolusi bergantung pada nilai proses integrasi. Semakin lambat nilai integrasinya maka kian lengkap dan memuaskan jalan evolusi itu (Haryanto, 1987: 12).
Spencer menjelaskan bahwa objek pokok studi sosiologi adalah agama, keluarga, politik, pengendalian sosial, serta industri. Spencer juga mengkaji masalah asosiasi masyarakat setempat, pembagian kerja, lapisan sosial, sosiologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan, serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan.
Spencer mengingatkan bahwa studi sosiologi juga mesti menjelaskan hubungan timbal balik antara unsur-unsur di dalam masyarakat yang tetap dan harmonis serta merupakan suatu integrasi. Sebagai contoh, pengaruh norma-norma tersebut terhadap kehidupan keluarga serta hubungan antara institusi politik dengan lembaga keagamaan. Oleh karena itu, Spencer mengajukan pendapat bahwa sosiologi adalah psikologi yang dipraktikkan serta berwujud etika dan peradaban yang terdapat dalam masyarakat (Haryanto, 1987: 12).
Jika Comte menganggap penting peranan masyarakat dan faktor di luar masyarakat seperti pemerintahan, Spencer justru sebaliknya. Ia lebih mementingkan individu dalam masyarakat dan meremehkan peran di luar itu semua. Bagi Spencer, individu adalah unit terkecil yang sangat menentukan terhadap maju tidaknya suatu masyarakat.
Jadi, sosiologi menurut Spencer adalah studi tentang tingkah laku, sikap, dan pemikiran individu yang terwujud dalam tindakan kolektif, alih-alih mempelajari masyarakat secara keseluruhan. Setiap pribadi mempunyai kedudukan dominan dalam struktur masyarakat. Spencer menekankan bahwa pribadi merupakan dasar dari struktur sosial, meskipun masyarakat dapat dianalisis pada tingkat struktural. Struktur sosial suatu masyarakat dibangun dengan tujuan memungkinkan anggotanya memenuhi berbagai keperluan. Oleh karena itu, banyak ahli memandang Spencer bersifat individualis.
Dalam tulisannya soal politik dan etika, Spencer menawarkan gagasan-gagasan lain tentang evolusi masyarakat. la beralasan masyarakat sedang bergerak menuju suatu keadaan moral yang ideal dan sempurna Sedangkan alasan lainnya adalah ia menganggap masyarakat terkuat yang dapat bertahan. Adapun masyarakat yang kalah dalam seleksi akan sirna dengan sendirinya.
Hasil dari proses ini adalah perbaikan kemampuan adaptasi dunia secara keseluruhan. Dengan kata lain, dunia hanya akan diisi oleh mereka yang memiliki kemampuan lebih daripada pihak lain. Melalui cara ini pula dunia ini akan terus berevolusi menuju kemajuan. Di masa lalu, suatu masyarakat yang mampu membaca dan menulis sudah dianggap unggul, Namun, di masa kini dan yang akan datang, kemampuan baca tulis tidak ada artinya dibanding mereka yang ahli dalam berbagai bidang kehidupan.
Spencer menawarkan rangkaian gagasan yang begitu kompleks tentang revolusi masyarakat. Akan tetapi, tidak satu pun dari gagasan itu yang didasarkan pada fakta lapangan atau penelitian langsung. Hal ini dapat dimaklumi karena-sebagaimana Comte-iklim intelektualnya masih dipengaruhi oleh filsafat. Pada awalnya, gagasan Spencer memang terbilang sukses. Namun, seiring berjalannya waktu, lambat laun gagasan nya mulai diabaikan.
Sebagaimana ilmuwan zaman klasik lainnya, pemikiran Spencer tidak hanya fokus pada sosiologi semata. Ia juga menekuni beberapa bidang lain, terutama politik, agama, dan filsafat. Namun demikian, Herbert Spencer tetap layak disebut sebagai salah satu perintis studi sosiologi, khususnya di Inggris. Bahkan, ia disebut-sebut sebagai tokoh pendiri sosiologi kedua setelah Auguste Comte. Salah satu karyanya, Principles of Sociology (1877) merupakan buku pertama yang menjadikan kata sociology sebagai judul.
Sumber:
Arisandi, Herman. 2015. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD. Hlmn: 35-42.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar