Rabu, 06 Juli 2022

Teori Fungsionalisme Struktural

Banyak orang percaya bahwa fungsionalisme struktural merupakan teori sosiologi yang dominan. Pendapat serupa itu misalnya dikemukan oleh Robert Nisbet sebagaimana dikutip oleh Turner dan Maryanski yang mengatakan bahwa teori fungsionalisme struktural merupakan satu teori yang sangat penting di abad ini di dalam ilmu-ilmu sosial (Turner dan Maryanski, 1979: xi). Hal senada, dikemukakan oleh Kingsley Davis, Presiden Asosiasi Sosiolog Amerika dalam pidatonya tahun 1959 yang berjudul: "Mitos tentang Analisa Fungsional sebagai Metode Khusus dalam Sosiologi dan Antropologi" (Kingsley Davis, 1959: 757-772). Davis sendiri pernah mengemukakan bahwa setiap analisa yang bukan merupakan analisa fungsional bukanlah analisa sosiologis. Pernyataan Davis itu menimbulkan perdebatan yang cukup sengit karena ada banyak sosiolog yang menolak untuk berada di bawah payung fungsionalisme struktural dan tidak setuju dengan argumentasi Davis yang menyamakan analisa sosiologis dengan analisa fungsional (Wallace & Wolf: 13). Tetapi tentang apa dan bagaimanakah fungsionalisme struktural itu akan diuraikan secara garis besar di dalam bab ini.


DEFINISI FUNGSIONALISME STRUKTURAL
Fungsionalisme struktural adalah salah satu paham atau perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain dan bagian yang satu tak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain. Kemudian, perubahan yang terjadi pada salah satu bagian akan menyebabkan ketidakseimbangan dan pada gilirannya akan menciptakan perubahan pada bagian lain. Perkembangan fungsionalisme didasarkan atas model perkembangan sistem organisme yang didapat dalam biologi (Theodorson, 1969:67). Asumsi dasar teori ini ialah bahwa semua elemen atau unsur kehidupan masyarakat harus berfungsi atau fungsional sehingga masyarakat secara keseluruhan bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Guna memahami teori ini secara lebih baik, kita bisa menganalisa bisnis penerbangan yang berada di bandara udara. Berdasarkan struktur, bisnis penerbangan itu terdiri dari pelbagai unsur, elemen, atau komponen, seperti pesawat, pilot, pramugari, penjual tiket, ahli mesin, penumpang, petugas menara, karyawan restoran, dan sebagainya. Seturut teori fungsionalisme struktural, bisnis penerbangan itu akan berjalan lancar kalau masing-masing komponen tersebut di atas menjalankan fungsinya dengan baik. Kemacetan atau perubahan pada salah satu bagian akan menimbulkan kemacetan atau perubahan pada bagian yang lain sehingga menciptakan ketidakseimbangan atau kemacetan.

Demikianpun halnya dengan masyarakat luas. Seturut teori ini, masyarakat terdiri dari berbagai elemen atau insitusi. Elemen-elemen itu antara lain adalah ekonomi, politik, hukum, agama, pendidikan, keluarga, kebudayaan, adat-istiadat, dan lain-lain. Seturut pandangan teori ini, masyarakat luas akan berjalan normal kalau masing-masing elemen atau institusi menjalankan fungsinya dengan baik. Kemacetan pada salah satu institusi akan menyebabkan kemacetan pada institusi-institusi lain dan pada gilirannya akan menciptakan kemacetan pada masyarakat secara keseluruhan.

Secara ekstrim teori ini mengatakan bahwa segala sesuatu di dalam masyarakat ada fungsinya, termasuk hal-hal seperti kemiskinan, peperangan, atau kematian. Tetapi persoalannya ia berfungsi untuk siapa? Kemiskinan, misalnya, pasti berfungsi untuk orang kaya sebagai diuraikan oleh Herbert Ganz (1972:275-289) tetapi tentu tidak berfungsi untuk orang yang miskin. Karena itu sebagai Ilmuan sosial kita harus selalu dengar kritis bertanya entah sesuatu itu fungsional untuk siapa dan disfungional untuk siapa.


TEORI FUNGSIONALISME TENTANG STRATIFIKASI
Salah satu karya yang cukup terkenal dari fungsionalisme struktural ialah teorinya tentang stratifikasi sosial. Teori ini dikemukakan oleh Kingsley Davis dan Wilbert Moore (1945). Davis dan Moore menganggap stratifikasi sosial sebagai satu kenyataan yang universal dan perlu untuk mempertahankan keberlangsungan hidup suatu masyarakat. Mereka berpendapat bahwa tidak ada masyarakat yang tidak punya sistem stratifikasi sosial. Stratifikasi adalah suatu keharusan. Tetapi mereka menambahkan bahwa stratifikasi yang mereka maksudkan bukannya individu-individu yang ada di dalam sistem stratifikasi itu melainkan sistem posisi-posisi. Mereka memusatkan perhatiannya posisi-posisi yang mengandung prestise-prestise yang berbeda-beda di dalam masyarakat dan individu-individu yang menduduki posisi tertentu.

Dengan pikiran seperti itu, pokok persoalan untuk para pendukung teori ini ialah bagaimana masyarakat memotivasi dan menempatkan orang-orang ke dalam posisi-posisi yang tepat di dalam sistem stratifikasi. Di sini ada dua hal yang harus diperhatikan, yakni: pertama, bagaimana masyarakat membangkitkan di dalam individu-individu yang tertentu keinginan untuk menduduki posisi tertentu. Kedua, setelah orang itu menerima untuk menduduki posisi yang dirasa cocok bagaimana masyarakat membangkitkan di dalam diri orang itu keinginan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan yang dituntut oleh posisi itu atau bagaimana ia menjalankan tugas tugas sesuai dengan posisinya itu.

Persoalan penempatan orang-orang ke dalam posisi yang tepat muncul ke permukaan karena tiga alasan. Pertama, ada posisi-posisi tertentu yang lebih nyaman dibandingkan dengan posisi-poisisi lainnya. Kedua, ada posisi-posisi tertentu yang penting untuk menjaga keberlangsungan hidup suatu masyarakat dibandingkan dengan posisi-posisi lainnya. Ketiga, posisi-posisi di dalam masyarakat menuntut sejumlah bakat dan kemampuan tertentu. Itulah sebabnya penempatan orang ke dalam poisisi-posisi tertentu menjadi persoalan.

Kendati semua hal tersebut di atas berlaku untuk semua poisisi yang ada di dalam masyarakat, namun Davis dan Moore lebih memusatkan analisanya pada posisi-posisi yang mempunyai fungsi yang penting dalam menjaga kerbelangsungan hidup masyarakat. Menurut mereka, posisi posisi tinggi di dalam stratifikasi sosial dianggap sebagai posisi posisi yang kurang menyenangkan tetapi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan hidup masyarakat dan membutuhkan bakat dan kemampuan yang besar. Oleh karena itu masyarakat menambahkan di dalam posisi itu ganjaran ganjaran atau reward sehingga orang-orang yang bekerja di dalam posisi itu dapat melakukan pekerjaannya dengan rajin. Sebaliknya, posisi yang lebih rendah lebih menyenangkan tetapi kurang penting dan tidak membutuhkan bakat dan kemampuan khusus untuk melaksanakannya. Masyarakat juga tidak terlalu menganggap penting bahwa orang-orang menduduki posisi-posisi itu harus melaksanakan tugasnya dengan rajin. Tetapi masalah yang kedua ini tidak banyak didiskusikan oleh Davis dan Moore.

Agar posisi-posisi tinggi dan berat itu diduduki oleh orang-orang tertentu, maka masyarakat harus menyiapkan bagi posisi-posisi itu berbagai macam rewards atau ganjaran, seperti prestise yang besar, gaji yang tinggi, dan kenikmatan hidup. Misalnya, supaya kebutuhan dokter terjamin maka masyarakat menyiapkan berbagai ganjaran untuk mereka seperti prestise, gaji, dan kenikmatan hidup. Davis dan Moore berpendapat bahwa orang tidak mungkin ingin menghabiskan waktu dan tenaga melakukan studi ilmu kedokteran yang berat, lama, dan mahal, kalau posisi itu tidak menawarkan hal-hal yang disebutkan di atas. Jadi, orang-orang yang menduduki posisi penting harus mendapat banyak ganjaran supaya posisi itu tetap terisi. Kalau tidak, orang tidak bakal ingin mengisi posisi itu.

Penjelasan fungsionalisme struktural tentang stratifikasi sosial mendapat banyak kritikan dari lawan-lawannya. Adapun kritik-krtik yang paling menonjol adalah:
Teori fungsionalisme struktural melanggengkan posisi-posisi khusus yang memiliki kekuasaan, prestise, dan kekayaan. Hal ini terjadi karena mereka berpendapat bahwa posisi posisi itu layak mendapatkan kekuasaan, prestise, atau kekayaan demi keberlangsungan hidup masyarakat.
  • Teori ini juga menekankan perbedaan pentingnya posisi. posisi dalam menunjang keberlangsungan hidup masyarakat. Misalnya, manager perusahan lebih penting dari pada tukang sampah. Persoalannya ialah apakah benar demikian? Walaupun dibayar rendah, kelihatannya posisi tukang sampah lebih penting untuk keberlangsungan hidup suatu masyarakat dari pada seorang manager di kantornya.
  • Kalaupun ada posisi penting di dalam masyarakat, mereka tidak selalu mendapat ganjaran yang besar sesuai dengan posisinya. Seorang perawat, misalnya, pasti mempunyai posisi penting untuk keberlangsungan hidup suatu masyarakat namun dia dibayar lebih rendah dari bintang filem yang posisinya sama sekali kurang penting untuk keberlangsungan hidup masyarakat.
  • Apakah benar bahwa masyarakat kekurangan orang-orang yang mampu menduduki poisisi tingkat tinggi? Dalam kenyataannya, banyak orang yang dihalangi atau terhalang untuk dididik guna mencapai posisi-posisi tinggi itu sekalipun mereka mempunyai kemampuan. Dalam dunia kedokteran misalnya, selalu ada usaha untuk membatasi jumlah dokter dengan segala macam cara. Selain itu banyak orang yang tidak pernah mendapat kesempatan untuk menduduki posisi tinggi sekalipun jelas bahwa mereka mempunyai kemampuan dan bisa memberikan kontribusi terhadap masyarakat. Dalam kenyataannya, orang-orang yang menduduki posisi tinggi selalu berusaha untuk tetap bertahan di dalamnya posisinya karena kepentingan kepentingan pribadi.
  • Kita tidak harus menawarkan prestise, kekuasaan, dan harta supaya orang mau menduduki posisi-posisi tertentu. Orang bisa juga termotiviasi untuk menduduki posisi tertentu karena kepuasan yang mereka peroleh dari pekerjaannya atau karena mereka mendapat kesempatan untuk melakukan pelayanan.


TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS

Sepanjang hidupnya Talcott Parsons telah berusaha mengembangkan kerangka-kerangka teoritis. Ada perbedaan yang menyolok antara karya-karya awal Talcott Parsons dan karya-karyanya yang lebih kemudian. Karya-karya awal Talcot Parsons lebih berhubungan dengan usahanya membangun Teori Aksi atau Teori Tindakan sebagaimana nampak dalam bukunya The Structure of Social Action (1937). Sedangkan karya-karyanya yang kemudian lebih berhubungan dengan teori fungsionalisme struktural sebagaimana diuraikan di dalam bukunya yang berjudul The Social System (1951). Pada bagian berikut ini, kita akan menguraikan beberapa pokok pikiran penting dari Talcott Parsons.


AGIL
Fungsi diartikan sebagai segala kegiatan yang diarahkan kepada memenuhi kebutuhan atau kebutuhan-kebutuhan dari sebuah sistem (Rocher, 1975:40). Dengan menggunakan definisi itu, Parsons percaya bahwa ada empat persyaratan mutlak yang harus ada supaya termasuk masyarakat bisa berfungsi. Keempat persayaratan itu disebutnya AGIL. AGIL adalah singkatan dari Adaptation (A), Goal Attainment (G), Integration (1), dan Latency (pattern maintenance) (L). Demi keberlangsungan hidupnya, maka masyarakat harus menjalankan fungsi-fungsi tersebut, yakni:
  • Adaptasi (adaptation): Supaya masyarakat bisa bertahan dia harus mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan dengan dirinya.
  • Pencapai tujuan (goal attainment): Sebuah sistem harus mampu menentukan tujuannya dan berusaha mericapai tujuan-tujuan yang telah dirumuskan itu.
  • Integrasi (integration): Masyarakat harus mengatur hubungan di antara komponen-komponennya supaya dia bisa berfungsi secara maksimal.
  • Latensi atau pemiliharaan pola-pola yang sudah ada Setiap masyarakat harus mempertahankan, memperbaiki, dan membaharui baik motivasi individu individu maupun pola-pola budaya yang menciptakan dan mepertahankan motivasi-motivasi itu.

Keempat persyaratan fungsional itu mempunyai hubungan erat dengan keempat sistem tindakan sebagaimana akan diuraikan pada bagian berikut nanti. Sistem organisme biologis dalam sistem tindakan berhubungan dengan fungsi adaptasi yakni menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengubah lingkungan sesuai dengan kebutuhan. Sistem kepribadian melaksanakan fungsi percapaian tujuan dengan merumuskan tujuan dan meng gerakkan segala sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Sistem sosial berhubungan dengan fungsi integrasi dengan mengontrol komponen-komponen pembentuk masyarakat itu. Akhirnya sistem kebudayaan berhubungan dengan fungsi pemeliharaan pola-pola atau struktur-struktur yang ada dengan menyiapkan norma-norma dan nilai-nilai yang memotivasi mereka dalam berbuat sesuatu.

Sistem Tindakan
Konsep tentang sistem merupakan inti dari setiap diskusi mengenai Talcott Parsons. Sistem mengandaikan adanya kesatuan antara bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain. Kesatuan antara bagian itu pada umumnya mempunyai tujuan tertentu. Dengan kata lain, bagian bagian itu membentuk satu kesatuan (sistem) demi tercapainya tujuan atau maksud tertentu (Abercrombie cs., 1984:22). Sebagaimana telah disebutkan di atas, teori Parsons mengenai tindakan, meliputi empat sistem, yakni: sistem budaya, sistem sosial, sistem kepribadian, dan sistem organisme (aspek biologis manusia sebagai satu sistem).

Bagaimanakah Parsons mendefinisikan ke empat sistem itu? Pertama adalah sistem budaya. Dalam sistem ini, unit analisis yang paling dasar ialah tentang "arti" atau "sistem simbolik". Beberapa contoh dari sistem-sistem simbolik adalah kepercayaan religius, bahasa, dan nilai-nilai. Dalam tingkatan ini, Parsons memusatkan perhatiannya pada nilai nilai yang dihayati bersama. Konsep tentang sosialisasi, misalnya, mempunyai hubungan dengan tingkatan analisa ini. Menurut dia, sosialisasi terjadi ketika nilai-nilai yang dihayati bersama dalam masyarakat diinternalisir oleh anggota-anggota masyarakat itu. Dalam hal ini, anggota anggota suatu masyarakat membuat nilai-nilai masyarakat menjadi nilai-nilainya sendiri. Sosialisasi mempunyai kekuatan integratif yang sangat tinggi dalam mepertahankan kontrol sosial dan keutuhan masyarakat.

Sistem Parsons berikutnya adalah sistem sosial. Sistem ini mendapat perhatian yang cukup besar dalam uraiannya. Kesatuan yang paling dasar dalam analisa ini adalah interaksi berdasarkan peran. Menurut Talcott Parsons sistem sosial adalah interaksi antara dua atau lebih individu di dalam suatu lingkungan tertentu. Tetapi interaksi itu tidak terbatas antara inidividu-individu melainkan juga terdapat antara kelompok-kelompok, institusi-institusi, masyarakat. masyarakat, dan organisasi-organisasi internasional. Salah satu contoh dan sistem sosial adalah universitas yang memiliki struktur dan bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain. Sistem sosial selalu terarah kepada ekuilibrium (keseimbangan).

Sistem yang ketiga adalah sistem kepribadian. Kesatuan yang paling dasar dari unit ini ialah individu merupakan aktor atau pelaku. Pusat perhatiannya dalam analisa ini ialah kebutuhan-kebutuhan, motif-motif, dan sikap-sikap, seperti motivasi untuk mendapat kepuasan atau keuntungan. Sebagaimana akan kita lihat pada bab-bab berikutnya, motivasi untuk mendapat kepuasan atau keuntungan ini berlaku juga dalam teori konflik dan teori pertukaran. Asumsi dasar dari kedua teori itu ialah bahwa manusia ingat diri dan cenderung memperbesar keuntungan bagi dirinya sendiri.

Sistem yang terakhir dari keempat sistem itu ialah sistem organisme atau aspek biologis dari manusia. Kesatuan yang paling dasar dalam sistem ini adalah manusia dalam arti biologis, yakni aspek fisik dari manusia itu. Hal lain yang termasuk ke dalam aspek fisik ini ialah lingkungan fisik di mana manusia itu hidup. Dalam hubungan dengan sistem ini Parsons menyebutkan secara khusus sistem syaraf dan kegiatan motorik. Salah satu minat Parsons pada saat-saat terakhir hidupnya ialah mengembangkan sebuah cabang baru sosiologi yang disebut sosiobiologi. Dalam studi itu ia mempelajari perilaku sosial berdasarkan hukum-hukum biologis.


Skema Tindakan
Skema tindakan Parsons memiliki empat komponen, yakni:
  • Pelaku atau Aktor: Aktor atau pelaku ini dapat terdiri dari seorang individu atau suatu kolektivitas. Parsons melihat aktor ini sebagai termotivisir untuk mencapai tujuan.
  • Tujuan (Goal): Tujuan yang ingin dicapai biasanya selaras dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Misalnya, aktor ingin memperoleh gelar Sarjana.
  • Situasi: Tindakan untuk mencapai tujuan ini biasanya terjadi dalam situasi. Hal-hal yang termasuk dalam situasi ialah prasarana dan kondisi. Prasarana berarti fasilitas, alat-alat, dan biaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Sedangkan kondisi adalah halangan yang menghambat tercapainya tujuan. Misalnya aktor mempunyai biaya dan kemampuan intelektual untuk kuliah guna mendapat gelar sarjana, tetapi sayang ia bekerja purna waktu pada suatu perusahan sehingga sulit untuk kuliah.
  • Standar-standar normatif: Ini adalah skema tindakan yang paling penting menurut Parsons. Guna mencapai tujuan, aktor harus memenuhi sejumlah standar atau aturan yang berlaku guna memperoleh sarjana itu. Norma-norma adalah sangat penting dalam skema tindakan Parsons. Oleh karena itu Parsons menganggap sistem budaya sebagai hal yang paling penting dalam empat sistem tindakan yang dikemukakannya.

Perubahan Sosial
Salah satu kritik yang dilancarkan terhadap karya Parsons yang terlalu mengutamakan ekuilibrium ialah ia tidak bisa menjelaskan bagaimana terjadinya perubahan sosial. Hal itu bisa kelihatan dengan jelas karena dalam suatu ekuilibrium atau keseimbangan tidak ada ruangan untuk perubahan. Namun demikian Parsons telah menjelaskan hal itu dalam salah satu bab yang berjudul "Proses perubahan dalam sistem-sistem sosial", di dalam bukunya Social System (1951). Konsep perubahan sosial Parsons bersifat perlahan-lahan dan selalu dalam usaha untuk menyesuaikan diri demi terciptanya kembali ekuilibrium. Dengan kata lain, perubahan yang dimaksudkan oleh Parsons itu bersifat evolusioner dan bukannya revolusioner.

Konsep demikian, yakni perubahan yang bersifat evolusioner, sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru sama sekali. Keprihatinan para sosiolog pada awal perkembangan sosiologi ialah berusaha untuk menjelaskan proses tranformasi yang terjadi pada masyarakat di sekitar mereka Dua revolusi besar di Eropa yakni revolusi Prancis dan Revolusi Industri di Inggris menandakan lenyapnya keteraturan seperti yang terdapat pada masyarakat aristokratis dan pada masyarakat agraris sebelumnya. Para ilmuan yang hidup pada jaman itu tidak henti-hentinya berpikir tentang perubahan masyarakat dari bentuk yang satu ke bentuk lainnya yang sama sekali baru.

Konsep tentang perubahan yang bersifat evolusioner dan Parsons dipengaruhi oleh para pendahulunya sepert Aguste Comte, Herbert Spencer, dan Emile Durkheim Aguste Comte yang seringkali disebut sebagai bapak sosiologi percaya bahwa manusia berkembang melalui tiga tahap sesuai dengan perkembangan tiga tahap masyarakat yakni, teologis, metafisis, dan positif. Kemudian Herbert Spencer mengaplikasikan teori evolusi Darwin untuk masyarakat. Dia berpendapat bahwa sebagaimana makhluk hidup, demikian juga masyarakat berkembang dari tahap yang sederhana menuju sesuatu yang kompleks atau majemuk. Lalu Durkheim juga menjelaskan perubahan dari masyarakat yang mekanik kepada masyarakat yang semakin organik oleh adanya kemajuan dan pembagian kerja.



TEORI TARAF MENENGAH ROBERT K. MERTON

Robert King Merton adalah salah seorang murid Talcott Parsons. Tetapi pada awalnya ia datang ke Harvard bukan untuk belajar pada Talcott Parsons melainkan pada Pitirim A. Sorokin yang waktu itu berseberangan dengan Talcott Parsons. Tetapi lama kelamaan ia tertarik dengan kuliah-kuliah Talcott Parsons khususnya dengan teori-teori yang sedang dibangunnya. Sekalipun ia adalah murid yang setia dari Talcott Parsons, namun Merton tidak menerima begitu saja semua yang dikatakan oleh Parsons. Dia melengkapi teori-teori Parsons dengan teori-teorinya sendiri. Pada bagian berikut ini, kita akan menguraikan beberapa pokok pikiran Robert Merton yang berhubungan dengan fungsionalisme struktural, seperti teori teori taraf menengah, analisa fungsional, teori tentang penyimpangan, dan role-set (perangkat peran).

Teori-Teori Taraf Menengah
Salah satu hal yang membedakan Merton dari Parsons ialah keputusannya untuk meninggalkan usaha guna menyusun teori-teori besar yang bersifat umum. Sebaliknya dia lebih suka membangun teori yang disebutnya "teori taraf menengah". Teori taraf menengah adalah teori-teori yang dimulai dengan asumsi-asumsi. Dari asumsi-asumsi itu ditarik hipotesis-hipotesis yang kemudian diuji secara empiris. Teori-teori taraf menengah adalah teori-teori khusus yang bisa diaplikasikan pada sejumlah data. Dalam pandangan Merton, teori-teori taraf menengah secara perlahan-lahan dapat menjadi teori yang lebih bersifat umum. Dalam usaha untuk membangun teori-teori taraf menengah, Merton berpegang teguh pada karya-karya besar dari Durkheim dan Weber. Dua contoh klasik dari teori-teori taraf menengah adalah Suicide dari Durkhein dan The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism dari Weber Kedua karya itu akan didiskusikan secara singkat berikut ini.

Karya klasik Suicide Durkheim merupakan contoh yang paling tepat dari teori taraf menengah Merton. Dalam karyanya itu, Durkheim tidak cuma melukiskan angka-angka bunuh diri di Eropa pada abad 19. Sebaliknya, dia memulai karyanya itu dengan asumsi dasar bahwa peraturan atau integrasi yang terlalu banyak atau terlalu kurang tidak terlalu sehat untuk suatu masyarakat. Berdasarkan asumsi dasar ini, ia menarik hipotesis khusus tentang bunuh diri. Guna menunjukkan pendekatan Durkheim dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan teori taraf menengah itu, Merton merumuskan kembali argumentasi Durkheim seperti berikut ini.
  • Kohesi sosial (atau solidaritas) memberikan bantuan atau dukungan bagi anggota kelompok yang mengalami tekanan dan kecemasan yang hebat.
  • Bunuh diri berfungsi untuk membebaskan seseorang dari perasaan tertekan dan kecemasan.
  • Orang-orang Katolik mempunyai solidaritas yang lebih kuat daripada orang-orang Protestan.
  • Karena itu tingkat bunuh diri pada orang Katolik seharusnya jauh lebih rendah dari pada orang-orang Protestan.

Dalam terang analisis fungsionalis, Durkheim mendasarkan teorinya pada kohesi sosial atau solidaritas dan pada dua kebutuhan sosial yang khusus, yakni peraturan dan integrasi. Hipotesisnya adalah bahwa masyarakat yang ditandai oleh terlalu banyak atau terlalu sedikit peraturan atau integrasi akan memperoleh tingkat bunuh diri yang agak tinggi. Ikatan yang terlalu kuat terhadap kehidupan kolektif (integrasi yang terlalu tinggi) bisa menyebabkan bunuh diri. Misalnya, di dalam suatu masyarakat yang sederhana, seorang pemuda dianggap pengecut oleh teman-temannya. Anggapan-anggapan itu memalukan anak muda itu. Ia malu terhadap masyarakat yang menjunjung tinggi nilai keberanian. Oleh karena rasa malu itu, dia akhirnya membunuh diri. Tipe bunuh diri seperti ini disebut bunuh diri altruistik.

Selain itu, Durkheim juga menyebut jenis bunuh diri yang lain, yakni bunuh diri anomik. Tipe bunuh diri anomik terjadi sebagai reaksi terhadap perubahan-perubahan sosial yang cepat di mana orang-orang kehilangan pegangan. Keadaan tersebut menimbulkan frustrasi, ketidakpuasan, dan keputusasaan. Hal demikian bisa menyebabkan orang membunuh diri. Sebagai tambahan dapatlah dikatakan bahwa anomie, adalah istilah yang digunakan oleh Durkheim untuk tidak adanya norma atau peraturan. Durkheim memusatkan perhatiannya pada akibat dari anomie ini. Menurut dia, anomie adalah suatu keadaan patologis untuk suatu masyarakat. Akibat dari anomie adalah meningkatnya angka bunuh diri.

Studi Durkheim tentang tingkatan bunuh diri ini merupakan satu contoh dari teori taraf menengah. Contoh lain dari teori taraf menengah ialah karya Weber tentang The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Dalam studinya itu, Weber membuat analisa tentang pentingnya sistem kepercayaan Calvinis dalam kebangkitan kapitalisme di Eropa Barat. Dalam Calvinisme terdapat kepercayaan bahwa manusia sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka. Tetapi manusia itu sendiri tidak tahu apakah ia masuk surga dan neraka. Karena itu ia hidup dalam kecemasan. Satu-satunya cara untuk tahu apakah ia mungkin masuk surga adalah dengan melihat hasil pekerjaannya. Kalau ia berhasil dalam pekerjaannya, maka kemungkinan besar Tuhan berkenan kepadanya dan kalau Tuhan berkenan kepadanya, kemungkinan besar ia masuk surga. Oleh karena itu manusia berlomba-lomba untuk berhasil dalam pekerjaan dengan mengembangkan etika kerja keras, menabung, hidup hemat, dan lain-lain. Dengan demikian, motif untuk bekerja pada mereka bukanlah tujuan ekonomis untuk menjadi kaya melainkan tujuan religius agar mereka bisa masuk surga.

Analisis Fungsional
Selain mengembangkan teori-teori taraf menengah, Robert K. Merton juga melengkapi analisanya tentang teori fungsionalisme struktural dengan beberapa pokok pikiran baru yakni mengenai disfungsi, fungsi yang tampak (manifest function), dan fungsi yang tak tampak (latent function).

Disfungsi
Karya Talcott Parsons cenderung menyimpulkan bahwa semua institusi adalah baik dalam dirinya atau berfungsi secara baik terhadap masyarakat. Kecendrungan demikian telah menyebabkan fungsionalisme banyak dikritik. Merton sendiri, tidak sependapat dengan Parsons dalam hal itu. Sebaliknya, ia melihat bahwa ada hal-hal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal yang tidak berfungsi itu disebutnya dengan 'disfungsi'. Merton menghimbau para sosiolog untuk secara aktif menunjukkan hal-hal yang tidak berfungsi itu.

Konsep Merton tentang disfungsi meliputi dua pikiran yang berbeda tetapi saling melengkapi. Pertama, sesuatu bisa saja mempunyai akibat yang secara umum tidak berfungsi. Dalam perkataannya sendiri "sesuatu bisa saja memiliki akibat-akibat yang mengurangkan adaptasi atau derajad penyesuaian diri dari sistem itu" (Merton, 1957: 105). Kedua, akibat-akibat ini mungkin saja berbeda menurut kepentingan orang-orang yang terlibat. Karena itu, seorang sosiolog mesti bertanya: "berfungsi atau tidak berfungsi untuk siapa?"

Salah satu contoh dari apa yang dimaksudkan oleh Merton dengan disfungsi tampak dalam diskusinya tentang birokrasi. Secara umum, birokrasi berfungsi baik sekali dalam suatu masyarakat industri di mana orang orang ditempatkan berdasarkan bakat dan kemampuannya. Namun pemahaman Merton tentang disfungsi menyadarkan dia akan adanya bahaya apabila ketaatan terhadap aturan-aturan birokrasi menjadi tujuan dan bukan alat untuk mencapai tujuan. Menurut Merton, kepatuhan terhadap hukum adalah baik. Tetapi manusia tidak boleh dikorbankan demi aturan. la sependapat dengan Weber yang menekankan pentingnya birokrasi demi tercapainya efesiensi. Tetapi di pihak lain, ia melihat birokrasi sebagai tirani karena aturan-aturannya yang sangat kaku dan tidak fleksibel.

Pokok pikiran Robert Merton yang kedua ini, yakni bahwa suatu institusi secara umum tidak harus selalu berfungsi atau tidak berfungsi tetapi berfungsi untuk kelompok orang tertentu dan tidak berfungsi untuk kelompok orang yang lain, merupakan pergeseran dari fungsionalisme yang secara implisit menyetujui adanya status-quo. Dalam beberapa hal pikiran Merton ini dekat dengan teori konflik. Merton berbicara tentang apakah institusi-institusi dan praktek-praktek yang dijalankan dalam institusi-institusi itu berfungsi atau tidak berfungsi. Sedangkan teori konflik pada umumnya menunjuk kepada kepentingan orang-orang dan sejauh mana kepentingan itu dipenuhi. Namun demikian, keduanya sama-sama memusatkan perhatian pada keuntungan berbeda yang diperoleh berbagai kelompok dari aturan-aturan sosial.

Kita bisa melihat apa yang dimaksudkan oleh Merton dengan tidak berfungsi. Seorang sosiolog harus selalu ingat bahwa tidak semua institusi bisa berfungsi untuk semua orang. la mungkin berfungsi untuk kelo.npok yang satu, tetapi tidak berfungsi untuk kelompok yang lain. Misalnya institusi agama. Sejak Durkheim, orang menekankan pentingnya agama institusional. Agama institusional dianggap berjasa untuk mengintegrasikan masyarakat dengan mengajarkan nilai-nilai yang merukunkan masyarakat. Namun demikian, Merton berpendapat bahwa agama institusional sering kali tidak berfungsi bagi para pembangkang yang kemudian menjadi korban perlakuan sewenang-wenang dari agama institusional. Selain itu, pertentangan dan konflik serta perang agama menunjukkan bahwa agama institusional itu tidak berfungsi dalam skala yang lebih luas.

Kenyataan bahwa sesuatu bisa berfungsi untuk kelompok yang satu dan tidak berfungsi untuk kelompok yang lain menyebabkan para sosiolog harus berhati-hati dalam mempertimbangkan entah bagi kelompok mana sesuatu itu bisa berfungsi dan bagi kelompok mana sesuatu itu tidak berfungsi. Dengan konsep disfungsi ini Merton menolak anggapan bahwa fungsionalisme adalah konservatif secara instrinsik. Fungsionalisme bisa secara instrinsik konservatif kalau ia menyimpulkan bahwa segala sesuatu berfungsi secara sama untuk semua orang dan kalau ia memperlakukan masyarakat dan anggota anggotanya secara sama. Karena itu seorang sosiolog harus selalu bertanya: "berfungsi untuk siapa?"

Fungsi-Fungsi Tampak dan Tak-Tampak
Pembedaan yang dibuat oleh Merton tentang fungsi yang tampak dan tak-tampak lebih jauh memperjelas analisa fungsional dan mengimbangi teori fungsionalisme Parsons. Fungsi-fungsi yang tampak, adalah konsekuensi-konsekuensi atau akibat-akibat yang orang harapkan dari suatu tindakan sosial atau situasi sosial. Sedangkan fungsi-fungsi tak-tampak adalah konsekuensi atau akibat yang tidak diharapkan atau pun tidak dimaksudkan. Misalnya: Adanya undang-undang upah minimum dimaksudkan untuk memberi keuntungan bagi para buruh. Ini adalah fungsi yang kelihatan atau diperhitungkan. Tetapi undang-undang itu bisa saja membuat para pemilik perusahaan menggantikan tenaga buruh yang gajinya mahal dengan mesin-mesin. Akibatnya terjadilah pengangguran. Dalam hal ini pengangguran adalah fungsi yang yang tidak kelihatan atau konsekuensi-konsekuensi yang tidak diperhitungkan dari undang-undang upah minimum itu

Ide tentang fungsi yang tak-tampak sama sekali tidak baru. Diskusi Durkheim tentang kohesi sosial sebagai akibat dari hukuman adalah juga salah satu fungsi laten dari hukuman. Hukuman yang pada mulanya dilakukan sebagai reaksi atas kejahatan, kemudian berguna juga untuk menguatkan kelompok masyarakat. Apa yang baru dalam uraian Merton ialah bahwa ia menekankan perbedaan antara kedua fungsi itu. Ia juga menekankan supaya seorang sosiolog harus berusaha semaksimal mungkin untuk melihat hal-hal kelihatan oleh masyarakat awam. Seorang sosiolog harus berani 'berjalan' melampaui alasan-alasan yang yang tidak diberikan oleh seorang individu terhadap tindakan yang dilakukannya.

Menurut Merton, sebagai suatu strategi untuk penelitian empiris, analisa fungsional memusatkan perhatiannya pada konsekuensi-konsekuensi obyektif dari pola tindakan yang melembaga, yakni apakah konsekuensi-konsekuensi itu dimaksudkan dengan sadar atau tidak. Konsekuensi-konsekuensi itu dinilai menurut apakah fungsional, disfungsional, atau non-fungsional untuk pelbagai sistem di mana konsekuensi-konsekuensi itu berada. Harus diakui bahwa bahwa tindakan itu bisa fungsional (berfungsi) untuk satu sistem di mana tindakan itu terjadi, dan disfungsional atau nonfungsional untuk yang lainnya.

Perangkat Peran
Pada tahun 1957, Merton menerbitkan artikel yang berjudul "Perangkat peran (role-set): problem-problem dalam teori sosiologi" dalam The British Journal of Sociology (Hunt, 1961:52). Sejak saat itu, artikel yang sama telah dicetak berulangkali baik di Amerika Serikat maupun di luar Amerika. Merton memulai analisanya dengan mendefinisikan status dan peran sebagaimana dibuat oleh Ralph Linton. Status berarti suatu posisi di dalam struktur sosial yang disertai dengan hak dan kewajibannya. Sedangkan peran berarti pola tingkah laku yang diharapkan masyarakat dari orang yang menduduki status tertentu. Menurut Linton, setiap status mempunyai satu peran. Setiap individu di dalam masyarakat memilki banyak status yang disebutnya status-set. Oleh karena itu setiap individu juga memiliki banyak peranan dan disebutnya role-set (Wallace-Wolf, 1980:68).

Merton berusaha mengembangkan konsep Linton itu dengan memperkenalkan pikiran bahwa setiap status bukan saja memiliki satu peran melainkan sejumlah peran. Dia menamakan peran-peran itu dengan perangkat peran (role-set). Perangkat peran adalah kelengkapan dari hubungan-hubungan berdasarkan peran yang dimiliki oleh orang karena menduduki status-status sosial khusus" (Merton, 1957:369). Menurut Merton, setiap inividu dalam masyarakat memiliki bermacam-macam status, dan masing-masing status memiliki berbagai macam peran. Peran yang banyak itu dinamakannya "role-set" atau perangkat peran Sedangkan status yang banyak itu dinamakannya perangkat-perangkat status atau status-set.

Dalam artikel tentang role-set itu, Merton lebih memusatkan perhatiannya pada perangkat peran dan pada perangkat status. Artikel yang ditulisnya itu dikhususkan untuk menganalisa mekanisme sosial yang mengintegrasikan peran-peran yang banyak itu sehingga tidak terjadi konflik. Merton memusatkan analisanya pada struktur sosial dan menyelidiki elemen-elemen fungsional dan elemen-elemen disfungsional. Elemen fungsional berarti elemen-elemen yang menghindari terjadinya ketidak-stabilan potensial (integrasi) di dalam diri orang yang mempunyai banyak peran itu. Sedangkan elemen disfungsional adalah elemen-elemen yang secara tidak sadar menciptakan ketidakstabilan (konflik) dalam diri orang yang mempunyai banyak peran itu.

Sebagai contoh adalah perangkat peran seorang mahasiswa Perguruan Tinggi. Seorang mahasiswa dalam Perguruan Tinggi mempunyai peranan yang berbeda terhadap para dosen, mahasiswa-mahasiswa lainnya, pembiming akademik, dekan, pegawai-pegawai, dan lain-lain. Dalam hubungan-hubungan itu, terdapat kemungkinan potensial untuk terjadinya konflik. Namun demikian, Merton menyebutkan empat mekanisme yang bisa mengurangkan konflik itu. peranan

  • Pertama, intensitas keterlibatan dalam peran yang berbeda-beda. Seorang mahasiswa, misalnya, lebih banyak terlibat dalam urusan dengan mahasiswa lain dari pada dengan dekan.
  • Kedua, orang-orang yang terlibat dalam role set bisa saja bersaing satu sama lain untuk memperoleh kekuasaan. Dalam situasi tertentu, keterlibatan mereka dalam konflik bisa saja memberikan lebih banyak otonomi kepada orang yang mempunyai peran tertentu itu. Misalnya: situasi di mana Rektor berada dalam konflik dengan para dosen akan memberikan lebih banyak otonomi kepada mahasiswa.
  • Ketiga, peran itu cukup terisolir sehingga sulit diamati oleh orang-orang yang berada dalam role set itu.
  • Keempat, tingkat konflik yang dialami oleh anggota anggota yang berada dalam role set bisa diamati. Apabila menjadi jelas bahwa ada konflik, maka adalah tugas dari anggota-anggota role set untuk menyelesaikan konflik itu. Misalnya, Ketua Prodi yang hendak mengadakan pertemuan dengan senat mahasiswa pada jam kuliah harus merundingkan hal itu dengan dosen-dosen yang mempunyai kuliah pada jam yang bersangkutan. Dengan demikian konflik bisa diatasi.

Diskusi tentang role set memberikan ilustrasi tentang penekanan Merton kepada analisa elemen-elemen disfungsional dan alternatif-alternatif fungsional. Merton melihat tuntutan-tuntutan struktur sosial yang tidak kompatibel atau menyebabkan konflik dan kemudian mencari tahu alternatif-alternatif fungsional. Sebagai seorang fungsionalis, Merton melihat role set sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantungan dan mencari tahu bagaimana keteraturan antara bagian-bagian itu bisa dipertahankan.

KESIMPULAN
Dalam bab ini kita telah membicarakan secara cukup panjang lebar tentang fungsionalisme struktural. Pembahasan kita dimulai dengan mendefinisikan fungsionalisme struktural Kemudian kita juga menjelaskan teori fungsionalisme dari Davis dan Moore tentang stratifikasi sosial. Mereka berargumentasi bahwa stratifikasi sosial adalah perlu untuk mempertahankan keberlangsungan hidup suatu masyarakat.

Selanjutnya karya dari dua tokoh utama teori fungsionalisme struktural yakni Talcott Parsons dan Robert King Merton mendapat tempat cukup luas dalam uraian ini. Dalam apa yang disebutnya AGIL Talcott Parsons menjelaskan empat persyaratan fungsional suatu masyarakat. Selain itu ia juga menjelaskan tentang sistem tindakan, skema tindakar. dan perubahan sosial. Sedangkan Robert Merton, dalam usaha memperbaiki grand-theory dari gurunya Talcott Parsons mengemukakan pokok-pokok pikiran baru seperti teori taraf menengah, disfungsi, fungsi manifest, fungsi latent, dan role set.



Sumber : Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher. Hlmn : 47-72.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar