Selasa, 05 Juli 2022

Max Weber : Verstehen, Tindakan Sosial dan Kepemimpinan

Max Weber adalah sosiolog asal Jerman yang hingga kini memiliki banyak pengaruh. Di negaranya, Weber adalah tokoh yang berhasil menghidupkan sosiologi melawan dominasi pemikiran kaum Marxian yang seakan-akan menjadi kebenaran mutlak dalam dunia intelektual dan filsafat sosial. Max Weber adalah penunjuk arah perkembangan sosiologi di Jerman.


Jika Durkheim mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial maka tidak demikian dengan Weber. la memahami sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Weber mulai meninggalkan ketergantungan sosiologi terhadap ilmu alam dan memunculkan metode yang ia sebut
verstehen (memahami). Menurut Weber, sosiologi bertujuan memahami penyebab tindakan sosial mempunyai arah dan akibat tertentu.


Latar Belakang Kehidupan Max Weber
Max Weber lahir di Erfurt, Jerman, pada 21 April 1864. la berasal dari keluarga kelas menengah. Keluarganya pindah ke Berlin pada saat Weber berusia 5 tahun dan di kota itulah ia dibesarkan. Ayahnya yang bernama Max Weber Sr. adalah seorang hakim di Erfurt. Namun, ketika pindah ke Berlin, ia menjadi seorang penasihat di pemerintahan kota. Tidak hanya itu, ia juga terlibat dalam partai liberal nasional. Ayahnya sangat kuat dalam pemahaman politik karena sering berinteraksi dengan politikus Berlin. Pergaulan ini membentuk watak ayahnya sebagai seorang yang sangat kompromistis. Ayahnya juga menerapkan gaya hidup ala kaum borjuis.

Di sisi lain, ibu Max Weber yang bernama Helene Fallenstein Weber memiliki watak yang sangat berbeda dengan ayahnya. Sang ibu memiliki keyakinan akan agama Kristen Calvinis yang sangat besar. Ibunya tidak menyukai kesenangan dan kemewahan ala politikus. Sebaliknya, ia memilih jalan ascetic, yaitu hidup prihatin dan berorientasi pada kehidupan di alam lain. Ketegangan keluarga kemudian muncul ketika ayah dengan watak politikus yang kompromistis disatukan dengan kepribadian ibunya yang taat akan ajaran agama. Pada akhirnya situasi ini akan mempengaruhi orientasi intelektual Max Weber (Awal dan Adang, 2008: 35).

Karena tidak mungkin menyesuaikan diri terhadap pembawaan kedua orang tuanya yang bertolak belakang, Weber kecil berhadapan dengan pilihan sulit. Mula-mula, ia memilih orientasi hidup ayahnya, yaitu dengan mengambil kuliah jurusan hukum di Universitas Heildelberg ketika berumur 18 tahun. Saat itu, Weber sebenarnya telah menunjukkan kematangan intelektual. Namun, ketika masuk universitas, ia masih tergolong terbelakang dan pemalu dalam bergaul sekalipun juga dikenal genius. Lambat laun, sifat ini berubah ketika ia condong pada gaya hidup ayahnya serta bergabung dengan kelompok mahasiswa.

Setelah kuliah tiga semester, Weber meninggalkan Universitas Heidelberg untuk mengikuti dinas militer. Pada tahun 1884, ia kembali ke rumah orang tuanya di Berlin dan belajar di Universitas Berlin. la tetap berada di sana selama hampir 8 tahun untuk menyelesaikan studi hingga mendapat doktor, dan menjadi pengacara dan mulai mengajar di Universitas Berlin.

Sejalan dengan itu, minat Max Weber bergeser ke bidang ekonomi, sejarah, serta sosiologi yang menjadi fokus perhatian dalam sisa hidupnya. Selama delapan tahun tinggal di Berlin, kehidupan Weber masih bergantung pada ayahnya. Keadaan itu tentu sangat tidak ia sukai. waktu bersamaan, Weber beralih mengambil nilai-nilai yang diyakini ibunya. Ia lalu menempuh kehidupan secara prihatin (ascetic) dan memusatkan perhatian sepenuhnya untuk studi.

Dengan mengikuti ibunya, Weber menjalani hidup secara prihatin, rajin, dan penuh semangat dalam bekerja. Semangat kerja yang tinggi ini mengantarkan Weber menjadi profesor ekonomi di Universitas Heidelberg pada tahun 1896. Setahun kemudian, ketika karier akademik Weber sedang berkembang, ayahnya meninggal dunia. Tak lama berselang, Weber mulai menunjukkan gejala gangguan saraf yang memuncak. la sering tidak bisa tidur dan bekerja. Enam atau tujuh tahun berikutnya dilalui dalam keadaan mendekati kehancuran total. Setelah masa nonproduktif yang panjang, sebagian kekuatannya mulai pulih pada tahun 1903. Setahun kemudian, ia memberikan kuliah pertamanya di Amerika Serikat dan bertahan di sana selama lebih dari enam tahun. Ia pun kembali aktif dalam dunia akademis.

Pada tahun 1904, Max Weber menerbitkan salah satu karya terbaiknya berjudul The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Di dalam karya ini, Weber mengumumkan besarnya pengaruh agama ibunya di tingkat akademis. Weber banyak menghabiskan waktu untuk belajar agama. Padahal, secara pribadi ia mengaku tidak religius.

Meski terus diganggu oleh masalah psikologis, setelah 1904 Weber mampu menghasilkan beberapa karya yang sangat penting. la menerbitkan hasil studinya tentang agama dalam perspektif sejarah dunia, di antaranya Tiongkok, India, dan agama Yahudi kuno. Menjelang kematiannya, ia menulis karya yang sangat penting berjudul Economy and Society. Meskipun buku ini diterbitkan dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, sebenarnya karya ini belum selesai.

Selain menulis berbagai buku, Weber juga melakukan sejumlah kegiatan lain. la membantu mendirikan German Sociological Society pada tahun 1910. Rumahnya dijadikan pusat pertemuan para pakar berbagai cabang ilmu, termasuk sosiologi. la pernah berinteraksi dengan tokoh tokoh seperti Georg Simmel, Alfred, serta filsuf dan kritikus sastra Georg Lukacs (Ritzer & Goodman, 2008: 124-125).

Ada ketegangan dalam kehidupan Weber dan karya-karyanya. Ketegangan yang utama berhubungan dengan pemikiran birokratis yang ditunjukkan oleh ayahnya serta perasaan keagamaan ibunya. Ketegangan yang tak terselesaikan ini meresap di dalam karya-karya Weber dan kehidupan pribadinya. Max Weber meninggal pada 14 Juni 1920 dan dimakamkan di Munich, Jerman.


Arti Penting Verstehen dalam Sosiologi Weber
Jika dibandingkan dengan Emile Durkheim, pemikiran Max Weber tergolong lebih luas. Weber adalah tokoh yang mempelajari sosiologi melalui pintu sejarah. Baginya, sosiologi adalah suatu kenyataan sejarah. Oleh karena itu, ia mendorong setiap sosiolog hendaknya memahami sejarah dengan baik.

Sebenarnya, karier intelektual Weber dimulai dari ilmu hukum, sebagaimana orientasi ayahnya. Namun, setelah fase intelektualnya mulai matang, ia mengalihkan minat pada ilmu sejarah serta mulai menerapkan cara hidup seperti ibunya. Disertasi doktoral Weber merupakan studi historis tentang zaman pertengahan dan Romawi. Namun, setelah itu ia mulai mengabdikan diri sepenuhnya pada sosiologi. Hal ini ditandai dengan terbitnya buku Economy and Society pada tahun 1909.

Ketika beralih ke bidang sosiologi yang relatif baru, Weber berusaha mengklarifikasi keilmuannya, terutama hubungan antara sosiologi dengan sejarah. Weber berpendapat setiap ilmu sosial harus saling terkait antara satu dengan yang lain. Bagi Weber, sosiologi dan sejarah adalah ilmu yang saling membutuhkan. Oleh karena itu, metode yang digunakan oleh Weber adalah berusaha menggabungkan dua ranah keilmuan tersebut.

Max Weber memberi ciri khas dan keistimewaan sosiologi dibanding ilmu-ilmu lain. Menurutnya, sosiolog adalah orang yang memiliki kelebihan dibanding ilmuwan lain, terutama ilmu alam. Para ahli sosiologi adalah orang yang bisa memahami atau oleh Weber disebut verstehen. Dalam konteks ini, versetehen adalah kata dari bahasa Jerman yang artinya kurang lebih adalah pemahaman mendalam (indepth).

Melalui teori tersebut, Weber seolah ingin menegaskan perbedaan studi sosiologi dengan ilmu-ilmu alam. Jika ilmu alam selalu diliputi dengan seperangkat aturan ketat, objektif, dan impersonal, maka sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang melibatkan insight dari pelakunya. Oleh karena itu, selain memiliki aspek objektifitas, sosiologi juga diliputi oleh aspek verstehen dari si peneliti.

Versetehen kerap diartikan sekadar subjektivisme irasional peneliti sebagai sebuah metode analisis individu ataupun sosial. Namun, sebenarnya hal yang dimaksud Weber bukan itu. Ia menganggap setiap aktor sosial dan peneliti sosiologi harus memahami terlebih dahulu objek dan konteks yang meliputinya. Alih-alih mengatakan bahwa versetehen dianggap sebagai metode analisis yang lunak, prosedur tersebut justru tergolong ketat dan rasional.

Mengapa sosiologi harus dikaji menggunakan metode verstehen? Max Weber menjawabnya dengan jelas bahwa hal itu disebabkan objek sosiologi bukanlah benda mati sebagaimana ilmu-ilmu alam. Objek studi sosiologi adalah sesuatu yang sangat dinamis dan interaktif. Dengan demikian, verstehen dimaksudkan untuk menemukan makna-makna terdalam dan intersubjektif dari tindakan-tindakan sosial.

Untuk sampai pada pengertian mendalam yang diperlukan oleh ilmu ilmu sosial, misalnya tentang para martir keagamaan, hal itu harus dipahami dari pengertian para martir tersebut. Agar dapat memahami sedalam-dalamnya para martir tersebut sekaligus melegitimasi tindakan mereka dalam ruang lingkup sosial budaya, maka Weber mengharuskan peneliti membayangkan dirinya sebagai martir tersebut. Jika tidak demikian maka dapat diganti dengan menciptakan kembali situasi psikologis para martir tersebut (Suriasumantri, 2006: 145).

Ini merupakan perspektif dan metode dalam level individu atau mikro. Sementara itu, untuk level makro atau budaya, maka setiap peneliti yang ingin memahami karakteristik suatu budaya tidak memiliki pilihan selain terlibat dan mengenali konteks kebudayaan itu sendiri. Bagi Weber, cara tersebut bukan saja akan menghasilkan kebenaran, tetapi juga jalan satu satunya untuk menyingkap hakikat dalam ruang lingkup ilmu-ilmu sosial. Jika kita sekarang kerap mendengar atau bahkan pernah mempraktikkan sesuatu yang disebut metode penelitian kualitatif, maka konsep verstehen adalah cikal bakal dari metode tersebut.


Tindakan Sosial Penuh Makna
Teori tindakan sosial merupakan salah satu ide penting yang dilontarkan Max Weber. Baginya, tidak semua tindakan sosial harus diteliti dan layak dijadikan objek kajian sosiologi. Sebab, hanya tindakan sosial bermakna (meaningful action) yang dianggap penting oleh Weber. Tindakan sosial yang penuh makna melewati serangkaian proses berpikir dan dilakukan secara sadar, bukan sekadar respons dari stimulus.

Dengan demikian, tindakan sosial setidaknya dapat dibagi dua. Pertama, tindakan sosial yang bermakna. Kedua, tindakan spontan dan reaktif. Namun demikian, tindakan yang kedua tidak lagi disebut sebagai tindakan sosial karena hanya sekadar reaksi atau respons dari stimulus. Tindakan semacam itu tidak menarik untuk dikaji Weber dalam sosiologi.

Contoh tindakan sosial penuh makna adalah perilaku ekonomi yang dilakukan secara sadar, penuh perhitungan, serta didasari tujuan jelas. Sementara itu, perilaku yang bukan termasuk tindakan sosial misalnya pengendara sepeda motor yang ramai-ramai berhenti di pinggir jalan karena melihat kecelakaan lalu lintas.

Bagaimana menentukan suatu tindakan itu penuh makna atau tidak berarti sama sekali? Setiap perilaku atau tindakan yang lahir secara otomatis karena disebabkan oleh suatu stimulus bukanlah tindakan sosial. Sebab, pada hakikatnya tindakan itu hanya sekadar respons dari stimulus. Pengendara sepeda motor berhenti di tepi jalan hanya karena ada stimulus, yaitu kecelakaan lalu lintas. Sebaliknya, perilaku yang disebabkan oleh stimulus, tetapi membutuhkan proses berpikir disebut tindakan sosial yang penuh makna.

Selanjutnya, teori tindakan sosial ini dibagi lagi menjadi empat. Perhatikan uraian berikut ini.

1. Tindakan Rasionalitas Instrumental
Tindakan sosial ini dilakukan seseorang berdasarkan pertimbangan dan pilihan sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan serta ketersediaan alat yang digunakan untuk mencapainya. Sebagai contoh, seorang siswa sering terlambat datang ke sekolah akibat tidak memiliki alat transportasi. Akhirnya, ia membeli sepeda motor agar dapat tiba di sekolah lebih awal dan tidak terlambat. Tindakan ini telah dipertimbang kan dengan matang agar ia mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain, pelaku menilai dan menentukan tujuan. Selain itu, bisa saja tindakan itu dijadikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain.

2. Tindakan Rasional Nilai
Tindakan rasional nilai memiliki sifat bahwa alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan sadar. Sementara itu, tujuan-tujuannya sudah ada di dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat mutlak. Contoh tindakan rasional nilai adalah perilaku seseorang yang memberi tempat duduk kepada penumpang yang sudah lanjut usia. Artinya, tindakan sosial ini telah dipertimbangkan terlebih dahulu karena mendahulukan nilai-nilai sosial ataupun agama yang ia anut.

3. Tindakan Afektif
Tipe tindakan sosial ini lebih didominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual serta perencanaan sadar. Tindakan afektif bersifat spontan, tidak rasional, serta tergolong ekspresi emosional dari individu. Contoh tindakan afektif adalah hubungan kasih sayang antara dua remaja yang sedang jatuh cinta atau dimabuk asmara. Tindakan ini biasanya terjadi atas rangsangan dari luar yang sifatnya otomatis. Tindakan afektif paling sedikit mendapat perhatian dari konsep sosiologi Max Weber.

4. Tindakan Tradisional
Dalam tindakan jenis ini, seseorang memperlihatkan perilaku tertentu karena kebiasaan yang diperoleh dari nenek moyang. Perilaku ini tidak diiringi refleksi secara sadar atau perencanaan. Tindakan pulang ke kampung halaman (mudik) sewaktu lebaran adalah contoh yang tepat untuk menggambarkan jenis tindakan ini (Zeitlin, 1995 : 65).

Salah satu sumbangan penting Max Weber dalam studi sosiolog adalah penjelasan tentang kepemimpinan atau kekuasaan. Menurut Weber, kekuasaan atau kepemimpinan adalah probabilitas suatu perintah tertentu yang akan dipenuhi oleh sekelompok orang (Ritzer & Goodman, 2008: 140). Weber menyebut kepemimpinan dengan kekuasaan atau dominasi dalam pengertian kemampuan untuk mempengaruhi tindakan dan pikiran.

Di dalam buku Economic and Society (1920), Weber membagi kepemimpinan atau kekuasaan menjadi tiga jenis, yaitu kepemimpinan rasional atau legal, tradisional, serta berdasarkan kharisma. Urutan tersebut menunjukkan arti penting kepemimpinan menurut Weber. Kepemimpinan yang disebut pertama merupakan yang terkuat. Adapun kepemimpinan yang disebut terakhir paling lemah. Perhatikan uraian selengkapnya berikut ini.

1. Kepemimpinan Legal
Weber menyebut kepemimpinan rasional atau legal sebagai kekuasaan dengan tingkat legitimasi paling kuat. Hal ini disebabkan kepemimpinan ini didasarkan pada aturan tertulis dan hak penguasa diakui secara legal untuk memberikan perintah. Kekuasaan tipe ini disebut juga otoritas. Contoh paling ideal untuk tipe kekuasaan ini adalah birokrasi. Jika dicermati maka birokrasi merupakan sebuah sistem sedangkan birokrat adalah individu individu yang menggerakkannya.

Bagi Weber, birokratisasi merupakan kepemimpinan ideal yang sangat penting dan paling mendekati sempurna. Weber bahkan tercengang dengan struktur kepemimpinan birokratis karena bisa sangat memaksa dan terstruktur dengan baik. Sistem yang menyusun kepemimpinan tipe ini sangat kuat, rasional, hierarkis, masif, serta paling dapat diandalkan untuk menjaga sebuah otoritas.

Di dalam kepemimpinan legal terdapat struktur, fungsi, dokumen tertulis dan peraturan yang memaksa sehingga membuat segala aspek menjadi teratur. Hal inilah yang menjadikannya paling efisien dan efektif dibanding tipe-tipe kepemimpinan yang lain. Suatu tugas berat bisa cepat diselesaikan dengan perencanaan, pembagian kerja, serta pengelolaan yang mungkin dilakukan dalam tipe kepemimpinan ini. Tidak hanya itu, dari tipe kepemimpinan yang rasional ini pula ilmu manajemen hadir.

Jika orang lain masih banyak memandang birokrasi secara negatif maka tidak demikian dengan Weber. Menurutnya, birokrasi adalah salah satu struktur yang memainkan peran begitu luas dalam masyarakat modern. Secara tegas, Weber juga menutup kemungkinan tipe ke pemimpinan lain untuk mengatur kehidupan masyarakat di era modern yang serba kompleks.

2. Kepemimpinan Tradisional
Jika otoritas legal tumbuh dari legitimasi sistem rasional dan resmi (birokrasi) maka kepemimpinan tradisional didasarkan pada klaim pemimpin dan keyakinan para pengikutnya. Kepemimpinan tradisional berbeda dengan otoritas legal dalam hal ketiadaan sistem aturan dan organisasi struktural. Contoh kepemimpinan tradisional adalah pemimpin suatu klan yang tidak memiliki sistem dan struktur formal.

Di dalam kepemimpinan tradisional memang terdapat staf atau pembantu. Namun, hubungan antara pembantu dengan pemimpinnya tidak impersonal dan objektif sebagaimana otoritas birokrasi. Meskipun begitu, pembantu atau bawahan dalam kepemimpinan tradisional tetap loyal kepada pemimpinnya karena sudah dipercaya oleh tradisi setempat menempati posisi itu. Begitu pula hubungan antara staf atau pembantu dalam kepemimpinan ini tidak jelas apakah berdasarkan kemampuan atau kedekatan subjektif. Dalam hal ini, kepemimpinan tradisional dapat dimiliki oleh seseorang ataupun kelompok. Dengan kata lain, kepemimpinan dapat dimiliki oleh orang-orang yang menjadi anggota kelompok.

Ciri khas dari kepemimpinan tradisional adalah kenyataan bahwa satu atau sekelompok orang menjadi pemimpin bukan karena memiliki kemampuan khusus seperti pada otoritas legal. Namun, kekuasaan dan wewenang tersebut telah mengakar dan bahkan menjiwai masyarakat. Semakin lama golongan tersebut memegang tampuk kekuasaan, masyarakat kian percaya dan mengakui kepemimpinannya.

Ada beberapa ciri dari kepemimpinan tradisional, sebagaimana diuraikan berikut ini.
a. Adanya ketentuan-ketentuan turun-temurun yang mengikat sang pemimpin serta orang-orang lainnya di dalam masyarakat.
b. Adanya wewenang lebih tinggi daripada kedudukan seseorang yang hadir secara pribadi.
c. Selama tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan tradisional, setiap orang dapat bertindak secara bebas. Sebagai contoh dari kepemimpinan ini adalah kekuasaan yang dimiliki oleh para pemuka adat. Jenis kekuasaan diterima dipercayai secara turun-temurun.

Itulah ciri-ciri kepemimpinan tradisional menurut Max Weber. Kritik Weber terhadap tipe kepemimpinan ini adalah daya hambat yang besar terhadap rasionalitas. Promosi dari individu-individu yang memiliki kemampuan lebih memasuki lingkaran kepemimpinan tradisional juga sangat tidak dimungkinkan. Sebab, hubungan kepemimpinan tradisional dengan kemampuan individu sangat lemah, kalau memang tidak mau menyebutnya tidak ada.

3. Kepemimpinan berdasarkan Karisma
Tipe kepemimpinan yang terakhir menurut Weber didasarkan pada karisma. Dalam hal ini, kepemimpinan diberikan kepada seseorang yang memiliki kemampuan atau keunggulan di banding yang lain. Menurut Max Weber, kepemimpinan karismatik didapat oleh seseorang yang begitu luar biasa sehingga perintah dan perkataannya dapat mempengaruhi sekelompok orang. Jabatan dalam kepemimpinan karismatik-jika memang ada-tidak dipilih sebagaimana otoritas legal. Jabatan yang mereka duduki juga tidak menciptakan hierarki yang jelas. Kerja mereka tidak mengenal jenjang karier dan promosi karena semuanya dilakukan dan terpusat kepada sang pemimpin karismatik.

Menurut Weber, ketika pemimpin karismatik itu mati, maka bahaya kehancuran kelompok menjadi ancaman serius. Weber kemudian menyatakan bahwa sistem ini sangat rentan dan bergantung pada pemimpinnya (Ritzer & Goodman, 2008: 146). Karena itulah setiap staf atau pembantu dalam kelompok kepemimpinan karismatik harus bisa mencari pengganti sebelum sang pemimpin meninggal. Dengan kata lain, mereka harus melakukan regenerasi kepemimpinan. Jika kemampuan dan keistimewaan yang dimiliki sama maka peluang untuk berhasil lebih besar. Sebaliknya, jika tidak ditemukan pengganti maka organisasi yang dipimpin oleh sosok karismatik akan berakhir.

Itulah beberapa pokok pemikiran Max Weber dalam bidang sosiologi. Weber tidak hanya berhasil melepaskan sosiologi dari bayang-bayang teori sosial-ekonomi Karl Marx, tetapi juga mampu mengawinkan sosiologi dengan sejarah menjadi sebuah teori sosial yang lebih komprehensif. Sebagai orang Jerman yang lahir pada masa di mana pemikiran Marx tersebar luas, Weber tidak bisa menghindar untuk ikut terpengaruh dengan ide-ide tokoh kaum proletar tersebut. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kontribusi penting Weber bagi ilmu sosiologi.



Sumber:
Arisandi, Herman. 2015. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-Tokoh Sosiologi dari Klasik Sampai Modern. Yogyakarta: IRCiSoD. Hlmn : 61-71.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar