Setiap ilmu pengetahuan, apa lagi ilmu pengetahuan sosial, merupakan hasil konstruksi pada zamannya. Dengan kata lain, setiap bidang ilmu pengetahuan berkembang dan dibentuk oleh lingkungan sosial pada masanya. Sosiologi sebagai salah satu cabang ilmu sosial lahir sebagai akibat dari beberapa perkembangan sosial pada jamannya. Ada dua kekuatan raksasa yang membidani kelahiran sosiologi, yakni kekuatan kekuatan sosial dan kekuatan-kekuatan intelektual (perkembangan ilmu pengetahuan). Pada bagian berikut ini, kita akan menguraikan dua kekuatan yang mempengaruhi kelahiran sosiologi dan perkembangan teori sosiologi modern (Ritzer, 1988:3-57).
Selasa, 05 Juli 2022
Sejarah Kelahiran Teori Sosiologi
KEKUATAN-KEKUATAN SOSIAL
Kekuatan-kekuatan sosial pada abad 19 hingga awal abad 20 yang turut membantu melahirkan teori-teori sosiologi adalah sebagai berikut.
Revolusi Politik yang diawali oleh Revolusi Prancis
Revolusi-revousi tersebut membawa banyak dampak positif untuk kehidupan masyarakat di banyak negara. Tetapi hal yang menarik perhatian para ilmuwan sosial pada waktu itu bukanlah hasil-hasil yang positif melainkan dampak negatif dari perubahan-perubahan yang dihasilkan oleh revolusi-revolusi itu. Mereka merasa sangat terganggu dengan adanya chaos dan ketidakteraturan, khususnya di Prancis. Karena itu, para ilmuwan sosial bersatu dalam tekad mereka untuk membangun kembali keteraturan yang sudah diporak-porandakan oleh revolusi Prancis dan revolusi revolusi lainnya. Mereka ingin menemukan dasar-dasar baru yang membuat masyarakat bisa bersatu dan terintegrasi. Perhatian terhadap masalah integrasi dan ketertiban sosial ini telah menjadi perhatian utama dari Auguste Comte dan Emile Durkheim.
Revolusi Industri dan Kebangkitan Kapitalisme
Munculnya revolusi di negara-negara Eropa Barat menyebabkan banyak orang meninggalkan dunia pertanian dan bekerja pada industri-industri. Pabrik-pabrik muncul di mana-mana. Demikian juga birokrasi muncul sebagai suatu keharusan untuk melayani kebutuhan dalam dunia industri. Kebangkitan industri melahirkan sistem kapitalis dengan segala problemnya. Para pemilik modal yang jumlahnya sedikit mendapat banyak keuntungan sedangkan buruh yang jumlahnya banyak mendapat cuma sedikit keuntungan dari sistem kapitalis itu. Problem-problem ini menarik perhatian para sosiolog awal, seperti Marx dan coba mencari jalan keluar.
Bangkitnya Sosialisme
Problem-problem yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme menyebabkan beberapa sosiolog awal menganjurkan sosialisme sebagai jalan keluar. Kendati Marx sangat memperjuangkan jalan sosialisme untuk mengatasi masalah-masalah yang diciptakan oleh sistem kapitalisme, namun tidak semua sosiolog sependapat dengan dia. Durkheim dan Weber, misalnya, sekalipun mengakui adanya masalah dalam sistem kapitalis, namun mereka lebih suka memperbaiki sistem kapitalis itu dari pada mengadopsi revolusi sosial seperti yang dikemukakan oleh Marx.
Urbanisasi
Sebagai salah satu akibat dari revolusi industri ialah berpindahnya banyak penduduk dari desa ke kota. Hal ini disebabkan karena kota telah menjadi pusat pendirian pabrik-pabrik, pusat pendidikan, dan hiburan. Pengembangan kota-kota menimbulkan sejumlah soal, seperti kelebihan penduduk, polusi, keributan, kemacetan lalu lintas, dan lain-lain. Persoalan-persoalan seperti ini menarik perhatian para sosiolog untuk menjelaskan fenomena-fenomena sosial ini dengan ilmu yang mereka kembangkan.
Perubahan Kehidupan Keagamaan
Revolusi dalam dunia politik, revolusi industri, dan urbanisasi telah membawa dampak yang mendalam terhadap kehidupan keagamaan. Agama kehilangan kekuatannya sebagai satu-satunya otoritas dalam bidang moral. Kekuasaannya dalam bidang-bidang lainpun menjadi berkurang. Bersamaan dengan itu muncul antiklerikalisme, agnotisisme, dan aliran filsafat yang memproklamirkan diri sebagai aliran ateis. Kebanyakan sosiolog awal berasal dari keluarga-keluarga yang taat beragama dan cukup terlibat dalam kehidupan agama. Karena itu, ada semacam keinginan untuk kembali kepada tatanan masyarakat lama yang teratur. Hal itu mereka tunjukkan dengan menguraikan hubungan antara agama dan masyarakat. Durkheim, misalnya, menulis The Elementary Forms of Religious Life (1965/1912) dan Weber menulis The Protestant Ethics and the Spirit of Captilism (1976).
KEKUATAN-KEKUATAN INTELEKTUAL
Kekuatan-kekuatan intelektual yang mempengaruhi perkembangan sosiologi muncul di berbagai negara di Eropa Barat, seperti Prancis, Jerman, Inggris, dan Italia. Kita mulai dengan Prancis.
Masa Pencerahan dan Munculnya Sosiologi di Prancis
Pencerahan atau Aufklärung yang dipelopori oleh Charles Montesquieu (1689-1755) dan Jean Jacques Rousseau (1712-1778) mempunyai dampak yang sangat mendalam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Masa pencerahan ini ditandai oleh kepercayaan bahwa manusia bisa memahami dan mengontrol jagat-raya dengan akal budinya dan dengan penelitian empiris. Masa Pencerahan itu tentu saja membawa akibat-akibat positif terhadap kehidupan manusia. Namun tidak dapat disangkal juga bahwa Aufklärung membawa dampak yang negatif seperti runtuhnya tatanan masyarakat lama. Segala sesuatu yang sebelumnya berjalan begitu teratur kini dijungkir balikkan. Dalam keadaan yang demikian muncullah beberapa sosiolog di Prancis yang tergugah hatinya untuk menjawab pertanyaan apa yang membuat masyarakat bisa stabil atau harmoni. Para sosiolog awal dari Prancis adalah sebagai berikut.
Claude Henri Saint-Simon (1760-1825)
Dia adalah seorang yang konservatif. Sebagai seorang yang konservatif dia berkeinginan untuk menciptakan suatu masyarakat seperti sebelumnya yang teratur dan harmonis. Tetapi pada waktu yang sama dia juga setuju supaya fenomena-fenomena sosial harus dipelajari dengan menggunakan metode-metode ilmiah sebagaimana digunakan di dalam ilmu-ilmu alam. Ide-ide Saint-Simon ini dikembangkan lebih lanjut oleh Auguste Comte.
Auguste Comte (1798-1857)
Karya Comte dalam arti tertentu dapat dianggap sebagai reaksi melawan Revolusi Prancis yang menciptakan anarki di dalam masyarakat. Guna mengatasi pemikiran keliru yang menyebabkan anarki itu, Comte mengembangkan fisika sosial yang kemudian disebut sosiologi. Ilmu baru itu dibaginya atas dua, yakni statistika sosial yang berhubungan dengan struktur sosial dan dinamika sosial yang berhubungan dengan perubahan sosial. Dalam kedua cabang ilmu itu dia ingin mencari hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat. Menurut Comte perubahan tidak harus dibuat melalui revolusi karena akibat-akibatnya sangat fatal. Sebaliknya perubahan bisa terjadi melalui proses evolusi dengan hasil yang lebih baik. Guna menguatkan argumentasinya itu Comte mengemukakan teorinya tentang evolusi, yang disebutnya hukum tiga tahap. Menurut dia, dalam sejarah umat manusia ada tiga tahap perkembangan intelektual manusia. Tahap pertama adalah tahap teologis yang berlangsung dari awal mula dengan tahun 1300. Dalam tahap ini, manusia menafsirkan gejala-gejala alam yang terjadi di sekitarnya secara teologis atau sebagai disebabkan oleh Allah dewa-dewi. Tahap kedua adalah tahap metafisis yang berlangsung dari tahun 1300-1800. Dalam tahap ini manusia menafsirkan gejala-gejala alam sebagai disebabkan oleh kekuatan-kekuatan alam yang bersifat abstrak dan bukan oleh dewa-dewi. Tahap ketiga adalah tahap positif. Dalam tahap ini manusia menafsirkan gejala-gejala alam tidak lagi disebabkan oleh dewa-dewi atau kekuatan alam yang bersifat abstrak melainkan oleh hukum-hukum alam. Dengan hukum ketiga tahap itu, Comte menekankan pentingnya peranan intelek dalam menemukan hukum-hukum positif yang mengatur kehidupan masyarakat.
Emile Durkheim (1858-1917)
Sebagaimana Saint-Simon dan Comte, Durkheim juga cemas melihat ketidakteraturan yang terjadi sesudah revolusi Prancis. Karena itu Dukrheim mencurahkan perhatiannya pada masalah keteraturan sosial (social order). Menurut dia, ketidakteraturan sosial tidak harus menjadi bagian dari dunia modern dan dapat dikurangi dengan adanya reformasi sosial. Dalam hal ini ia berbeda dengan Marx yang menyarankan adanya revolusi untuk menciptakan perubahan di dalam masyarakat.
Durkheim menulis banyak buku. Dalam buku yang pertama The Rules of Sociological Method (1895/1964) dia mengemukakan bahwa tugas utama sosiologi adalah mempelajari fakta-fakta sosial. Fakta-fakta sosial ini adalah kekuatan-kekuatan (hukum, norma, kepercayaan, agama) dan struktur-struktur yang bersifat eksternal terhadap individu tetapi mempengaruhi individu-individu. Bukunya kedua berjudul Suicide (1897/1951). Dalam buku itu ia menjelaskan pengaruh fakta sosial terhadap perilaku individu yang bunuh diri. Dalam mempelajari tingkatan bunuh diri pada kelompok, negara, wilayah, agama yang berbeda dia menemukan bahwa solidaritas yang terlalu lemah atau kuat dapat menyebabkan orang bunuh diri.
Dalam buku yang ketiga The Division of Labor in Society (1893/1964), dia menganalisa ikatan-ikatan sosial pada masyarakat primitif dan masyarakat modern. Dalam masyarakat primitif ikatan sosial itu adalah moralitas bersama atau kesadaran kolektif yang disebut solidaritas mekanik. Sedangkan dalam masyarakat modern yang ditandai oleh patologi akibat pembagian kerja yang sangat ketat hampir tidak ditemukan kesadaran kolektif seperti pada masyarakat primitif. Guna menjaga kestabilan masyarakat tidak perlu ada revolusi tetapi hukum-hukum atau norma-norma yang mengatur kehidupan bersama.
Dalam buku yang terakhir The Elementary Forms of Religious Life (1912/1965), Durkheim melaporkan hasil penelitiannya tentang masyarakat primitif untuk mencari-tahu asal-usul kehidupan agama. Dalam penelitiannya itu, dia menemukan bahwa asal-usul atau sumber dari agama adalah masyarakat itu sendiri. Masyarakat itu sendiri mendefinisikan hal-hal tertentu sebagai sakral dan hal-hal lainnya sebagai profan. Dalam kasus yang diselidikinya, klan atau suku adalah sumber dari agama primitif yang disebut totemisme. Dalam totemisme binatang-binatang atau tumbuhan-tumbuhan tertentu disakralkan atau dianggap semacam dewa. Karena itu totem dapat dianggap sebagai salah satu bentuk khusus dari fakta sosial yang bersifat non-material atau salah satu bentuk kesadaran kolektif. Pada akhirnya Durkheim berpendapat bahwa masyarakat dan agama atau kesadaran kolektif adalah satu dan sama. Agama merupakan satu cara di dalamnya masyarakat mengungkapkan dirinya dalam salah satu bentuk fakta sosial yang bersifat non-material.
Perkembangan Sosiologi Jerman
Kalau sosiologi Prancis cukup konsisten dalam pandangan mereka tentang pentingnya keteraturan sosial sebagai reaksi terhadap Revolusi Prancis dan äufklarung, maka sosiologi Jerman sejak awal terbagi di antara Karl Marx di satu pihak dan Max Weber dan George Simmel di pihak lain. Kita akan mendiskusikan ketiga karya sosiolog itu secara berturut-turut.
Karl Marx (1818-1883)
Marx bukanlah seorang sosiolog dan tidak pernah menganggap dirinya sebagai sosiolog. Dia adalah seorang ahli ekonomi ketimbang seorang ahli sosiologi. Berbeda dengan sosiolog-sosiolog lain yang mengembangkan teori untuk menciptakan keteraturan di dalam masyarakat, Marx malah tertarik kepada fenomena penindasan yang dilakukan oleh kaum kapitalis terhadap kaum buruh. Dia ingin mengembangkan sebuah teori yang menjelaskan fenomena itu dengan maksud untuk menghilangkan sistem itu. Pokok perhatian Marx adalah terciptanya revolusi dan hal itu sangat bertolak belakang dengan pandangan Saint-Simon, Comte, ataupun Durkheim.
Kunci untuk memahami Marx adalah idenya tentang konflik sosial. Konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk merebut aset-aset bernilai. Bentuk dari konflik sosial itu bisa bermacam-macam, yakni konflik antara individu, kelompok, atau bangsa. Tetapi bentuk yang paling menonjol menurut Marx nampak dalam cara produksi barang-barang material. Menurut Marx ada dua kelompok yang terlibat dalam proses produksi itu. Kelompok pertama adalah kaum kapitalis, yakni mereka yang mempunyai dan menguasai alat-alat produksi. Kekhasan mereka ialah menjual hasil-hasil produksi dengan harga yang jauh lebih tinggi dari biaya produksi sehingga mereka mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Kelompok yang kedua adalah kaum proletariat. Mereka adalah orang yang menyerahkan tenaganya untuk menjalankan alat-alat produksi kaum kapitalis dan sebagai imbalannya mereka mendapat upah dan bukannya barang yang mereka hasilkan.
Proses produksi yang demikian menyebabkan dua hal. Pertama, kaum proletariat mengalami alienasi dalam empat bidang, yaitu alinenasi dari pekerjaannya (mereka diperlakukan sebagai bagian dari alat produksi), alienasi dari hasil pekerjaannya (mereka tidak mendapatkan apa yang mereka hasilkan), alienasi dari pekerja lainnya (mereka terasing dan bersaing dengan pekerja lainnya), dan alienasi dari kemampuan manusiawi mereka (terasing dari kemampuan manusiawi mereka sendiri). Kedua, mereka mengalami konflik dengan kaum kapitalis. Konflik itu menjadi tak terhindarkan karena di satu pihak kaum kapitalis ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menekan upah buruh serendah rendahnya. Di pihak lain buruh juga menuntut upah setinggi-tingginya dengan resiko mengurangi keuntungan kaum kapitalis. Oleh karena keuntungan dan upah berasal dari sumber yang sama, maka konflik menjadi tak terelakkan.
Menurut Marx, satu-satunya cara untuk keluar dari sistem kapitalis yang tidak adil itu ialah dengan melakukan revolusi. Tetapi ada syarat yang harus dipenuhi supaya revolusi bisa terjadi. Pertama, kaum proletariat harus menyadari diri bahwa mereka adalah orang yang tertindas. Kesadaran menjadi sangat penting untuk menciptakan perubahan. Kedua, mereka harus mengelompokkan diri dalam satu wadah atau organisasi. Secara individual buruh sulit memperjuangkan kepentingannya tetapi lewat organisasi mereka menjadi lebih kuat dalam memperjuangkan aspirasinya. Marx mengakui betapa sulitnya menciptakan kesadaran itu. Tetapi dia yakin pada suatu waktu dengan penyebaran informasi yang terus-menerus (propaganda) mereka menyadari bahwa merekalah yang menentukan masa depannya sendiri.
Max Weber (1864-1920)
Kalau Marx tertarik dengan masalah kapitalisme, Weber malah tertarik dengan masalah rasionalisasi. Bagi Weber, rasionalisasi berarti pertimbangan-pertimbangan yang dibuat sebelum orang melakukan sesuatu. Pertimbangan-pertimbangan itu menyangkut tujuan sebuah tindakan dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan itu. Weber melihat bahwa birokrasi adalah contoh dari rasionalisasi. Dalam sistem birokrasi orang mencari cara-cara yang rasional untuk mencapai tujuan. Dalam dunia modern kini, contoh dari rasionalisasi adalah restoran siap saji di mana segala sesuatu dibuat serasional mungkin supaya lebih cepat dan lebih efektif.
Kemudian Weber memperluas diskusi tentang birokrasi itu ke dalam institusi-institusi politik. Dia membedakan tiga macam otoritas di dalam institusi politik, yakni otoritas tradisional, otoritas kharismatik, otoritas rasional-legal. Menurut dia, otoritas rasional legal memacu pertumbuhan birokrasi. Sedangkan otoritas tradisional dan karimatik menghambat pertumbuhan birokrasi. Berdasarkan studi perbandingan yang dibuatnya di Eropa, India, dan Cina dia menemukan bahwa otoritas tradisional dan karismatik sangat dominan di India dan Cina sedangkan otoritas rasional-legal sangat dominan di Eropa sehingga birokrasi bertumbuh dengan subur di Eropa. Dalam otoritas yang rasional-legal seorang pemimpin dipilih berdasarkan undang-undang yang dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional.
Selain membuat analisa tentang hubungan antara rasionalisasi dan birokrasi, Weber juga mendiskusikan hubungan antara agama dan kapitalisme. Dalam penelitiannya, Weber mencaritahu mengapa sistem ekonomi yang rasional seperti kapitalisme bertumbuh subur di Eropa Barat daripada di bagian-bagian dunia lainnya. Dalam studinya dia menemukan bahwa sistem kapitalisme yang rasional itu mempunyai hubungan dengan sistem kepercayaan Calvinisme. Dia menjelaskan argumentasinya itu di dalam bukunya yang berjudul The Protestant Ethic and the Spirit of Capitilism.
George Simmel (1858-1918)
Simmel adalah seorang sosiolog keturunan Yahudi yang mendapat banyak perlakuan diskriminasi di Universitas Berlin sehingga ia kurang terlalu terkenal di kalangan akademis. Tetapi Simmel mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap Chicago School (Aliran Chicago) dan teori interaksionisme simbolik yang mendominasi Amerika selama beberapa dasawarsa. Ide-ide Simmel sangat berpengaruh terhadap Chicago School dan interaksionisme simbolik karena tokoh-tokoh utama dari Chicago School seperti Albion Small dan Robert Park sudah sangat terbiasa dengan ide-ide Simmel ketika mereka belajar di Universitas Berlin. Merekalah yang menyebarkan ide-ide Simmel ini ke Chicago.
Simmel terkenal karena analisanya berpusat pada masalah-masalah yang berskala kecil seperti aksi dan interaksi. Menurut dia tugas utama sosiologi adalah memahami interaksi di antara manusia. Dalam karyanya yang terkenal dyad dan triad (kelompok yang terdiri dari dua atau tiga orang), Simmel mengemukakan bahwa perkembangan penting dalam sosiologi terjadi ketika kelompok dyad (dua orang) diubah ke dalam kelompok triad (tiga orang) dengan menambahkan orang yang ketiga. Kemungkinan-kemungkinan sosial sulit terjadi dalam kelompok yang terdiri dari dua orang. Dalam kelompok tiga orang beberapa kemungkinan bisa terjadi. Bisa jadi salah seorang dari antara ketiga bisa menjadi penengah untuk dua orang yang bertikai. Tetapi bisa juga terjadi bahwa yang dua orang bersatu dan menguasai yang satu orang. Jadi, dalam kelompok tiga orang interaksinya jauh lebih kaya daripada kelompok dua orang.
Perkembangan Sosiologi Inggris
Salah seorang sosiolog Inggris yang terkenal adalah Herbert Spencer (1820-1902). Pokok-pokok pikiran Spencer hampir sama dengan Comte di Prancis. Keduanya sama-sama bersifat konservatif dalam arti mereka mendambakan suatu masyarakat yang stabil dan harmonis. Keduanya juga sama-sama mengembangkan teori tentang perubahan masyarakat yang bersifat evolutif. Dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin, Spencer berpendapat bahwa dunia berkembang ke arah yang semakin baik. Karena itu dia harus dibiarkan berkembang sendiri sebab campur tangan dari luar malah akan memperburuk situasi. Dengan demikian ia tidak terlalu setuju dengan usaha-usaha reformasi atau revolusi. Dia berpendapat bahwa institusi-institusi sosial, sama seperti tumbuhan atau hewan, dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara sangat baik. Ia juga yakin bahwa seleksi alamiah terhadap makhluk hidup juga berlaku untuk dunia sosial.
Kekhasan Spencer dalam analisa sosialnya ialah bahwa ia membandingkan masyarakat dengan organisme. Dalam hal ini, ia meminjam konsep dari dunia biologi. Dia sangat tertarik pada struktur masyarakat yang begitu kompleks dan hubungan saling-bergantung di antara bagian-bagian dan fungsi dari bagian-bagian itu terhadap satu sama lain dan terhadap sistem itu secara keseluruhan. Jadi, dalam analog antara organisme dan masyarakat, dia menunjukan pertama, evolusi sosial selalu terarah kepada situasi sosial yang ideal; kedua, masyarakat berkembang ke arah diferensiasi struktur untuk memenuhi fungsi-fungsi yang dituntut oleh masyarakat; ketiga, ia melihat konsekuensi dari evolusi sosial adalah peningkatan pembagian kerja; keempat, Spencer menyamakan evolusi sosial dengan evolusi dalam biologi, yakni yang kuat bertahan sedangkan yang lemah akan lenyap. Dalam hubungan dengan yang terakhir ini, Spencer bisa memahami mengapa dalam sejarah masyarakat tertentu bisa bertahan sedangkan masyarakat lainnya punah.
Perkembangan Sosiologi Italia
Pada jaman yang kurang lebih sama di Italia muncul dua pemikir sosial yakni Vilfredo Pareto (1848-1923) dan Gaetano Mosca (1858-1941). Kedua sosiolog ini cukup berpengaruh pada jamannya tetapi dewasa ini karya-karya mereka kurang mendapat tempat dalam pemikiran modern. Baik Mosca maupun Pareto sama-sama menolak ide-ide Marx dan ide-ide yang berasal dari filsuf-silfuf pencerahan. Kalau filsuf-filsuf pencerahan menekankan pentingnya akal budi (rasionalitas), maka Pareto malah menekankan pentingnya faktor-faktor non-rasio seperti insting. Oleh karena faktor-faktor insting begitu penting dalam hidup manusia maka adalah tidak realistis untuk mengharapkan perubahan sosial dramatis seperti yang dikemukakan oleh Marx.
Teori Pareto tentang perubahan sosial juga berbeda dari teori Marx. Kalau Marx menekankan pentingnya peran massa untuk menciptakan perubahan sosial, maka Pareto menekankan peran kelompok elit dalam menciptakan perubahan sosial. Perubahan sosial bisa terjadi kalau kelompok elit yang menguasai massa mengalami degradasi dan diganti oleh kelompok elit yang baru. Pada bagian lain, Pareto adalah seorang struktural-fungsionalis sejati. Dia melihat masyarakat sebagai suatu sistem yang berada dalam equilibrium, suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian. Perubahan pada satu bagian akan menyebabkan perubahan pada bagian lain. Atas dasar pikirannya ini, maka Talcott Parsons akhirnya berminat mempelajari karya karya Pareto, seperti A Treatise on General Sociology (1935).
Sumber : Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka. Hlmn : 21-35.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar