Rabu, 06 Juli 2022

Teori Konflik Jonathan Turner

Jonatan Turner berusaha merumuskan kembali teori konflik. Dia mengemukakan bahwa ada tiga soal utama dalam teori konflik. Pertama, tidak ada definisi yang jelas tentang apa itu konflik, yakni apa yang termasuk ke dalam konflik dan apa yang bukan konflik. Ada banyak istilah yang dipakai untuk konflik, seperti permusuhan, perang, persaingan, antagonisme, tekanan, pertengkaran, perbedaan pendapat, kontroversi, kekejamaman, revolusi, perselisihan, dan lain-lain. Pesoalannya ialah istilah manakah yang dimaksudkan oleh teori konflik itu? Kedua, teori konflik kelihatannya mengambang karena ia tidak menjelaskan unit analisa yang entahkah konflik antara individu, kelompok, organisasi, kelas-kelas, atau konflik antara bangsa bangsa. Ketiga, oleh karena ia merupakan reaksi atas fungsionalisme struktural, maka ia sulit melepaskan diri dari teori itu. Hal ini membuat teori konflik semakin jauh dari akarnya Marxisme.

Turner lalu memusatkan perhatiannya pada "konflik sebagai suatu proses dari peristiwa-peristwa yang mengarah kepada interaksi yang disertai kekerasan antara dua pihak atau lebih". Dia menjelaskan sembilan tahap menuju konflik terbuka. Adapun kesembilan tahap itu adalah sebagai berikut (Turner, 1975:194)

  1. Sistem sosial terdiri dari unit-unit atau kelompok kelompok yang saling berhubungan satu sama lain.
  2. Di dalam unit-unit atau kelompok-kelompok itu terdapat ketidak-seimbangan pembagian kekuasaan atau sumber sumber penghasilan.
  3. Unit-unit atau kelompok-kelompok yang tidak berkuasa atau tidak mendapat bagian dari sumber-sumber pengha silan mulai mempertanyakan legitimasi sistem tersebut.
  4. Pertanyaan atas legitimasi itu membawa mereka kepada kesadaran bahwa mereka harus mengubah sistem alokasi kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan itu demi kepentingan mereka.
  5. Kesadaran itu menyebabkan mereka secara emosional terpancing untuk marah.
  6. Kemarahan tersebut sering kali meledak begitu saja atas cara yang tidak terorganisir. 
  7. Keadaan yang demikian menyebabkan mereka semakin tegang.
  8. Ketegangan yang semakin hebat menyebabkan mereka mencari jalan untuk mengorganisir diri guna melawan kelompok yang berkuasa.
  9. Akhirnya konflik terbuka bisa terjadi antara kelompok yang berkuasa dan tidak berkuasa. Tingkatan kekerasan di dalam konflik itu sangat bergantung kepada kemampuan masing. masing pihak yang bertikai untuk mendefinisikan kembali kepentingan mereka secara obyektif atau kemampuan masing-masing pihak untuk menangani, mengatur, dan mengontrol konflik itu.

Dalam ke sembilan tahap itu Turner merumuskan kembali proses terjadinya konflik di dalam sebuah sistem sosial atau masyarakat. Pada akhirnya konflik yang terbuka antara kelompok-kelompok yang bertikai sangat bergantung kepada kemampuan masing-masing pihak untuk mendefinisikan kepentingan mereka secara obyektif dan untuk menangani, mengatur, dan mengontrol kelompok itu.



Sumber : Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka. Hlmn : 80-82.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar