Selasa, 05 Juli 2022

Karl Mannheim : Ideologi dan Utopia

 

Di luar arus utama perkembangan sosiologi di Prancis, Inggris dan Jerman, terdapat seorang sosiolog yang juga memiliki ide penting dalam perkembangan sosiologi awal, yaitu Karl Mannheim. la berasal Hungaria. Namanya dikenal sebagai sosiolog berhaluan Marxian serta konsep sosiologi pengetahuan. Selain konsep tersebut, Mannheim juga memberikan distingsi yang jelas antara utopia dan ideologi. Mannheim meyakini bahwa utopia dan ideologi akan terus ada di dalam setiap generasi masyarakat.


Profil Singkat Karl Mannheim
Karl Mannheim lahir pada 27 Maret 1893 di Budapest, Hungaria. Ayahnya berasal dari Hungaria sedangkan ibunya orang Jerman. Pada mulanya, Mannheim sangat tertarik pada ilmu filsafat, khususnya epistemologi. Disertasinya membahas analisis struktural epistemologi. Perhatiannya kemudian beralih pada ilmu-ilmu sosial, khususnya ajaran ajaran yang dikembangkan oleh Max Weber, Max Scheler, dan Karl Marx.

Pada tahun 1925, Mannheim menjadi dosen di Universitas Heidelberg. Empat tahun kemudian, ia menjadi guru besar sosiologi dan ekonomi di Frankfurt. Namun, ia diberhentikan pada tahun 1933 atas perintah Adolf Hitler. Setelah itu, Mannheim menetap di London, Inggris dan mengajar sosiologi di London School of Economics (Soekanto, 2002: 213).

Selama tinggal di Inggris, Mannheim memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan sosiologi di sana. Kontribusinya menjadikan sosiologi sebagai bidang ilmu yang dihormati. Mannheim meninggal dunia dalam usia yang tidak terlalu tua. Namun, hasil karyanya menempati kedudukan tinggi bagi perkembangan ilmu sosiologi.


Sosiologi Pengetahuan
Sosiologi pengetahuan merupakan buah pikiran Karl Mannheim yang terkenal hingga kini. Pada dasarnya, sosiologi ilmu pengetahuan berupaya menelisik latar belakang pemikiran, gagasan, fenomena intelektual, pemahaman, serta teori yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh dalam ranah keilmuan sosial secara umum.

Menurut Mannheim, sosiologi pengetahuan adalah studi secara sistematis terhadap pengetahuan, gagasan, dan fenomena intelektual umum. Mannheim mengaitkan gagasan tentang kelompok dengan kedudukannya dalam struktur sosial. Sosiologi pengetahuan di satu sisi bertujuan memahami pemikiran dan perilaku. Di sisi lain, sosiologi pengetahuan juga hendak mengembangkan teori untuk situasi kontemporer berkenaan dengan signifikansi faktor kondisi nonteoretis dalam pengetahuan.

Pengetahuan tidak mudah diidentifikasi secara empiris. Hal ini berbeda dengan ideologi yang lebih mudah dikenali. Ideologi merupakan pengetahuan khusus di setiap masyarakat yang memiliki perspektif politik. Hal ini disebabkan ideologi berkaitan erat dengan kelas dan strata politik. Mannheim amat mendasarkan pemikiran sosiologinya berdasarkan dua hal, yaitu realitas dan pengetahuan.

Realitas diartikan sebagai kualitas yang melekat pada fenomena yang dianggap berada di luar kehendak manusia. Maksudnya, realitas merupakan faktor sosial yang bersifat eksternal, umum, serta mempunyai kekuatan memaksa kesadaran setiap individu. Terlepas dari individu itu suka, benci, mau, atau enggan, realitas akan tetap ada.

Sedangkan pengetahuan diartikan sebagai keyakinan bahwa suatu fenomena bersifat rill serta mempunyai karakteristik tertentu. Pengetahuan merupakan realitas yang hadir dalam ranah kesadaran individu. Dalam hal ini, individu dimaknai sebagai manusia bebas. Dengan demikian, individu menjadi penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksi berdasarkan kehendaknya.

Dalam banyak hal, manusia memiliki kebebasan untuk bertindak di luar batas kontrol struktur dan pranata sosialnya. Ini berarti individu melalui respons-respons terhadap stimulus dalam dunia kognitifnya. Dalam proses sosial, manusia secara individu dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam masyarakat (Berger & Luckman, 1990: 170).

Paradigma sosiologi pengetahuan adalah berbagai produk keilmuan seperti pemikiran atau teori yang dicetuskan oleh tokoh-tokoh ilmu sosial seyogianya dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi objektif realitas itu sendiri (an-sich). Dengan kata lain, sebuah teori atau pemikiran yang muncul ke permukaan dan diterima publik harus terbebas dari kepentingan diri serta selubung-selubung pretensi, terutama katarsis pencetusnya. Apabila tidak demikian maka dengan sendirinya teori atau pemikiran tersebut dapat digugurkan sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini disebabkan klaim objektivitas tidak terpenuhi di dalamnya.

Melalui teorinya ini, Mannheim ingin mengatakan bahwa kebenaran sosial harus didasarkan pada fakta yang ada, baik di dalam pikiran maupun berupa kenyataan. Selain itu, kebenaran juga harus dapat diukur serta dibuktikan secara rasional. Artinya, kebenaran bukan hanya menuruti perspektif dan selera pencetusnya.

Pada intinya, Karl Mannheim mengatakan bahwa pengetahuan tidak objektif dan universal. Pengecualian diberikan pada pengetahuan yang bersifat sosial, politis, historis, serta multiperspektif. Secara sederhana, pengetahuan seseorang berkaitan erat dengan cara hidup dan lingkungan tempat tinggalnya.

Atas dasar itulah pengetahuan selalu terkait dengan kepentingan kepentingan subjektif seseorang. Itulah alasan seseorang berinisial A misalnya memandang perlu berperang dengan negara-negara Barat. Sementara itu, si B justru berpendapat sebaliknya. Padahal, mereka memiliki latar belakang tempat dan pendidikan yang sama. Namun, karena pengalaman dan kepentingannya berbeda, terjadilah perbedaan perspektif tersebut.


Ideologi dan Utopia
Selain sosiologi ilmu pengetahuan, pemikiran Karl Mannheim yang penting untuk dikaji adalah pemisahan antara ideologi dengan utopia. Ideologi dalam pengertian populer dimaknai sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran. Pengetahuan yang bersifat ideologis berarti lebih sarat dengan keyakinan subjektif seseorang daripada fakta-fakta empiris.

Mannheim tidak memberikan pengertian ideologi hanya sebatas itu saja. Dalam buku Ideology and Utopia; An Introduction to the Sociology of Knowledge, ia memberikan pengertian baru mengenai istilah ideologi dan utopia, sesuai dengan dasar-dasar pikirannya dalam usaha memperkenalkan sosiologi pengetahuan. Ia membedakan fakta empiris yang sudah atau sedang terjadi serta gejala sosial di masa depan yang belum terjadi. Ideologi dan utopia memiliki kesamaan. Keduanya merupakan gejala sosial di masa depan yang belum terjadi. Selain itu, keduanya juga bukan merupakan data empiris.

Ideologi adalah semacam lanskap kondisi sosial di masa depan atau hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari berdasarkan sistem saat ini. Menurut Mannheim, ideologi berarti sebentuk proyeksi tentang masa depan yang didasarkan pada sistem yang saat ini tengah berlaku.

Sementara itu, utopia adalah proyeksi tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan, tetapi tidak didasarkan pada sistem saat ini. Menurut Karl Mannheim, ada dua jenis utopia. Pertama, utopia relatif, yaitu proyeksi masa depan yang dapat diwujudkan dalam sebuah sistem sosial berbeda dari sistem yang tengah berlaku saat ini. Kedua, utopia absolut, yakni utopia yang tidak mungkin direalisasikan pada setiap waktu dan tempat.

Pemikiran Mannheim tentang ideologi dan utopia ini sesuai dengan prinsip-prinsip yang dibicarakannya dalam sosiologi pengetahuan. Pada dasarnya, pengetahuan manusia tidak bisa dilepaskan dari eksistensinya. Orang yang menganut ideologi dari sistem kemasyarakatan tertentu akan sulit melihat kebenaran dari aktor masyarakat lain yang tidak tercakup dalam sistem yang sama.

Atas dasar itulah distingsi antara utopia dan ideologi dipandang perlu oleh Karl Mannheim. Keberadaan pemikiran ideologi sering kali tidak sejalan dengan kenyataan. Namun demikian, ideologi masih kerap dimanfaatkan sebagai klaim pembenaran terhadap suatu penerapan sistem baru dalam masyarakat.

Dalam bentuk krisis sosial sebagaimana sering terjadi saat ini, ada kelompok yang berkepentingan mempertahankan kondisi sosial yang mapan. Pemikiran kelompok inilah yang disebut bersifat ideologis. Sementara itu, maksud utopia menurut Mannheim adalah wujud pemikiran dari kelompok yang menghendaki perubahan dengan merobohkan tatanan sosial yang ada. Jadi, ideologi dan utopia sering kali sama-sama tidak sesuai dengan kenyataan. Penjelasan Mannheim untuk hal ini adalah bahwa hal tersebut lebih merupakan collective unconscious (kondisi ketidakharmonisan) dari kelompok-kelompok yang terlibat.

Mannheim kemudian melengkapi gagasan ideologi dan utopia ini dengan fakta-fakta sejarah ide. Sebagai contoh, ide-ide Kristen dalam masyarakat feodal Eropa merupakan ideologi yang sangat penting pada masa itu. Ajaran gereja Katolik mengenai otoritas ketuhanan berkaitan dengan kekuasaan mutlak monarki dan bangsawan. Dari sudut pandang ini, dikatakan bahwa ideologi merupakan ide-ide the situational transcendent yang secara de facto tidak pernah berhasil diwujudkan.

Menurut Mannheim, doktrin utopian adalah kebebasan yang muncul dari kelas penguasa menengah Eropa pada abad ke-18 dan 19. Melalui fakta sejarah tersebut, kita dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh Mannheim dengan real elements dalam utopia, yakni tidak setiap doktrin merupakan ideologi. Sebagai contoh, doktrin kebebasan untuk bekerja, bertempat tinggal, serta berpendapat. Pada umumnya, ideologi berfungsi sebagai pelindung suatu tatanan sedangkan utopia mencakup gagasan-gagasan yang potensial terealisasi dalam suatu tatanan sosial kondusif.

Setelah membaca gejala sosial tentang ideologi dan utopia, Karl Mannheim tiba pada kesimpulan bahwa kedua persoalan itu tidak mudah diselesaikan. Pada suatu waktu, sebuah utopia dibutuhkan untuk memelihara masyarakat. Namun, di waktu lain justru ideologi yang lebih dibutuhkan sebagai penetapan target dan tujuan di masa depan. Hanya perkembangan zaman yang dapat menjawab apakah suatu ide termasuk utopia atau ideologi.



Sumber: Arisandi, Herman. 2015. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD. Hlmn : 82-87.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar