Salah satu persoalan yang sering kali muncul dalam teori sosial tentang antara individu dan masyarakat. Bagaimana masyarakat 'membentuk' individu-individu atau sebaliknya bagaimana individu-individu menciptakan, mempertahankan, dan mengubah masyarakat? Dalam hal apa saja masyarakat dan kepribadian mempunyai hubungan timbal balik tetapi juga terpisah satu sama lain?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak bisa dijawab oleh teori-teori makro seperti fungsionalisme atau teori konflik. Itulah sebabnya muncul minat baru untuk mempelajari proses-proses yang terjadi antara individu dengan individu dan antara individu dengan masyarakat. Dalam hal ini, perhatian baru lebih diarahkan kepada pemahaman tentang proses-proses interaksi sosial dan akibat-akibatnya bagi individu dan masyarakat. Hal seperti inilah yang menjadi pokok perhatian dari perspektif interaksionisme simbolik.
Istilah interaksionisme simbolik yang digunakan pertama kalinya oleh Herbert Blumer, pada dasarnya merupakan satu perspektif psikologi sosial. Perspektif ini memusatkan perhatiannya pada analisa hubungan antar-pribadi. Individu dipandang sebagai pelaku yang menafsirkan, menilai, mendefinisikan, dan bertindak. Kendati istilah ini digunakan pertama kalinya oleh Blumer, dalam kenyataannya, beberapa pemikir sebelum dia telah memberikan sumbangan penting bag perkembangan perspektif ini. Karena itu pada bagian berikut ini akan diuraikan sedikit mengenai pikiran-pikiran dari pendahulu-pendahulu Blumer.
LATARBELAKANG HISTORIS INTERAKSIONISME SIMBOLIK
Para pemikir yang telah turut berjasa dalam mengembangkan perspektif ini adalah sebagai berikut:
- Georg Simmel: Simmel adalah sosiolog Eropa pertama yang melakukan studi yang serius tentang interaksi. Di menyebutnya 'sosiabilitas'. Menurut Simmel, struktur struktur dan proses-proses makro yang dipelajari oleh teori teori fungsionalisme dan teori konflik adalah cerminan dan interaksi-interaksi khusus antara sesama manusia. Simmel menaruh perhatian khusus tentang pemahaman akan bentuk-bentuk dan konsekuensi berbagai bentuk interaksi yang berbeda-beda. Salah satu bidang yang menjadi pusat perhatiannya ialah mengenai hubungan antara individu dan masyarakat. Di dalam bukunya yang terkenal 'Conflic and The Web of Group Affiliations' (1922/1955) dia misalnya mengatakan bahwa kepribadian manusia timbul dari dan dibentuk oleh kelompok atau budaya di mana seseorang hidup. Keberadaan seseorang, bagaimana dia berpikir dan bertingkah laku dipengaruhi oleh keanggotaannya dalam kelompok tertentu.
- William James: James adalah orang pertama yang mengembangkan secara jelas konsep tentang 'self' (diri). Menurut dia, manusia mempunyai kemampuan untuk melihat dirinya sebagai obyek. Dalam kemampuan itu, ia bisa mengembangkan suatu sikap dan perasaan terhadap dirinya sendiri. Lebih lanjut ia juga dapat membentuk tanggapan tanggapan terhadap perasaan-perasaan dan sikap-sikap itu. James menyebutkan kemampuan-kemampuan ini sebagai 'self'. Dia mengakui pentingnya kemampuan-kemampuan ini dalam membentuk cara-cara seseorang menanggapi dunia di sekitarnya.
- Charles Horton Cooley: Cooley menjelaskan dua hal tentang Self. Pertama, dia melihat self sebagai proses di mana individu-invividu bisa melihat diri mereka sendiri sebagai obyek bersama dengan obyek-obyek lainnya di dalam lingkungan sosial mereka. Kedua, dia mengakui bahwa 'self' muncul dari komunikasi dengan orang lain. Dalam berinteraksi dengan orang lain, seorang individu menafsirkan gerak-gerik orang lain dan dengan demikian dia dapat melihat dirinya berdasarkan sudut pandangan orang lain. Mereka membayangkan bagaimana orang lain menilai mereka. Dengan demikian mereka membentuk gambaran-gambaran tentang diri sendiri. Cooley menamakan proses ini "looking glass self (diri berdasarkan penglihatan orang lain). Dia juga mengakui bahwa 'self' muncul dari interaksi berdasarkan konteks kelompok. Dialah yang mengembangkan konsep tentang kelompok primer yang cukup menentukan perkembangan kepribadian seseorang.
- John Dewey: Sebagai pendukung utama pragmatisme, Dewey memusatkan perhatiannya pada proses penyesuaian diri manusia terhadap dunia. Menurut dia, keunikan manusia muncul dari proses penyesuaian diri dengan kondisi-kondisi hidupnya. Dewey menegaskan bahwa apa yang unik dalam diri manusia adalah kemampuannya untuk berpikir. Selama hidupnya dia berusaha untuk memahami kesadaran manusia. Pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya ialah: bagaimana cara kerjanya pikiran itu? Kemudian bagaimana pikiran membantu manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan? Konsep Dewey tentang pikiran sebagai suatu proses penyesuaian diri dengan lingkungan banyak mempengaruhi Herbert Mead. Dewey telah menunjukkan bahwa pikiran timbul dari interaksi dengan dunia sosial.
Sekalipun para pemikir ini menyajikan sejumlah konsep yang berhubungan dengan interaksionisme simbolik, namun mereka tidak berhasil membuat satu sintese atau sistematisasi mengenai perspektif itu. Interaksionisme simbolik berkembang menjadi satu perspektif dalam sosiologi berkat usaha dua teoritikus terkenal, yakni George Herbert Mead dan Herbert Blumer. G.H.Mead adalah pencetus dari teori ini sedangkan Blumer, yang tidak lain adalah murid dari Mead, mengembangkan ajaran gurunya itu.
PRINSIP-PRINSIP DASAR INTERAKSIONISME SIMBOLIK
Pendukung teori interaksionisme simbolik kontemporer, seperti Herbert Blummer dan kawan-kawannya telah berusaha mencari dan merumuskan prinsip-prinsip dasar dari teori ini. Ada beberapa prinsip dasar yang terkandung dalam teori ini.
1. Kemampuan Untuk Berpikir
Asumsi penting bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berpikir membedakan interaksionisme simbolik dari akarnya behaviorisme. Asumsi ini juga memberikan dasar yang kuat bagi orientasi teoritis kepada interaksionisme simbolik. Pendukung-pendukung teori ini menyatakan bahwa asumsi tentang kemampuan manusia untuk berpikir merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pencetus pencetus awal teori ini seperti James, Dewey, Thomas, Cooley, dan tentu saja Mead. Menurut mereka, individu individu di dalam masyarakat tidak dilihat sebagai makhluk-makhluk yang dimotivasi oleh faktor-faktor dari luar yang berada di luar kontrol mereka dalam bertindak. Sebaliknya, mereka melihat manusia sebagai makhluk yang reflektif dan karena itu bisa bertingkah laku secara reflektif.
Kemampuan untuk berpikir itu berada di dalam akal budi tetapi interaksionisme simbolik memahami akal budi secara lain. Mereka membedakan akal budi dari otak. Manusia harus memiliki otak supaya ia bisa mengembangkan akal budinya tetapi otak tidak otomatis menciptakan akal budi sebab binatang mempunyai otak namun tidak bisa berpikir. Interaksionisme simbolik juga tidak melihat akal budi sebagai benda (a thing) atau struktur fisis melainkan suatu proses yang berkesinambungan. Proses itu adalah bagian dari proses yang lebih luas aksi dan reaksi. Akal budi berhubungan erat dengan konsep-konsep lain di dalam interaksionisme simbolik termasuk sosialisasi, arti, simbol, interaksi dan masyarakat.
2. Berpikir dan Berinteraksi
Orang memiliki hanya kemampuan untuk berpikir yang bersifat umum. Kemampuan ini mesti dibentuk dalam proses interaksi sosial. Pandangan ini menghantar interaksionisme simbolik untuk memperhatikan satu bentuk khusus dari interaksi sosial, yakni sosialisasi. Kemampuan manusia untuk berpikir sudah dibentuk dalam sosialisasi pada masa anak anak dan berkembang selama sosialisasi ketika orang jadi dewasa. Pandangan interaksionisme simbolik tentang proses sosialisasi sedikit berbeda dari pandangan teori-teori lainnya. Bagi teori-teori lainnya, sosialisasi dilihat sebagai proses di mana individu mempelajari hal-hal yang ada di dalam masyarkat supaya mereka bisa bertahan hidup di dalam masyarakat. Tetapi bagi interaksionisme simbolik, sosialisasi adalah proses yang bersifat dinamis. Di dalam proses itu, manusia tidak cuma menerima informasi melainkan dia menginterpretasi dan menyesuaikan informasi itu sesuai dengan kebutuhannya.
Tentu saja interaksionisme simbolik tidak cuma tertarik pada sosialisasi saja melainkan pada interaksi pada umumnya. Interaksi adalah suatu proses di mana kemampuan untuk berpikir dikembangkan dan diungkapkan. Segala macam interaksi menyaring kemampuan kita untuk berpikir. Lebih dari itu berpikir mempengaruhi seseorang dalam bertingkah laku. Dalam kebanyakan tingkah-laku, seorang aktor harus memperhitungkan orang lain dan memutuskan bagaimana harus bertingkah laku supaya cocok dengan orang-orang lain. Namun demikian tidak semua interaksi melibatkan proses berpikir. Mereka membedakan dua macam interaksi, yakni interaksi non-simbolik yang tidak melibatkan proses berpikir dan interaksi simbolik yang melibatkan proses berpikir.
Pentingnya proses berpikir bagi interaksionisme sinbolik nampak dalam pandangan mereka tentang obyek. Blumer, misalnya, membedakan tiga macam obyek, yakni obyek fisis seperti kursi atau buku, obyek sosial seperti mahasiswa atau ibu, dan obyek abstrak sepert ide-ide atau prinsip-prinsip moral. Obyek-obyek tidak lebih dari benda-benda yang berada di luar sana tetapi mereka mempunyai arti penting ketika mereka didefinisikan oleh aktor. Karena itu setiap obyek mempunyai arti yang berbeda-beda untuk setiap aktor. Sebatang pohon mempunyai arti yang berbeda untuk seorang seniman, penyair, petani, religius, atau tukang kayu.
Individu-individu mempelajari arti-arti dari obyek-obyek itu selama proses sosialisasi. Kebanyakan kita mempelajari arti-arti yang sama dari obyek-obyek itu tetapi dalam hal tertentu kita bisa memberikan arti yang berbeda kepada obyek yang sama. Namun hal itu tidak berarti bahwa interaksionisme simbolik menyangkal atau tidak mengakui essensi dari obyek itu. Kayu adalah tetap kayu dalam artinya biasa. Perbedaannya hanya terletak dalam cara pandang yang berbeda.
3. Pembelajaran Makna Simbol-Simbol
Pendukung teori ini mengikuti Herbert Mead dalam menekankan pentingnya interaksi sosial. Menurut mereka, arti tidak berasal dari proses kegiatan mental melainkan dari proses interaksi. Pendapat seperti ini berasal dari pragmatisme Mead yang memusatkan perhatiannya pada aksi dan interaksi manusia dan bukannya pada kegiatan mental yang terisolir. Karena itu salah satu isu pokok untuk mereka ialah bukan bagaimana orang secara psikologis menciptakan arti-arti melainkan bagaimana mereka mempelajari arti-arti dalam interaksi pada umumnya dan dalam sosialisasi pada khususnya.
Dalam interaksi sosial, orang belajar simbol-simbol dan arti-arti. Kalau orang memberikan reaksi terhadap tanda tanda tanpa berpikir panjang maka dalam memberikan reaksi kepada simbol-simbol, orang harus terlebih dahulu berpikir. Tanda mempunyai arti di dalam diri mereka sendiri. Misalnya, gerak-gerik dari anjing yang marah adalah tanda bahwa ia marah. Sedangkan simbol adalah obyek sosial yang digunakan untuk mewakili (take place of) apa saja yang disepakati untuk diwakilinya. Misalnya, bendera merah putih adalah lambang bangsa Indonesia. Tidak semua obyek-obyek sosial mempunyai arti yang lain dari pada apa yang ada di dalam dirinya. Tetapi obyek-obyek yang merupakan simbol selalu mempunyai arti yang lain dari pada yang tampak di dalam obyek itu sendif. Orang menggunakan simbol-simbol untuk mengkomunikasikan sesuatu tentang diri mereka.
Pendukung teori interaksionisme simbolik menganggap bahasa sebagai sistem simbol yang mahabesar. Kata-kata adalah simbol karena mereka menunjuk kepada sesuatu yang lain. Kata-kata memungkinkan terciptanya simbol simbol yang lain. Perbuatan, obyek-obyek, dan kata-kata yang lain bisa ada dan mempunyai arti hanya karena mereka telah atau bisa dilukiskan melalui penggunaan kata kata.
Simbol-simbol menjadi penting karena memungkinkan manusia untuk bertindak secara sungguh-sungguh manusiawi. Oleh karena simbol-simbol, manusia tidak memberikan reaksi secara pasif kepada kenyataan yang dialaminya melainkan memberi arti kepadanya dan bertindak seturut arti yang diberikannya itu. Di samping kegunaan yang bersifat umum ini, simbol-simbol pada umumnya dan bahasa pada khususnya mempunyai sejumlah fungsi, antara lain:
- Simbol-simbol memungkinkan manusia untuk berhubungan dengan dunia material dan sosial dengan membolehkan mereka memberi nama, membuat kategori, dan mengingat obyek-obyek yang mereka temukan di mana saja. Dalam hal ini bahasa mempunyai peran yang sangat penting.
- Simbol-simbol menyempurnakan kemampuan manusia untuk memahami lingkungannya. Simbol-simbol menyempurnakan kemampuan manusia untuk berpikir. Dalam arti ini, berpikir dapat dianggap sebagai interaksi simbolik dengan diri sendiri.
- Simbol-simbol meningkatkan kemampuan manusia untuk memecahkan persoalan. Binatang coba memecahkan persoalan dengan trial and error sedangkan manusia bisa berpikir dengan menggunakan simbol-simbol sebelum melakukan pilihan-pilihan dalam melakukan sesuatu.
- Penggunaan simbol-simbol memungkinkan manusia bertransendensi dari segi waktu, tempat, dan bahkan diri mereka sendiri. Dengan menggunakan simbol-simbol manusia bisa membayangkan bagaimana hidup di masa lampau atau akan datang. Mereka juga bisa membayangkan tentang diri mereka sendiri berdasarkan pandangan orang lain (taking the role of the other).
- Simbol-simbol memungkinkan manusia bisa membayangkan kenyataan-kenyataan metafisis seperti surga atau neraka.
- Simbol-simbol memungkinkan manusia tidak diperbudak oleh lingkungannya. Mereka bisa lebih aktif ketimbang pasif dalam mengarahkan dirinya kepada sesuatu yang mereka perbuat.
4. Aksi dan Interaksi
Perhatian utama dari interaksionisme simbolik adalah dampak dari arti-arti dan simbol-simbol dalam aksi dan interaksi manusia. Dalam hal ini, mungkin baik kalau kita menggunakan pembedaan yang dibuat oleh Mead tentang covert behavior atau tingkah laku yang tersembunyi dan overt behavior atau tingkah-laku yang terbuka atau terang terangan. Covert behavior adalah proses berpikir yang melibatkan arti dan simbol-simbol. Sedangkan overt behavior adalah tingkah-laku aktual yang dilakukan oleh seorang aktor. Ada beberapa overt behavior yang tidak selalu melibatkan covert behavior. Artinya ada tingkah laku yang tidak didahului oleh proses berpikir. Covert behavior menjadi pokok perhatian dari interaksionisme simbolik sedangkan overt behavior menjadi pokok perhatian dari teori pertukaran.
Arti dan simbol-simbol memberikan aksi dan interaksi sosial suatu kekhasan. Tindakan sosial atau aksi pada dasarnya adalah sebuah tindakan di mana seseorang bertindak dengan selalu mempertimbangkan orang lain di dalam pikirannya. Dengan kata lain, dalam bertindak manusia selalu mengukur dampak atau impaknya untuk orang lain yang terlibat dalam tindakan itu. Sekalipun ada manusia yang bertindak tanpa berpikir namun manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan tindakan sosial, yakni tindakan yang terarah atau yang mempunyai tujuan tertentu.
Dalam proses interaksi sosial, manusia mengkomunikasikan arti-arti kepada orang-orang lain melalui simbol-simbol. Kemudian orang-orang lain menginterpretasi simbol-simbol itu dan mengarahkan tingkah-laku mereka berdasarkan interpretasi mereka. Dengan kata lain, dalam interaksi sosial, aktor-aktor terlibat dalam proses saling mempengaruhi.
5. Membuat Pilihan-Pilihan
Oleh karena kemampuan untuk mengerti arti dan simbol-simbol, maka manusia bisa melakukan pilihan terhadap tindakan-tindakan yang diambil. Manusia tidak perlu menerima begitu saja arti-arti dan simbol-simbol yang dipaksakan kepada mereka. Sebaliknya, mereka bisa bertindak berdasarkan interpretasi yang mereka buat sendiri terhadap situasi itu. Dengan kata lain, manusia mempunyai kemampuan untuk memberikan arti baru kepada situasi itu.
W.I. Thomas benar ketika menekankan pentingnya kemampuan kreatif manusia melalui konsepnya tentang definisi situasi. "If men define situasions as real, they are real in their consequences" (Thomas and Thomas, 1928: 572). Thomas menyadari bahwa kebanyakan definisi situasi yang kita buat didasarkan pada definisi situasi yang sudah diberikan oleh masyarakat. Hal itu terutama ditekankannya untuk menyinggung definisi situasi yang diberikan oleh institusi keluarga dan masyarakat yang begitu kuat. Namun Thomas juga yakin akan kemampuan manusia untuk memberikan definisi situasi yang spontan yang memungkinkan manusia bisa memilih dan memodifikasi arti dan simbol yang ada.
Kita juga bisa mengatakan bahwa bagi interaksionisme simbolik, aktor paling tidak memiliki otonomi. Dia tidak begitu saja dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari luar dirinya. Mereka mampu melakukan pilihan-pilihan yang bebas dan unik. Lebih dari itu, mereka juga mampu mengembangkan suatu kehidupan yang mempunyai keunikan dan gayanya sendiri.
6. Diri atau Self
Self adalah konsep yang teramat penting bagi interaksionisme simbolik. Guna memahami konsep ini lebih dari apa yang dimaksudkan oleh Mead, kita harus terlebih dahulu memahami ide looking glass self yang dikembangkan oleh Charles Horton Cooley. Apa yang dimaksudkan dengan looking glass self oleh Cooley adalah bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melihat diri sendiri sebagai halnya kita melihat obyek sosial lainnya. Ide tentang looking glass self ini dapat dipecah-pecahkan ke dalam tiga komponen, yakni: pertama, kita membayangkan bagaimana kita menampakkan diri kepada orang-orang lain; kedua, kita membayangkan bagaimana penilaian mereka terhadap penampilan kita; ketiga, bagaimana kita mengembangkan semacam perasaan tertentu sebagai akibat dari bayangan kita tentang penilaian orang lain itu.
Konsep Cooley tentang looking glass self dan konsep Mead tentang self adalah sangat penting dalam perkembangan konsep interaksionisme simbolik modern tentang self. Blumer mengartikan self secara sangat sederhana. Menurut dia, self semata-mata berarti bahwa manusia bisa menjadi obyek dari tindakannya sendiri. Dia berbuat sesuatu terhadap dirinya sendiri dan mengarahkan dirinya dalam tindakan tertentu. Self memungkinkan manusia bisa berbuat sesuatu dan bukan cuma bereaksi terhadap rangsangan atau stimuli yang berasal dari luar. Sebuah karya yang cukup kaya tentang self nampak dalam karya Erving Goffman.
7. Kelompok-Kelompok dan Masyarakat
Interaksionisme simbolik umumnya sangat kritis terhadap tendensi perspektif sosiologis lainnya yang memusatkan perhatiannya pada struktur yang makro. Herbert Blumer adalah orang yang berada paling bersifat depan dalam sikap kritis terhadap determinisme sosiologis di mana tindakan sosial manusia semata-mata dipengaruhi oleh struktur sosial. Dalam pandangan mereka aktor bukannya mendefinisikan situasi sebelum mereka bertindak melainkan dia hanya ikut saja kekuatan-kekuatan eksternal yang memaksanya untuk bertindak. Manusia dalam pandangan perspektif-perspektif tradisional itu tidak lebih dari pada semacam robot.
Hal itu sangat berbeda dengan pandangan interaksionisme simbolik sebagaimana dijelaskan oleh Blumer. Menurut Blumer, masyarakat tidak terbuat dari struktur-struktur yang bersifat makro. Esensi dari masyarakat harus ditemukan di dalam aktor-aktor dan tindakannya. Dia berkata: "Masyarakat manusia harus dilihat sebagai terdiri dari orang-orang yang sedang bertindak dan kehidupan masyarakat harus dilihat sebagai terdiri dari tindakan-tindakan mereka" (Blumer, 19769:85). Masyarakat manusia adalah tindakan. Kehidupan kelompok adalah keseluruhan tindakan yang sedang berlangsung. Namun demikian masyarakat tidak dibuat dari tindakan yang terisolasi. Di sana ada tindakan yang bersifat kolektif yang melibatkan individu-individu yang menyesuaikan tindakan mereka terhadap satu sama lain. Dengan kata lain, mereka saling mempengaruhi dalam melakukan tindakan. Mead menyebut hal ini sebagai social act (perbuatan sosial) dan Blumer menyebutnya join action (tindakan bersama).
Blumer tetap mengakui eksistensi dari struktur-struktur sosial yang bersifat makro. Tetapi dalam pandangannya struktur-struktur seperti itu mempunyai pengaruh yang sangat terbatas di dalam interaksionisme simbolik. Blumer sering berpendapat bahwa struktur-struktur yang bersifat makro itu tidak lebih dari pada semacam kerangka kerja di dalamnya aspek-aspek penting dari kehidupan sosial, aksi, dan interaksi terjadi. Struktur-struktur makro memang menetapkan kondisi-kondisi dan batasan-batasan terhadap tingkah laku manusia tetapi ia tidak menentukan tingkah laku itu. Struktur-struktur yang bersifat makro menjadi penting sejauh mereka menyiapkan simbol-simbol yang berguna bagi aktor untuk bertindak. Struktur-struktur tidak punya arti kalau aktor-aktor tidak memberikan arti kepadanya. Sebuah organisasi tidak secara otomatis berfungsi karena dia memiliki struktur atau aturan-aturan melainkan karena aktor-aktor di dalamnya berbuat sesuatu dan perbuatan itu merupakan hasil dari definisi situasi yang mereka buat.
Sumber : Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka. Hlmn : 95-98, 106- 116.



