Georg Simmel adalah teoretikus sosiologi klasik sekaligus rekan sejawat Max Weber dalam mendirikan German Sociological Association (Masyarakat Sosiologi Jerman). Di antara tiga teoretikus sosiologi klasik yang terbesar, yaitu Marx dan Weber, Georg Simmel adalah sosok paling berpengaruh terhadap perkembangan sosiologi di Amerika Serikat yang selanjutnya memengaruhi sosiologi di seluruh dunia.
Pengaruh sosiologi Simmel dimulai dari salah satu universitas yang terkenal sebagai pusat sosiologi Amerika, yaitu Universitas Chicago. Dibanding Marx dan Weber, gagasan Simmel lebih mengakar kuat karena sejumlah tokoh dominan kelahiran mazhab sosiologi Chicago, seperti Albion Small dan Robert Park mendalami teori-teori Simmel di Berlin. Salah satu pemikiran Simmel yang paling berpengaruh adalah interaksionisme simbolik.
Latar Belakang Kehidupan Georg Simmel
Georg Simmel lahir pada 1 Maret 1858 di pusat kota Berlin. la merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Latar belakang keluarganya adalah Yahudi golongan menengah ke atas. Ayahnya meninggal dunia saat Simmel masih muda.
Sebagaimana Durkheim, Weber dan Marx, Simmel adalah teoretikus sosiologi klasik yang menempuh proses akademik. Hal ini penting untuk membantu membedakan mereka dengan Auguste Comte dan Herbert Spencer yang tidak pernah mengecap gelar akademik. Georg Simmel mempelajari berbagai bidang studi di Universitas Berlin. Upaya pertamanya untuk menulis disertasi sempat ditolak. Namun demikian, Simmel bersikukuh dan akhirnya memperoleh gelar doktor dalam bidang filsafat pada tahun 1881.
Simmel bekerja sebagai dosen di almamaternya, yaitu Universitas Berlin mulai tahun 1885 hingga 1900. la menduduki posisi yang sebenarnya kurang penting, yakni privatdozent. Profesi dosen tipe ini tidak digaji oleh negara, melainkan hanya mendapat bayaran dari mahasiswa. Meskipun begitu, Simmel tetap menjalankan pekerjaannya dengan tekun.
Sekalipun mulai meniti karier dari posisi pinggiran di almamaternya, Simmel selalu sukses menjadi pemberi kuliah. Setiap kali menyampaikan materi kuliah, ia begitu terampil dalam hal retorika dan artikulasi gagasan. Gayanya begitu menarik sehingga kalangan masyarakat berpendidikan sekalipun berminat untuk mengikuti kuliahnya.
Pada tahun 1890, Georg Simmel menikahi seorang wanita bernama Gertrud yang merupakan seorang filsuf. Sejak saat itu, ia kemudian aktif menulis dan menghasilkan banyak karya. Produktivitas Simmel dibuktikan dengan ratusan esai dan puluhan buku. Di antara karyanya yang terkenal ialah esai berjudul The Metropolis and Mental Life serta buku The Philosophy of Money. Ia tidak hanya dikenal di kalangan akademisi Jerman. Sebab, ia juga memiliki banyak pengikut di seluruh dunia, khususnya di Amerika Serikat. Di sana, karya-karyanya memiliki arti penting bagi perkembangan ilmu sosiologi.
Pada tahun 1900, Simmel mendapatkan salah satu gelar terhormat di Universitas Berlin. Akan tetapi, hal itu tetap tidak memberikannya status akademis penuh. Simmel mencoba meraih beberapa posisi akademis, tetapi selalu gagal kendati memperoleh dukungan dari ilmuwan terkemuka semacam Max Weber. Salah satu penyebab kegagalan Simmel adalah karena ia memiliki latar belakang Yahudi. Terlebih, kehidupan di Jerman pada abad ke-19 sarat dengan nuansa antisemitisme. Alasan lain adalah jenis-jenis karya yang ditulisnya. Banyak artikelnya yang terbit di surat kabar dan majalah ditujukan untuk kalangan pembaca umum daripada sosiolog akademis.
Akibat tidak memiliki jabatan akademik reguler, Simmel terpaksa mendapatkan penghasilan dengan jalan menyampaikan kuliah umum. Peserta kuliah dan pembaca tulisannya sebagian besar adalah intelektual umum daripada kalangan sosiolog. Hal ini cenderung membawanya pada penilaian bernada ejekan dari rekan-rekan seprofesi.
Akhirnya, pada tahun 1914 Simmel memperoleh pekerjaan akademik reguler di sebuah universitas kecil di Strasbourg. Namun, di sana ia sekali lagi merasa terkucil. la menyesal meninggalkan para pendengarnya, yakni kalangan intelektual di Berlin. Di tempat barunya, ia tidak merasa sebagai bagian dari kehidupan universitas. Bahkan, ia dan istrinya pernah menulis surat kepada istri Max Weber untuk menceritakan kesedihan setelah mereka meninggalkan Berlin (Ritzer & Goodman, 2008: 172).
Perang Dunia 1 meletus beberapa saat setelah Simmel bekerja di Strasbourg. Akibatnya, ruang-ruang kuliah berubah menjadi rumah sakit tentara dan para mahasiswa ikut pergi berperang. Kondisi tersebut membuat Simmel tetap menjadi sosok marginal di kalangan akademisi Jerman.
Di bidang akademik, Georg Simmel memang dapat dikatakan kurang sukses. Salah satu indikatornya ialah ia tidak mendapatkan penghargaan yang tinggi dari almamaternya. Namun demikian, Simmel mampu menarik banyak pengikut akademik pada masa itu. Ketenarannya sebagai sosiolog dan filsuf tumbuh begitu pesat beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Dunia I, khususnya dari kalangan sosiolog Amerika Serikat. Simmel meninggal dunia pada 20 September 1918.
Dyad dan Triad
Georg Simmel menyampaikan pendapatnya bahwa unit terkecil dalam kehidupan manusia yang menjadi ruang lingkup perhatian sosiologi adalah dyad. Dalam hal ini, dyad merupakan kelompok yang terdiri dari dua orang. Sebagai contoh adalah pasangan suami dan istri, dua sahabat karib, dan sebagainya.
Di dalam dyad kemungkinan besar terjalin hubungan erat di antara keduanya. Sebab, masing-masing pihak merasa setara atau memiliki perasaan sama dengan yang lain. Setiap pihak dapat memainkan peranan secara total dan langsung dalam kedudukan dan peran pihak lain. Kualitas tersebut secara intrinsik terdapat dalam setiap dyad. Karena dyad hanya terdiri dari dua pihak, maka tidak mungkin ada yang menjadi penengah. Jadi, Simmel menarik kesimpulan bahwa kedua pihak tersebut memiliki suatu kesatuan perasaan. Dengan demikian, pihak lain-ketiga, keempat, dan seterusnya-tidak mungkin memiliki hubungan suasana yang sama (Soekanto, 2002: 321). Di dalam dyad terdapat dua kemungkinan, yaitu hubungan semakin kuat atau konflik yang bisa memisahkan kesatuan struktur.
Apabila kesatuan dua pihak atau dyad ini mendapat kehadiran pihak ketiga, keempat, dan seterusnya, maka hal itu akan mengubah secara mendasar struktur dan bentuk hubungan. Hubungan yang dicampuri oleh pihak ketiga, dan seterusnya disebut triad. Dalam triad, hubungan menjadi lebih rumit dan kompleks akibat struktur yang berbeda. Menurut Simmel, triad selalu lebih tidak stabil daripada dyad. Hal ini disebabkan oleh kompleksnya pembentukan dan pertukaran gagasan, peranan, serta kepentingan individu yang tergabung di dalamnya.
Interaksi Sosial sebagai Inti Masyarakat
Seperti kebanyakan sosiolog Jerman, Georg Simmel adalah penganut mazhab formal. Bersama Max Weber, Simmel membentuk Deutsche Gesellschaft fur Soziologie (German Sociological Association atau Masyarakat Sosiologi Jerman). Karl Marx dan Max Weber lebih memfokuskan masalah sosiologi pada tema-tema besar atau makro, seperti masyarakat kapitalis dan tindakan sosial. Di sisi lain, Simmel justru memperhatikan masalah yang lebih kecil (sosiologi mikro), yakni berkaitan dengan tindakan dan interaksi individual.
Simmel menyatakan bahwa objek kajian sosiologi adalah bentuk-bentuk hubungan antarmanusia. Menurutnya, setiap individu menjadi bagian dari warga masyarakat dengan mengalami proses individualisasi dan sosialisasi. Tanpa menjadi warga masyarakat, seseorang tidak mungkin mengalami proses interaksi antara individu dengan kelompok. Masyarakat ada ketika seseorang berinteraksi dengan individu-individu lainnya. Interaksi itulah yang merupakan inti dari masyarakat.
Simmel membatasi interaksi ini dengan kesadaran sang aktor (pelaku). Jadi, interaksi yang benar menurut Simmel dilakukan secara sadar dan melalui proses berpikir untuk kepentingan lebih jauh. Interaksi itu dimulai dari hal-hal paling sederhana, seperti bertemu dan bertegur sapa. Interaksi terus berlanjut hingga tingkat yang paling rumit, misalnya mendirikan organisasi, melakukan transaksi, memberi bantuan, dan sebagainya.
Georg Simmel menggunakan pendekatan dialektis dalam mengembangkan sosiologi, la mengaitkan hubungan sosial yang dinamis dengan beragam konflik. la juga memandang individu sebagai produk dari masyarakat. Analisis Simmel menekankan hubungan dan ketegangan yang terjadi antara individu dengan masyarakat.
Sebagai produk masyarakat, individu merupakan mata rantai di dalam proses sosial. Individu yang bersosialisasi di dalam kehidupan masyarakat selalu memiliki hubungan yang bersifat dualistis. Di satu sisi, ia merupakan anggota masyarakat dan terintegrasi di dalamnya. Akan tetapi, pada waktu yang bersamaan, ia juga menentang masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, individu secara bersamaan berada di dalam dan di luar masyarakat. la tetap eksis, baik bagi masyarakat maupun dirinya sendiri.
Pengaruh Simmel terhadap ilmu sosiologi terletak pada minat dan level perhatiannya pada masalah mikro, terutama interaksi. Ia menjadikan interaksi atau disebut juga asosiasi-sebagai minat utama. Level ini pula yang membawa pengaruhnya menyebar hingga ke luar Eropa. Lebih lanjut, Simmel tidak banyak membahas isi dari interaksi tersebut, tetapi lebih menitikberatkan pada bentuk. Ia menganggap bentuk dan isi adalah dua anasir yang berbeda sehingga harus dibedakan secara cermat.
Isi kehidupan sosial meliputi insting erotis atau nafsu seksual, kepentingan objektif, dorongan agama, tujuan membela dan menyerang, bermain, keuntungan, serta memberi dan menerima bantuan. Kehidupan sosial juga mencakup hal-hal lain yang menyebabkan seseorang untuk hidup bersama dengan orang lain, melakukan tindakan bersama atau melawan mereka, serta memengaruhi atau dipengaruhi oleh orang lain.
Simmel juga menjelaskan bentuk-bentuk interaksi yang meliputi superioritas dan subordinasi, kompetisi, pembagian kerja, pembentukan partai, perwakilan, solidaritas ke dalam, sifat menutup diri terhadap orang asing, dan sebagainya. Hal-hal tersebut menyebabkan seseorang bisa memilih cara tertentu untuk melakukan interaksi.
Bagi Simmel, dunia sosial atau masyarakat terbentuk dari peristiwa, tindakan, interaksi, dan sebagainya yang tak terhingga. Untuk dapat memahami semua gejala yang tidak terbatas tersebut, sosiolog hendaknya menggunakan pola, bentuk, atau satuan yang melekat padanya. Begitu pula di dalam masyarakat. Setiap individu berhadapan dengan berbagai hal yang tidak terbatas dan di sinilah tugas sosiologi harus dimulai, yaitu membedakan dan memilih bentuk serta tipe dalam hal interaksi agar bisa dianalisis secara lebih baik (Ritzer & Goodman, 2008 : 180).
Atas dasar itulah Georg Simmel merasa perlu membuat klasifikasi tersendiri yang mengungkapkan bahwa interaksi memiliki tipe dan bentuk tertentu. Berdasarkan bentuknya, interaksi meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. subordinasi (ketaatan atau pihak yang dikuasai),
2. superordinasi (dominasi atau pihak yang menguasai),
3. hubungan seksual,
4. konflik, serta
5. sosiabilita (interaksi yang terjadi secara alami dan bukan untuk tujuan tertentu, contohnya silaturahmi).
Sementara itu, berdasarkan tipenya, interaksi sosial dapat dibedakan sebagai berikut:
1. interaksi yang terjadi antara individu dengan individu,
2. interaksi yang terjadi antara individu dengan kelompok,
3. interaksi yang terjadi antara kelompok dengan individu.
Melalui pengelompokan tersebut, Simmel menganggap akan lebih mudah bagi para peneliti sosiologi menganalisis dunia sosial yang terbatas. Dunia sosial adalah semesta interaksi dan juga asosiasi. Interaksi dan asosiasi ini kemudian menjadi inti dari masyarakat yang mengakui keberadaan individu sekaligus menegaskan eksistensi kelompok.
Geometri Sosial
Georg Simmel juga terobsesi membuat konsep geometri sosial dalam konteks sosiologi formal. Ada dua koefisien geometri yang menarik perhatian dan menjadi inti pembahasan geometri sosial Simmel, yaitu jumlah dan jarak. Selain itu, ada pula satu koefisien yang justru memicu ambiguitas, yakni ukuran kelompok.
1. Jumlah
Minat Simmel pada dampak jumlah orang terhadap kualitas interaksi dapat dilihat dari pembahasannya tentang perbedaan antara dyad dan triad. Pada dyad, setiap pihak mempertahankan level individualitas yang tinggi. Dalam hal ini, individu tidak merendahkan pihak lain. Artinya, di dalam dyad tercapai keseimbangan individualitas yang dibutuhkan untuk tercapainya sebuah interaksi yang baik dan sehat.
Jumlah yang semakin banyak menandakan dyad mengalami transformasi menjadi triad dengan hadirnya orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Pada kondisi tersebut, mulailah terjadi praktik-praktik superordinasi dan subordinasi. Di satu sisi, ada pihak yang mendapat level individualitas yang sangat tinggi. Secara bersamaan, ada pula pihak. yang mengalami subordinasi. Pada model interaksi triad sulit tercapai keseimbangan sebagaimana dalam dyad.
Dengan masuknya pihak ketiga ke dalam kelompok, sejumlah peran sosial menjadi mungkin terjadi. Sebagai contoh, pihak ketiga dapat memainkan peran sebagai penengah atau mediator dalam perselisihan kelompok. Demikian pula tidak tertutup kemungkinan pihak ketiga dapat memanfaatkan perselisihan antara dua pihak yang berselisih demi kepentingannya sendiri atau menjadi sasaran yang diperebutkan kedua pihak.
Pihak ketiga juga dapat secara sengaja mendorong terjadinya konflik antara dua pihak untuk memperoleh superioritas atau dengan kata lain memecah belah dan menguasai. Perubahan dyad menuju triad adalah sesuatu yang esensial bagi munculnya masyarakat. Interaksi yang bisa terjadi antara individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, serta kelompok dengan individu menentukan realitas sosial yang ada.
2. Jarak
Pokok perhatian Simmel pada aspek geometri sosial lainnya berhubungan dengan jarak. Bagi Simmel, jarak memberi makna dan bentuk interaksi individu dengan masyarakat. Isu ini dibahas dalam berbagai karya Simmel, terutama pada buku The Philosophy of Money (1907) serta salah satu esainya berjudul The Stranger (1908).
Pada buku The Philosophy of Money, Simmel menjelaskan jarak dalam perspektif nilai. Menurut Simmel, nilai sesuatu ditentukan dari jaraknya dengan aktor atau individu. Sebuah barang tidak akan memiliki nilai jika terlalu dekat atau terlalu mudah diraih, seperti segenggam kerikil di tangan. Sebaliknya, suatu barang tidak akan ada nilainya jika berjarak terlalu jauh dari aktor serta tidak mungkin diperoleh. Barang berharga adalah objek yang mungkin diraih, tetapi harus melewati usaha secara sungguh-sungguh.
Di dalam esai The Stranger, Simmel juga menempatkan jarak sebagai isu sentral dalam interaksi antarindividu. Ia juga membicarakan tipe aktor yang tidak terlalu dekat atau justru sangat berjauhan. Jika terlalu dekat, seseorang tidak akan lagi menjadi orang asing. Namun, jika terlalu jauh maka ia akan kehilangan kontak dengan kelompok.
Interaksi yang dijalani orang asing dengan anggota kelompok meliputi kombinasi kedekatan dan jarak. Dalam hal ini, jarak tertentu orang asing dari kelompok memungkinkannya melakukan serangkaian pola interaksi yang tidak lazim. Sebagai contoh, orang asing dapat lebih objektif dalam hubungannya dengan anggota kelompok. Karena ia orang asing, anggota kelompok yang lain merasa lebih nyaman dalam mengekspresikan diri ke padanya.
Dalam hal ini, pola koordinasi dan interaksi secara konsisten terjadi antara orang asing dengan anggota kelompok lain. Orang asing menjadi anggota organik kelompok. Simmel memandang kondisi terasing sebagai bentuk interaksi sosial. Tingkat keasingan yang meliputi kombinasi kedekatan dan keterpencilan memasuki seluruh relasi sosial, bahkan pada hubungan yang paling akrab. Jadi, kita dapat menelaah berbagai interaksi spesifik untuk menemukan derajat keasingan (Ritzer & Goodman, 2008 : 182).
3. Ukuran Kelompok
Pada level yang lebih umum, Simmel juga memberikan perhatian yang cukup besar pada ukuran kelompok. Di satu sisi, ia berpendapat peningkatan ukuran kelompok atau masyarakat akan menambah kadar kebebasan individu. Sementara itu, kelompok atau masyarakat kecil cenderung mengontrol individu sepenuhnya. Namun, pada masyarakat yang lebih luas, individu cenderung terlibat dalam sejumlah kelompok yang masing-masing hanya mengontrol sebagian kecil dari keseluruhan kepribadian.
Simmel juga menyatakan bahwa masyarakat besar menciptakan serangkaian masalah yang pada akhirnya mengancam kebebasan individu. Sebagai contoh, ia melihat massa cenderung didominasi oleh satu gagasan yang sering kali paling sederhana. Kemiripan fisik membuat massa mudah dibujuk dan cenderung mengikuti gagasan-gagasan simplistis tanpa disertai pertimbangan secara matang.
Jadi, pada intinya Simmel menganggap kelompok yang besar akan mendorong kebebasan individu semakin bertambah. Hal ini disebabkan ikatan antarindividu yang semakin renggang. Sebaliknya, pada masyarakat yang lebih kecil, individu bisa lebih terkontrol.
Superioritas dan Subordinasi
Bentuk interaksi sosial selain hubungan seksual, konflik, serta sosiabilita yang sangat penting bagi Simmel adalah superioritas (superordinasi) dan subordinasi. Menurut Simmel, setiap masyarakat secara formal struktural dapat dikatakan terstruktur menurut superordinasi dan subordinasi.
Ada orang atau kelompok tertentu yang memimpin masyarakat. Sebaliknya, ada sejumlah orang atau kelompok yang dipimpin. Menurut Simmel, kedua kutub tersebut-pihak yang memimpin dan dipimpin tidak bisa diisolasi satu sama lain. Sebab, keduanya menghasilkan efek timbal balik sedemikian rupa. Bahkan, pada hakikatnya semua pemimpin itu juga dipimpin.
Pada tulisan berjudul "Uber-und Unterordnung" yang dikumpulkan di dalam buku Soziologie, Simmel menyatakan bahwa semua pemimpin juga dipimpin, sebagaimana dalam banyak kasus tuan adalah budak para budaknya. "Saya adalah pemimpinnya, maka saya harus mengikuti mereka." Begitulah ungkapan salah seorang dari pemimpin-pemimpin partai besar di Jerman berkaitan dengan para pengikutnya (Simmel, 1995: 164).
Hal yang patut dicatat adalah Georg Simmel termasuk tokoh yang memandang sosiologi secara mikro. Dari aspek inilah ia menyebarkan pengaruhnya ke luar Eropa. Tidak hanya itu, Simmel menjadi tokoh terakhir dalam tradisi pemikiran sosiologi klasik.
Sumber:
Arisandi, Herman. 2015. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD. Hlmn : 72-81.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar