Selasa, 05 Juli 2022

Auguste Comte : Bapak Sosiologi

Latar Belakang Pemikiran Auguste Comte




Perkembangan sosiologi telah dimulai sejak Ibnu Khaldun menerbitkan karya berjudul Muqaddimah. Namun, perkembangan yang sebenarnya dari studi sosiologi di Eropa baru terjadi sejak tiga pemikir asal Prancis mulai memopulerkan gagasan-gagasannya. Tiga orang yang dianggap sebagai pelopor sosiologi awal adalah Claude Henri Saint-Simon (1760-1825), Auguste Comte (1798-1857), serta Emile Durkheim (1852 1917).

Dua tokoh yang disebut terakhir, yakni Auguste Comte dan Emile Durkheim merupakan tokoh terpenting dalam perkembangan studi sosiologi awal. Namun demikian, kontribusi Claude Henri Saint-Simon juga tidak kalah penting karena ia merupakan mentor sekaligus guru dari Auguste Comte yang kelak dijuluki sebagai bapak sosiologi. Selain menjadi guru dan mentor dari Auguste Comte, Saint-Simon adalah tokoh yang terkenal mengampanyekan penggunaan metode-metode ilmiah dalam studi kemasyarakatan. Dengan kata lain, dialah sosok yang memberi inspirasi bagi Comte untuk mengembangkan studi mengenai masyarakat secara ilmiah.

Saint-Simon adalah sedikit ilmuwan sosial yang percaya bahwa untuk mengetahui dan memperbaiki masyarakat, penggunaan ilmu pengetahuan adalah cara yang sangat mungkin. Dalam konteks ini, masyarakat ditempatkan tidak ubahnya seperti fenomena alam. Untuk mengetahuinya diperlukan hukum-hukum positivisme sebagaimana biasa digunakan dalam menyingkap fenomena alam. Gagasan Saint-Simon tentang masyarakat banyak ditemukan dalam karya Auguste Comte. Hanya saja, gagasan itu dikembangkan oleh Comte secara lebih sistematis.

Claude Henri Saint-Simon adalah seorang anak bangsawan Prancis. Saat masih berusia muda, dia ikut serta dalam perang kemerdekaan Amerika Serikat. Selanjutnya, momentum Revolusi Prancis membuka kesempatan baginya untuk menjadi kaya dengan menjadi spekulan tanah. Sejak saat itu, ia mulai menulis banyak hal tentang bagaimana masyarakat harus ditata. Melalui kekayaan yang dimilikinya, Saint-Simon mulai mempekerjakan beberapa orang, di antaranya adalah Augustin Thierry dan Auguste Comte. Mereka menerbitkan jurnal L'Industrie, yang terbit pertama kali pada tahun 1814.

Menurut Franz Magnis Suseno (1999), sekalipun tulisan-tulisannya kurang sistematis serta sulit ditangkap konsistensinya, tetapi ada tiga keyakinan Saint-Simon yang dipertahankannya secara kuat. Hal itu pula yang membuat namanya diperhitungkan dalam literatur sosiologi klasik. Tiga keyakinan tersebut diuraikan seperti berikut.

Pertama, sikapnya yang mendewakan ilmu pengetahuan untuk menata masyarakat. Maksud mendewakan di sini bermakna masyarakat mesti menggunakan ilmu secara positivistik untuk memperbaiki dirinya sendiri. Pandangan ini memberi pengaruh langsung kepada murid sekaligus stafnya, Auguste Comte sehingga kelak melahirkan studi sosiologi.

Kedua, penekanan terhadap industri dan kegiatan produksi sebagai dasar dari terbentuknya masyarakat yang sehat dan tertata. Ketiga, keyakinan bahwa sejarah selalu merupakan hubungan antarkelas. Keyakinannya ini kelak dikerangkai secara lebih sistematis oleh Karl Marx (Suseno, 1999: 20-22).

Tiga keyakinan Saint-Simon tersebut, terutama penggunaan ilmu secara positivistik berpengaruh besar terhadap pemikiran Auguste Comte. Sebagai mantan sekretaris pribadi Saint-Simon yang sangat dekat dengannya, Comte secara langsung menerima pengaruh dari mentor sekaligus majikannya tersebut. Sebagai murid, ia berhasil menyerap ide ide dan semangat Saint-Simon dalam usaha mengembangkan konsep ilmu kemasyarakatan awal. Kelak, dari Comte lah lahir istilah sosiologi.


Kehidupan Pribadi Auguste Comte
Auguste Comte lahir di Montpellier, sebuah kota kecil di barat daya Prancis, pada 19 Februari 1798. Orang tuanya berasal dari kelas menengah dan akhirnya sang ayah meraih posisi sebagai petugas resmi pengumpul pajak. Setelah menempuh studi hingga tingkat menengah, ia melanjutkan pendidikannya di Ecole Polytechnique di Paris. Pada masa itu, Ecole Polytechnique terkenal dengan kesetiaannya kepada idealisme republikanisme serta filosofi proses. Pada tahun 1816, politeknik tersebut ditutup untuk reorganisasi. Akibatnya, Comte belum sempat mendapatkan gelar sarjana. Corte pun memutuskan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran di Montpellier.

Comte muda melihat sebuah perbedaan mencolok antara agama Katolik yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia terpaksa meninggalkan Paris. Kemudian, pada bulan Agustus 1817 ia menjadi murid sekaligus sekretaris dari Claude Henri Saint-Simon, seorang filsuf yang berusia 40 tahun lebih tua. Comte pun dibawa masuk ke dalam lingkungan intelek. Namun, pada tahun 1824, Comte meninggalkan Saint-Simon karena merasa ada ketidakcocokan dalam hubungan mereka.

Perpisahan itu diawali ketika pada tahun 1824 mereka bertengkar karena Comte yakin Saint-Simon ingin menghapus namanya dari daftar ucapan terima kasih. Comte menuliskan bahwa hubungannya dengan Saint-Simon mengerikan. Bahkan, ia tanpa ragu menggambarkan Saint Simon sebagai penipu hina. Setelah momen tersebut, Saint-Simon dan Comte benar-benar tidak lagi bekerja sama.

Sekalipun pada akhirnya harus berpisah jalan, Comte mengakui besarnya pengaruh Saint-Simon pada dirinya. Dalam hal ini, ia berkata, "Aku benar-benar berutang secara intelektual pada Saint-Simon. la banyak berperan dalam memperkenalkan aku ke wilayah filsafat yang kini aku ciptakan untuk diri sendiri. Tanpa ragu aku akan menjalaninya seumur hidupku."

Helbron (1995) menggambarkan Comte sebagai sosok bertubuh pendek, bermata juling, serta merasa sangat gelisah terhadap situasi sosial di sekitarnya, khususnya ketika menyangkut perempuan. Tidak hanya itu, ia juga terasing dari masyarakatnya secara keseluruhan.

Salah satu perkembangan paling pesat dalam hidup Comte terjadi pada tahun 1826. Saat itu, Comte mengolah satu skema yang akan digunakannya untuk menyampaikan serangkaian 72 kuliah umum yang diselenggarakan di apartemen tempatnya tinggal tentang filsafat. Kuliah mampu menarik peserta dalam jumlah yang luar biasa. Namun, pada pertemuan ketiga kuliah terpaksa dihentikan karena Comte mengalami gangguan jiwa. la terus mengalami masalah mental, bahkan pernah dilaporkan mencoba bunuh diri. Beruntung, upaya nekatnya itu gagal.

Meskipun tidak memperoleh posisi reguler di Ecole Polytechnique, Comte mendapatkan posisi minor sebagai asisten pengajar pada tahun 1832. Lima tahun kemudian, Comte mendapatkan posisi tambahan sebagai penguji tes masuk. Berkat posisi ini, untuk pertama kalinya ia mendapatkan penghasilan dalam jumlah yang layak. Selama kurun waktu tersebut, Comte mengerjakan enam jilid karya yang melambungkan namanya, yakni Cours de Philosophie Positive yang semuanya terbit antara tahun 1830 hingga 1842.

Di dalam karya tersebut, Comte menguraikan pandangannya bahwa sosiologi adalah ilmu tertinggi. Ia juga berani menyerang Ecole Polytechnique secara terbuka. Konsekuensinya tentu saja pekerjaannya sebagai asisten tidak diperpanjang. Meskipun begitu, pada tahun 1851, la masih mampu menyelesaikan empat jilid buku Systeme de Politique Positive yang lebih bertujuan praktis, yakni menawarkan rencana reorganisasi masyarakat (Ritzer & Goodman, 2008: 14).

Auguste Comte menikah dengan seorang wanita bernama Caroline Massin. Comte dikenal memiliki kepribadian arogan, kejam, serta mudah marah. Pada tahun 1826, ia dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, ia melarikan diri sebelum dinyatakan sembuh. Untungnya, kondisinya berhasil ditenangkan oleh Massin sehingga ia dapat mengerjakan kembali proyek yang dulu direncanakannya. Sayangnya, ia harus bercerai dengan Massin pada tahun 1842 karena alasan yang kurang jelas. Padahal, sebelum berceral yakni sekitar tahun 1839, la memublikasikan karyanya yang berjudul Le Cours de Philosophie Positivistic. Di dalam buku itulah ia pertama kall memperkenalkan istilah sosiologi.

Sebelumnya, Comte sempat berpikir untuk memberi nama ilmu pengetahuan masyarakat dengan sebutan "fisika sosial". Akan tetapi, beberapa bulan sebelum meluncurkan bukunya, seorang ilmuwan dari Belgia bernama Adolphe Quetelet telah menggunakan nama tersebut untuk menyebut sesuatu yang kini dikenal sebagai demografi. Oleh karena itu, dengan terpaksa Comte mengurungkan niat untuk memberi nama ilmu pengetahuannya "fisika sosial". Sebagai gantinya, Comte memberikan nama "sosiologi", yang dibentuk dari bahasa Latin socius (masyarakat) dan bahasa Yunani logos (ilmu).

Pada tahun 1844, Comte menjalin kasih dengan Clotilde de Vaux dalam hubungan yang tetap sama rumitnya dengan kisah cintanya dengan Massin. Hubungan asmara ini tidak bertahan lama karena Clotilde meninggal dunia. Tak lama setelahnya, Comte yang merasa dirinya adalah penemu sekaligus nabi dari "agama kemanusiaan" (religion of humanity) menerbitkan buku berjudul Systeme de Politique Positive dalam kurun waktu 1851-1854. Sang bapak sosiologi ini akhirnya meninggal di Paris pada 5 September 1857 dan dimakamkan di Cimetiere du Pere Lachaise.

Comte dan Paradigma Fisika Sosial
Auguste Comte adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah sosiologi. Namun, arti penting Comte bagi perkembangan teori sosiologi awal tidak hanya berhenti di situ. Comte juga memelopori penggunaan paradigma positivisme dalam mengkaji masyarakat. la percaya bahwa ilmu sosiologi harus didasarkan pada metode rasional, dapat diukur, dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Paradigma ini amat berpengaruh terhadap para pemikir sesudahnya, terutama Herbert Spencer dan Emile Durkheim-sekalipun mereka juga mengoreksi dan menyempurnakan paradigma Comte. Jika dikaitkan dengan tokoh yang lebih awal, Ibnu Khaldun juga memiliki paradigma yang sama dalam idenya tentang cara menjelaskan fenomena dalam kehidupan sosial.

Untuk melihat pemikiran penting Comte dalam studi sosial, patut dilihat konteks pemikiran Comte yang menjadi latar dari situasi intelektual abad ke-19 di Prancis. Comte hidup di tengah-tengah iklim intelektual di mana sisa-sisa zaman pencerahan masih bertahan di Prancis. Ada dua hal yang dikritisi Comte dari zaman pencerahan, yakni revolusi dan agama.

Khusus hal yang disebut terakhir, agama sudah mulai dilupakan oleh kalangan intelektual dan ilmuwan pada masa itu. Banyak intelektual bermunculan dan menyatakan ateisme secara terbuka di tengah-tengah masyarakat. Rakyat biasa di Eropa pada abad ke-19 tergolong masih taat beragama. Namun, kaum intelektual dan ilmuwan terang-terangan mendukung ateisme.

Lebih dari itu, tidak sedikit ilmuwan Prancis yang terang-terangan menganut paham mekanisme, yakni pandangan bahwa segala sesuatu di dunia ini, mulai dari alam hingga manusia dapat seratus persen dijelaskan menggunakan hukum mekanika. Dengan kata lain, tidak tersedia sedikit pun "ruang kosong" bagi peran Tuhan. Dua filsuf yang secara eksplisit menyangkal adanya Tuhan adalah Lametrie (1709-1751) dan Hollbach (1723-1789). Dalam hal ini, Lamitrie di dalam bukunya yang berjudul L'bomme Machine menerapkan pendekatan mekanis pada manusia (Suseno, 2006: 54).

Berangkat dari iklim intelektual semacam itu, maka lahirlah pemikiran Comte yang dikenal dengan sebutan positivisme atau filsafat positif. Bahkan, Franz Magnis Suseno (2006) menyatakan bahwa selain diakui sebagai bapak sosiologi, Auguste Comte juga pantas mendapat julukan bapak positivisme.

Positivisme Comte diterapkan pada bidang yang selama ini terkenal steril dari penjelasan ilmiah, yakni kehidupan sosial. Comte percaya bahwa masyarakat adalah objek yang tidak jauh berbeda dengan alam. Lingkungan sosial bisa dijelaskan dan direkayasa sebagaimana fenomena alam. Dari sinilah Comte mulai merumuskan sebuah teori baru dalam studinya tentang masyarakat yang semula disebutnya sebagai fisika sosial, tetapi kemudian direvisi menjadi sosiologi.

Penggunaan istilah fisika sosial menunjukkan bahwa Comte berusaha membangun sosiologi dengan mengikuti aturan ilmu-ilmu alam. Ilmu pengetahuan baru ini menurut pandangannya akan menjadi ilmu dominan dengan cara menelaah statistika (struktur sosial atau ilmu sosial statis) serta dinamika sosial (sosial dinamis). Ilmu sosial dinamis dan positif sekaligus juga menjelaskan objek kajian Comte yang amat sederhana di awal-awal kelahiran sosiologi.

Meskipun sosial statis dan sosial dinamis melibatkan pencarian hukum-hukum sosial, ia merasa bahwa dinamika sosial lebih penting daripada struktur sosial. Fokus kajian Comte yang lebih menitikberatkan pada dinamika sosial ini sekaligus mencerminkan minatnya terhadap reformasi sosial, khususnya terhadap sejumlah patologi sosial yang merupakan dampak dari Revolusi Prancis dan zaman pencerahan Eropa.

Sekalipun menitikberatkan pada upaya menjelaskan perubahan atau dinamika sosial, Comte tidak setuju dengan gerakan revolusioner ala Karl Marx sebagai jalan memperbaiki masyarakat. Comte lebih percaya bahwa dinamika masyarakat bisa bergerak ke arah yang lebih baik hanya melalui evolusi, bukan revolusi. Inilah hal yang dikritisi Comte selain agama, yaitu revolusi (Ritzer & Goodman, 2008: 16)

Sikap kritis Comte terhadap revolusi ini lebih lanjut akan melahirkan pemikiran tentang hukum tiga tahap yang terkenal, yakni meliputi teologis, metafisik, serta positivistik. Melalui konsep hukum tiga tahap, secara otomatis Comte adalah orang yang paling getol menentang anggapan bahwa revolusi akan menyelesaikan persoalan dalam masyarakat. la justru meyakini bahwa evolusi alamiah masyarakat yang akan memperbaiki ke adaan.

Hukum Tiga Tahap Comte
Comte yang tidak percaya terhadap teori revolusi, mulai membangun konsep sendiri, yakni hukum tiga tahap. Teori ini menyatakan bahwa ada tiga tahap intelektual yang terjadi di dunia ini dalam sejarahnya. Menurut Comte, bukan hanya alam yang menjalani proses ini, tetapi juga individu, masyarakat, ilmu pengetahuan bahkan pikiran. Bagi Comte, perkembangan menurut tiga zaman ini merupakan suatu hukum yang tetap (Bertens, 1998: 49). Ketiga zaman ini masing-masing dijelaskan dalam uraian berikut ini.

1. Zaman Teologis
Pada zaman teologis, manusia percaya bahwa di balik fenomena alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Menurut Comte, tahapan teologis adalah ciri manusia pada tahun 1300-an. Selama tahapan itu, sistem ide utama menitikberatkan kepercayaan pada kekuatan supranatural serta figur-figur religius berwujud manusia dan lembaga ketuhanan yang menjadi pusat dari segalanya. Secara khusus, dunia sosial dan fisik dipandang sebagal hasil ciptaan Tuhan.

Manusia yang dianggap mempunyai kelebihan khusus pada masa ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia normal. Namun, orang-orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan lebih tinggi daripada manusia biasa. Taraf pemikiran dapat dibagi lagi menjadi 3 tahap, yaitu, animisme, politeisme, serta monoteisme (Hadiwijono, 1980: 34).

Animisme adalah proses yang paling sederhana dalam tahapan teologis, yakni ketika manusia menganggap bahwa segala benda memiliki jiwa. Adapun politeisme adalah proses kedua pada tahapan teologi, yaitu ketika manusia meyakini ada banyak anasir yang memiliki kekuatan luar biasa sekaligus sangat menentukan terciptanya keteraturan dunia. Sementara itu, monoteisme sebagai proses ketiga adalah jenjang yang tertinggi, yaitu ketika manusia mengganti dewa yang bermacam-macam itu dengan satu tokoh tertinggi.

2. Zaman Metafisika
Tahap yang kedua menurut Comte adalah zaman metafisika. Zaman ini berlangsung kira-kira mulai tahun 1300 sampai dengan 1800. Pada zaman metafisika, ide kekuasaan adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak, misalnya "kodrat" dan "penyebab". Artinya, ide-ide abstrak seperti konsep tentang alam-bukan Tuhan yang dipersonalisasikan-diyakini dapat menjelaskan segalanya. Setelah tahun 1800, dunia menurut Comte memasuki tahap terakhir, yakni zaman positif.

3. Zaman Ilmiah atau Positif
Zaman positif (ilmiah) ditandai dengan pengetahuan manusia bahwa tidak ada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik hal-hal teologis maupun metafisika. Zaman positif dicirikan dengan ilmu pengetahuan. Manusia tidak lagi mau menelusuri asal dan tujuan terakhir seluruh alam semesta atau melacak substansi sejati dari segala sesuatu. Orang-orang justru berusaha menemukan hukum-hukum kesamaan dan uraian yang terdapat pada fakta-fakta yang telah dikenal atau disajikan kepadanya. Caranya, yaitu dengan melakukan pengamatan serta menggunakan akal.

Menurut Comte, pada zaman positif, orang-orang cenderung berhenti melakukan pencarian terhadap penyebab mutlak, baik alam maupun Tuhan. Mereka lebih berkonsentrasi pada penelitian terhadap dunia sosial dan fisik dalam upaya menemukan hukum yang mengaturnya (Bertens, 1998: 50).

Dalam teorinya tentang dunia, Comte secara gamblang memfokuskan perhatian pada faktor intelektual. la memang menegaskan bahwa kekacauan intelektual adalah penyebab dari kekacauan sosial. Dalam hal ini, kekacauan yang tumbuh dari sistem ide sebelumnya-yaitu teologis dan metafisis-yang terus ada pada zaman positif atau zaman ilmiah menjadi pemicu terjadinya kekacauan sosial. Baru ketika pandangan positivisme mengambil alih semuanya, keresahan sosial berhenti. Hal ini merupakan proses evolusioner. Jadi, Comte berpendapat tidak perlu mendorong terjadinya gangguan sosial dengan cara revolusi. Meskipun mungkin tidak secepat yang dikehendaki banyak orang, positivisme akan segera datang. Di sinilah gagasan Comte tentang reformasi sosial dan sosiologi bertemu.

Menurut Comte, sosiologi dapat mempercepat hadirnya positivisme dan yang akan membawa keteraturan bagi dunia sosial. Dengan sosiologi, Comte tidak ingin mendorong terjadinya revolusi. Menurut pandangannya, sudah banyak kekacauan yang terjadi di dunia ini akibat revolusi. Pada banyak kasus, hal yang diperlukan adalah perubahan intelektual sehingga hanya ada sedikit alasan untuk melakukan revolusi sosial dan politik.

Kita telah menyinggung beberapa pandangan Auguste Comte yang penting bagi perkembangan sosiologi klasik. Dapat disimpulkan bahwa Comte memilih pendekatan yang konservatif, reformis, ilmiah, positivistik, serta pandangan evolusioner tentang dunia. Beberapa aspek lain dari karyanya juga layak disebutkan karena hal ini juga sangat berperan dalam perkembangan teori sosiologi. Sebagai contoh, pemikiran sosiologi Comte tidak terfokus pada individu, tetapi justru fokus pada entitas yang lebih besar, seperti keluarga sebagai unit dasar analisis. Comte juga menganjurkan untuk melihat struktur dan perubahan sosial.

Hal yang sangat penting bagi teori sosiologi selanjutnya adalah penekanan Comte pada karakter sistematis masyarakat beserta hubungannya dengan berbagai komponen dalam masyarakat. Comte juga mengakui pentingnya membangun konsensus dalam masyarakat. la tidak melihat adanya kelebihan dalam pendapat yang menyatakan bahwa masyarakat selalu diliputi konflik tak terelakkan antara buruh dan kaum kapitalis.

Selain itu, Comte menekankan pentingnya terlibat dalam teorisasi abstrak serta melakukan riset sosial. la menyarankan agar sosiolog menggunakan observasi, eksperimen, serta analisis historis komprehensif. Pada akhirnya, Comte percaya bahwa pada hakikatnya sosiologi akan menjadi kekuatan ilmiah dominan di dunia. Sebab, sosiologi memiliki kemampuan khas menafsirkan hukum sosial serta mengembangkan reformasi yang ditujukan bagi penyelesaian masalah di dalam sistem tersebut.

Dengan mengacu pada berbagai pemikiran tersebut, tidak sulit untuk mengatakan bahwa Auguste Comte adalah tokoh yang menghadirkan sosiologi dalam bentuk positivistik. Bagi Comte, realitas sosial dapat diuji hukum-hukumnya secara bertanggung jawab melalui pengamatan dan penelitian secara saksama. Satu-satunya cara untuk memahami serta mengetahui realitas sosial adalah dengan melakukan pengukuran berdasarkan metode ilmiah. Dalam hal ini, hanya sosiologi yang bisa menjelaskan realitas sosial sebagaimana adanya.

Pandangan bahwa sosiologi harus positivistik telah mendapat banyak pertentangan di sana-sini, khususnya memasuki era kontemporer. Namun demikian, pada awal kelahirannya, Comte meyakini bahwa paradigma sosiologi harus melihat kenyataan sosial sebagai objek yang positivistik.

Comte adalah orang pertama yang meletakkan dasar-dasar penting bagi studi sosiologi. Ia merupakan orang pertama yang mengintroduksi sosiologi sebagai sebuah bidang ilmu baru yang secara khusus membahas dan menjelaskan kehidupan sosial. Comte pula yang membuka lembaran pertama dalam aspek teorisasi ilmu sosiologi klasik. Sekalipun signifikansi Comte bagi studi sosiologi ke depan masih bisa diperdebatkan, tetapi akademisi di zaman kontemporer harus mengakui sumbangsih besar nya bagi kelahiran ilmu sosiologi itu sendiri. Tugas tokoh-tokoh sosiologi selanjutnya adalah menyempurnakan apa yang telah dirintis oleh Comte.

Sumber:
Arisandi, Herman. 2015. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD. Hlmn: 24-34.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar