Sejarah sosiologi Prancis klasik selalu dikaitkan dengan Auguste Comte. Begitu pula di Inggris yang tidak bisa lepas dari Herbert Spencer. Adapun perkembangan sosiologi di Jerman dapat dikatakan cukup unik. Dalam konteks ini, Karl Marx bukanlah sosiolog sebagaimana Max Weber dan Georg Simmel. Dalam tradisi sosiologi Jerman, Karl Marx kurang tepat jika disebut sosiolog asal Jerman, sebagaimana didefinisikan orang-orang saat ini. Namun demikian, harus diakui bahwa Karl Marx adalah pemikir kenamaan yang karya-karyanya sangat luas dan multidisipliner.
Oleh para pakar, Marx lebih dianggap sebagai ekonom daripada sosiolog. Karyanya lebih fokus menyoroti cara manusia, negara, pasar, dan kapital (modal) saling terkait satu sama lain daripada membahas masyarakat dan kehidupan sosial secara spesifik. Meskipun begitu, gagasan dan pemikiran Marx yang tertuang dalam karya-karyanya tidak sedikit yang bersifat sosiologis. Pembahasan kali ini secara khusus akan melihat gagasan sosiologi dari Karl Marx.
Profil Singkat Karl Marx
Karl Marx lahir di Trier, Prussia (kini Jerman), pada 5 Mei 1818. Ayahnya yang berprofesi sebagai pengacara memberikan nuansa kehidupan kelas menengah pada keluarganya. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga rabi (pemuka agama Yahudi). Namun, karena alasan bisnis, ayahnya berpindah keyakinan menjadi Lutherian ketika Marx masih sangat muda.
Pada tahun 1841, Marx memperoleh gelar doktor dari Universitas Berlin yang ketika itu sangat dipengaruhi pemikiran Hegel. Setelah lulus, ia menjadi penulis di surat kabar berhaluan radikal dan liberal. Hanya dalam kurun waktu sepuluh bulan, la diangkat menjadi kepala editor Tulisan-tulisan Marx pada saat itu membahas ide-ide yang akan terus kemukakan sepanjang hidupnya, yakni meliputi demokrasi, humanisme, serta kapitalisme.
Marx menikah pada tahun 1843 dan segera meninggalkan Jerman untuk mencari atmosfer yang lebih liberal di Paris, Prancis. Di sana is terus menganut gagasan Hegellan, hanya saja dengan cara yang lebih praksis, seperti ekonomi dan politik-tidak berkutat pada level filsafat dan intelektual. Di sana, la juga bertemu dengan orang yang akan menjad sahabat, donatur, serta kolaborator sepanjang hidupnya, yaitu Friedrich Engels.
Karena beberapa tulisannya dianggap meresahkan pemerintah setempat, Marx diusir oleh pemerintah Prancis. Pada tahun 1845, ia memutuskan pindah ke Brussels, Belgia. Di sana, pemikiran radikalnya mulai tumbuh sejalan dengan keaktifannya sebagai anggota gerakan revolusioner internasional, la juga bergabung dengan Liga Komunis dan diminta menulis satu dokumen bersama Engels yang memaparkan tujuan dan kepercayaannya. Hasilnya adalah Communist Manifesto yang terbit pada tahun 1848. Karya monumental tersebut ditandai oleh slogan politik terkenal yang berbunyi, "Kaum pekerja di seluruh dunia, bersatulah!"
Pada tahun 1849, Marx pindah ke London. Akibat kegagalan revolusi politiknya pada tahun 1848, la mulai menarik diri dari aktivitas pergerakan dan beralih pada penelitian yang lebih serius dan terperinci tentang bekerjanya sistem kapitalis. Pada tahun 1852, ia memulai studi tentang kondisi kerja dalam sistem kapitalisme di British Museum. Studi ini akhirnya menghasilkan tiga jilid buku Das Kapital. Jilid pertamanya terbit pada tahun 1867. Adapun dua jilid berikutnya terbit setelah ia meninggal.
Karl Marx hidup miskin selama bertahun-tahun dan hampir tidak mampu bertahan hidup dengan sedikitnya pendapatan dari hasil tulisannya dan bantuan dari Engels. Pada tahun 1864, Marx terlibat dalam aktivitas politik dan bergabung dengan gerakan pekerja internasional. Namanya semakin terkenal berkat keterlibatannya dalam gerakan ini serta menghabiskan waktu beberapa tahun di dalamnya. Marx mulai meraih ketenaran, baik sebagai pemimpin gerakan tersebut maupun penulis buku Das Kapital.
Disintegrasi yang dialami gerakan ini pada tahun 1876 yang diikuti kegagalan sejumlah pergerakan revolusioner ditambah penyakit yang dideritanya menandai akhir karier Marx. Secara berturut-turut, istri Marx meninggal pada tahun 1881 dan anak perempuannya setahun kemudian. Marx sendiri meninggal pada 14 Maret 1883 (Ritzer & Goodman, 2008: 50).
Marx adalah tokoh pemikir, ekonom, sosiolog, dan juga filsuf. Gagasan Hegel, terutama dialektika menjadi dasar dari corak berpikir Marx. Universitas Berlin, yakni tempat yang membesarkan Marx secara akademik amat berpengaruh terhadap corak pemikirannya sepanjang hidupnya.
Masyarakat Kapitalis
Marx tidak pernah menyebut dirinya sebagai sosiolog. Namun, karya karyanya yang begitu luas juga mencakup sosiologi di dalamnya. Dalam studi sosiologi, Karl Marx memunculkan teori-teori seperti masyarakat kapitalis, konflik dan kelas sosial, serta perubahan sosial dan alienasi.
Salah satu teori sosiologi Marx yang paling mendasar adalah masyarakat kapitalis. Marx menawarkan teori ini berdasarkan pandangannya mengenai hakikat manusia. Marx percaya bahwa pada dasarnya manusia memiliki tabiat produktif. Artinya, untuk bertahan hidup, manusia perlu bekerja dengan cara mengolah alam. Upaya tersebut menghasilkan makanan (pangan), pakaian sandang), serta rumah atau tempat tinggal (papan). Menurut Marx, tiga kebutuhan dasar manusia tersebut harus dipenuhi sebelum yang lain.
Produktivitas adalah cara alamiah di dalam mengekspresikan dorongan kreativitas dasar manusia. Selain itu, dorongan dasar ini juga diekspresikan secara bersama-sama dengan orang lain. Artinya, hal ini menyiratkan sifat dasar manusia adalah di bidang produksi serta hidup bersosialisasi. Mereka perlu bekerja sama untuk bertahan hidup serta memenuhi setiap kebutuhan dan keinginan.
Seiring perjalanan waktu, sifat alamiah tersebut terhapus oleh sebuah sistem yang menurut Marx seharusnya bisa dicegah, yaitu kapitalisme Sistem ini lahir dari penyesuaian-penyesuaian struktur sosial modem yang menggantikan masyarakat prakapitalis atau primitif. Menurut Marx, kehancuran proses produksi terjadi dan mencapai puncaknya di era kapitalisme.
Di dalam perubahan dari masyarakat primitif menuju masyarakat kapitalis, terdapat proses dialektis yang disebut sebagai materialisme historis. Marx menggunakan konsep materialisme historis untuk menjelaskan keadaan masyarakat dari dulu sampai tiba di zaman Marx. Karena materi oleh Marx diartikan sebagai keadaan ekonomi, maka teorinya juga disebut analisis ekonomi terhadap sejarah (economic interpretation of history).
Marx mengemukakan teori materialisme historis setelah ia mendapat inspirasi dari konsep materialisme dialektis yang diusung Hegel. Dalam hal ini, Hegel menyatakan bahwa terdapat aspek-aspek berlawanan dari setiap sesuatu. Pada akhirnya, dua aspek yang berlawanan itu akan menghasilkan hal baru atau dikenal dengan istilah tesis, hipotesis, dan sintesis.
Marx memandang perkembangan dialektis terjadi terlebih dahulu dalam basis (atau struktur bawah) dari masyarakat. Hal itulah yang kemudian menggerakkan struktur atasnya. Basis dari masyarakat bersifat ekonomis dan terdiri dari dua aspek. Pertama, teknik dan alat-alat produksi. Kedua, hubungan ekonomi yang mencakup sistem hak milik serta pertukaran dan distribusi barang.
Di atas basis ekonomi, berkembang struktur atas yang terdiri dari kebudayaan, ilmu pengetahuan, konsep-konsep hukum, kesenian, agama, serta ideologi. Perubahan sosial-politik masyarakat disebabkan oleh pergeseran dalam basis ekonomi, yakni pertentangan atau kontradiksi antara kepentingan-kepentingan dengan tenaga-tenaga produktif. Adapun lokomotif perkembangan masyarakat adalah pertentangan antarkelas sosial (Budiardjo, 2003: 81).
Berdasarkan hukum dialektika Hegel, Marx juga meyakini bahwa masyarakat telah berkembang melalui beberapa tahap. Mulanya, masyarakat berperadaban primitif, yakni tidak mengenal kepemilikan. Kemudian, masyarakat berkembang menjadi kapitalis yang mengenal kepemilikan. Pada tahap inilah Marx hidup.
Marx meyakini masyarakat kapitalis adalah biang kehancuran dari sistem sosial yang ada. Hal ini disebabkan orang miskin tetap akan bertahan dengan kemiskinannya, sementara orang kaya dan kalangan pemilik modal dapat terus menikmati hidup nyaman. Masyarakat kapitalis juga menimbulkan pertentangan kelas, yakni antara kaum pekerja atau proletar dengan pemilik modal atau kaum kapitalis.
Dalam buku Das Kapital, Marx menjelaskan secara rinci betapa rumitnya hubungan borjuis dan proletar. Bahkan, kerumitan hubungan itu juga berimbas pada ketidakadilan dalam pembagian keuntungan. Teori ekonomi Karl Marx tentang nilai lebih (surplus value) menjelaskan bahwa sekeras apa pun buruh bekerja, hal itu tidak akan mampu membuatnya kaya dan sejahtera. Sebaliknya, pemilik modal yang hanya mengeluarkan sedikit keringat bisa terus menikmati hasil kerja buruh.
Ketidakadilan tersebut menurut Marx harus diubah. Masyarakat kapitalis yang disekat oleh kelas harus diruntuhkan. Sebagai gantinya perlu dibentuk masyarakat tanpa kelas. Tidak ada kepemilikan pribadi dalam masyarakat ini. Artinya, tidak ada orang miskin dan kaya, pihak yang dikuasai dan menguasai, serta kelompok yang dieksploitasi dan mengeksploitasi. Masyarakat tanpa kelas disebut juga komunisme sosialisme. Konsep inilah yang menurut Marx menjadi jawaban dari pertentangan kelas dalam masyarakat kapitalis. Komunisme-sosialisme ini sekaligus menjadi sintesis menurut logika dialektis Hegel yang dianut Marx.
Konflik dan Alienasi
Tarik ulur antarkelas merupakan inti teori Marx selanjutnya. Jika masyarakat sudah terbentuk sebagai sebuah tatanan yang kapitalis di mana di dalamnya terbentuk kelas sosial-maka saat itulah konflik antarkelas akan dimulai. Konflik tidak bisa dielakkan karena tabiat dasar manusia yang selalu bersifat produktif.
Di dalam masyarakat kapitalis, hakikat ini sama sekali tidak dihargai. Banyak manusia menempuh proses produksi, tetapi tidak mendapatkan hasil dari kerja keras masing-masing. Sistem absurd bernama kapitalisme telah merampas segala hal yang didambakan setiap manusia, yakni terpenuhinya kebutuhan serta keadaan sosial yang sehat. Semua itu digantikan dengan eksploitasi kerja kepada para buruh oleh majikan. Akibatnya, setiap buruh tidak sempat memikirkan kehidupan yang nyaman sesuai dengan hakikat kemanusiaannya.
Menurut Marx, jika manusia menempuh proses produksi dalam arti berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bernilai-maka sudah sepantasnya ia dapat menikmati jerih payahnya. Sayangnya, hal seperti itu tidak mungkin terjadi di dalam sistem kapitalisme. Apa pun yang dilakukan oleh buruh tidak bisa mereka nikmati sendiri. Terdapat penghalang antara buruh dengan sesuatu yang diproduksi. Penghalang itu tentu saja adalah sistem kapitalisme.
Selain sebagai penghalang antara individu dengan pekerjaannya, sistem kapitalisme juga menghalangi interaksi dengan orang lain. Dalam masyarakat kapitalis, harga diri individu ditentukan oleh kelasnya. Jika berasal dari kelas pekerja maka martabatnya hanya sampai di situ. Jika berasal dari kelas pemilik modal atau borjuis maka secara otomatis derajatnya tinggi. Bagi Marx, hubungan seperti ini selalu menyimpan potensi konflik yang setiap saat dapat meledak layaknya bom waktu.
Dari situasi konflik antarkelas, Marx juga mengintroduksi sebuah istilah yang masih relevan hingga kini, yaitu alienasi. Sistem kapitalis tidak hanya menciptakan penghalang antara buruh dengan pekerjaannya serta dari lingkungan sosial di sekitarnya. Lebih dari itu, kapitalisme tetapi juga elah memisahkan individu dari dirinya sendiri.
Para buruh kehilangan kebebasan individual karena telah dirampas oleh sistem yang telah melingkupinya. Mereka tidak memiliki waktu, tenaga, serta keinginan sendiri karena dipenjara oleh sistem yang diterimanya sebagai sebuah kenyataan. Padahal, menurut Marx sistem kapitalisme bisa dicegah.
Para pemilik modal yang sedikit tidak mungkin bisa menguasai kaum buruh yang jumlahnya sangat banyak, kecuali dalam sistem kapitalisme. Oleh karena itu, Marx mendorong masyarakat agar sistem itu diruntuhkan sesegara mungkin. Masyarakat kapitalis yang melahirkan kelas-kelas sosial harus segera diakhiri untuk digantikan dengan sistem yang lebih berpihak kepada kaum proletar. Sistem itu dikenal dengan sebutan komunisme. Marx sebagai seorang ilmuan sekaligus pemikir merupakan tokoh sentral kelahiran komunisme sekaligus membantu meruntuhkan kapitalisme dengan cara memupuk kesadaran antarkelas.
Di dalam pembukaan buku The Manifesto of Communist Party, Marx menyatakan, "Ada hantu yang tengah bergentayangan di Eropa, yaitu komunisme." Hantu inilah yang memang sengaja dihidupkan oleh Karl Marx. la berniat mengakhiri sistem masyarakat kapitalis yang dulu ia ciptakan sendiri. Kini, ia begitu membenci dan bertekad kuat untuk menghancurkannya.
Menurut George Ritzer (2008), Marx sebenarnya tidak terlalu terobsesi untuk mendirikan negara sosialis. la justru lebih banyak mem bantu mewujudkan keruntuhan kapitalisme. la meyakini bahwa konflik dan kontradiksi dalam kapitalisme secara dialektis akan mengarah pada kehancurannya sendiri. Namun, di sisi lain Marx juga tidak yakin proses ini dapat terjadi secara alamiah. Hal ini berlawanan dengan pemikiran Spencer dengan teori evolusinya (Ritzer & Goodman, 2008: 25).
Marx mengatakan bahwa setiap orang harus bertindak pada saat yang tepat dengan cara terbaik demi mewujudkan masyarakat komunisme sosialisme. Kapitalisme memiliki banyak sumber daya untuk menghalangi lahirnya sosialisme. Namun, semua itu dapat diatasi dengan tindakan bersama kaum proletar yang memiliki kesadaran kelas. Dalam konteks ini, apa tindakan yang seharusnya dilakukan oleh kaum proletar? Marx menjawabnya dengan revolusi. Hal ini bertentangan dengan teori sosiologi Comte dan juga Spencer. Setelah melakukan revolusi, kaum proletar akan mendirikan negara sosialisme. Pada hakikatnya, sosialisme adalah masyarakat yang paling mendekati gambaran Marx, yakni memiliki ciri-ciri tanpa kelas, kapitalisme, serta alienasi.
Itulah sketsa pemikiran Karl Marx yang sebenarnya lahir akibat kondisi sosial di masanya. Marx begitu terobsesi untuk membuktikan bahwa masyarakat kapitalis adalah penyebab dari ketimpangan sosial dan alienasi manusia. Marx menganalisis kenyataan dan struktur sosial tidak lebih dari sekadar dinamika di sekitar kegiatan produksi manusia.
Bagi Marx, kegiatan produksi (ekonomi) adalah struktur dasar atau berada di paling bawah. Adapun aspek-aspek lain seperti agama, kesenian, ilmu pengetahuan, serta ideologi berada di atasnya. Apabila struktur dasar ini hancur maka struktur di atasnya tidak akan pernah berdiri.
Marx menawarkan revolusi sebagai jalan keluar sekaligus negara sosialisme sebagai tujuannya. Setelah bertahun-tahun, tujuan yang dicita citakan menurut gambaran ideal Marx tidak pernah tercipta. Dalam titik ini maka sangat beralasan jika para pakar kemudian menyebut cita-cita Marx hanya utopia belaka.
Teori Karl Marx memang lebih banyak terfokus kepada aspek ekonomi dan politik. Namun, bukan berarti Marx tidak menyentuh pem bahasan tentang kehidupan sosial sama sekali. Marx menggunakan analisis sosial sebagai pengantar bagi teori besar ekonomi politiknya. Sekalipun posisinya dalam dunia sosiologi masih samar-samar, setidaknya Marx telah berusaha menggambarkan masyarakat sebagaimana ia yakini dan pikirkan. Hal ini tentu saja memberikan perspektif berbeda dan ikut memperkaya studi sosiologi.
Sumber:
Arisandi, Herman. 2015. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD. Hlmn : 43-50.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar